30 Tahun Ma’had Aly Situbondo; Sebuah Catatan Sejarah

Proses Berdirinya Ma’had Aly; Campur Tangan Ulama Nusantara dan Timur Tengah.

Oleh: Syarifuddin
(Redaktur Penulisan Majalah Tanwirul Afkar)

Saat ini Ma’had Aly Situbondo telah memasuki usia 30 tahun. Tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana dan apa saja sumbangsihnya, baik dalam kehidupan praktis bermasyarakat maupun dalam aspek penguatan pemikiran moderat dan sehat yang memang menjadi konsentrasi kajiannya sejak pertama kali didirikan.

Namun, tahukah anda, bagaiman proses berdirinya Ma’had Aly Situbondo sehingga menjadi seperti yang anda lihat hari ini.

Proses pendirian Ma’had Aly Situbondo tidak hanya memakan banyak waktu dan forum, namun juga banyak melibatkan ulama. Dan ulama yang terlibat didalamnya pun bukan hanya ulama lokal Nusantara, namun juga ulama timur tengah yang berada di seberang sana.

Sekurang-kurangnya ada empat tahapan forum yang dijadikan sarana untuk membicarakan perihal pendirian Ma’had Aly Situbondo.

Pertama, forum lokal. Forum tersebut dilaksanakan di kediaman Kiai As’ad sendiri pada tahun 1989, bertepatan dengan palaksanaan haul KHR. Syamsul Arifin bin Ruham, ayahanda Kiai As’ad.

Dalam forum tersebut Kiai As’ad dan beberapa kiai lainnya yang berasal dari berbagai daerah menyampaikan kegelisahannya terkait merosotnya kualitas pesantren dan kelangkaan fuqaha’ pada saat itu. Untuk menjawab kegelisahan tersebut maka Kiai As’ad dan kiai lainnya yang hadir pada saat itu bersepakat untuk mendirikan sebuah lembaga khusus yang mempelajari dan mengkaji kitab-kitab salaf.

Maka, kemudian -dalam forum ini juga- dibentuklah tim kecil untuk mengawal mufakat para kiai tersebut untuk mendirikan lembaga khusus yang konsentrasi mempelajari dan mengkaji kitab-kitab salaf. Tim tersebut antara lain terdiri dari.

  1. Alm. KH. Hasan Basri, Lc. (Situbondo) sebagai Ketua Tim.
  2. Alm. KH. A. Wahid Zaini, SH. (Probolinggo) sebagai anggota.
  3. Alm. KH. Yusuf Muhammad, LLM. (Jember) sebagai anggota.
  4. Alm. KH. Nadhir Muhammad (Jember) sebagai anggota.
  5. KH. Khatib Habibullah (Banyuwangi) sebagai anggota.
  6. KH. Afifuddin Muhajir (Situbondo) sebagai anggota.

Setelah mendengar gagasan demi gagasan yang disampaikan oleh para kiai dalam forum lokal tersebut maka Tim Kecil yang diketuai oleh Alm. KH. Hasan Basri, Lc. langsung menyusun beberapa langkah teknis yang lebih kongkret untuk pendirian lembaga khusus tersebut. Perlu diketahui, dalam forum lokal ini masih belum ditentukan lembaga tersebut akan diberi nama apa.

Kedua, forum regional. Forum regional merupakan tindak lanjut atas gagasan yang sudah disepakati dalam pertemuan sebelumnya (forum lokal). Pertemuan tersebut dilaksanakan di kediaman KH. Khatib Habibullah, Glenmore, Banyuwangi. Perihal yang menjadi topik pembahasan dalam pertemuan tersebut antara lain meliputi tentang penyusunan draft silabi, tenaga edukatif dan beberapa perangkat dasar lain yang dibutuhkan. Setelah beberapa hal tersebut rampung dikaji dan diskusikan maka para kiai yang tergabung dalam Tim Kecil tersebut pun mantap untuk mempublikasikan recana pendirian Ma’had Aly ke level forum yang lebih luas, yakni forum nasional.

Ketiga, forum nasional. Disebut forum nasional karena ada sekitar delapan puluh kiai berasal dari berbagai penjuru nusantara yang dilibatkan dalam forum tersebut. Sebagian diantaranya adalah KH. Ali Yafie (Jakarta), KH. M.A. Sahal Mahfudz (Pati), KH. Rodi Sholeh (Jepara), KH. M. Tholhah Hasan (Malang), KH. A. Aziz Masyhuri (Jombang), KH. Ali Hasan Ad-Dariy An-Nahdi (Sumatera), dan lain-lain. Adapun forum yang mewadahi pertemuan tersebut adalah RMI Pusat yang pada saat itu dipimpin oleh Alm. KH. A. Wahid Zaini.

Dalam forum tersebut KH. Hariri Abdul Adhim dan H. Zahrawi Musa yang bertindak sebagai delegasi Tim Kecil menyampaikan draft kurikulum yang sudah dikaji dan diskusikan di forum-forum sebelumnya.

Presentasi yang disampaikan oleh delegasi Tim Kecil terkait pendirian lembaga khusus yang mempelajari dan mengkaji kitab-kitab salaf (Ma’had Aly) disambut baik oleh para kiai yang hadir pada saat itu. Akhirnya, apa yang disampaikan oleh Tim Kecil ditindaklanjuti dan dibahas kembali secara mendalam oleh kiai-kiai yang hadir pada saat itu selama dua hari-dua malam.

Dari pembahasan yang dilakukan lahirlah beberapa rumusan untuk pendirian Ma’had Aly kedepan. Sebagian rumusan yang lahir dari forum itu antara lain adalah tentang AD/ART Ma’had Aly, kurikulum Ma’had Aly dan pokok-pokok pemikiran tentang pengembangan fikih dan ushul fikih yang akan diterapkan di Ma’had Aly ke depan. Selain itu, forum tersebut juga merekomendasikan agar pendirian lembaga tersebut dipusatkan di PP.Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dan perlu diketahui, melalui forum ini pula lah “Ma’had Aly” disepakati sebagai nama bagi lembaga yang baru lahir ini.

Selang beberapa hari, Tim Kecil yang terlibat dalam forum nasional itu menyampaikan kepada Kiai As’ad bahwa para kiai sudah setuju dan merestui inisiatif pendirian Ma’had Aly.

Menerima laporan tersebut Kiai As’ad tidak langsung serta merta mengambil keputusan untuk mendirikan dan membuka Ma’had Aly. Kiai As’ad justru memerintahkan Tim Kecil untuk melakukan proses lagi, yakni mendatangi dan meminta restu kepada kiai-kiai sepuh yang pada saat itu berhalangan hadir dalam forum nasional. Kiai-kiai sepuh yang kemudian didatangi oleh Tim Kecil untuk dimantai restunya antara lain adalah KH. Mahrus Ali dan Kiai Ali Maksum, Krapyak. Sama seperti kiai-kiai sebelumya, kiai KH. Mahrus Ali dan Kiai Aly Maksum sangat satuju atas inisitaif Kiai As’ad untuk mendirikan Ma’had Aly.

Bahkan kiai Aly Maksum memberi komentar singkat atas draft pendirian Ma’had Aly yang disodorkan kepadanya, “kalau begitu Kiai As’ad akan mencetak Ketua Syuriah NU mulai tahun 2000-an”, kata Kiai Aly Maksum kepada anggota Tim Kecil.

Tidak hanya sampai disitu, untuk memantapkan ikhtiyar yang sudah dilakukannya bersama para kiai di tanah air, Kiai As’ad mengutus Alm. KH. Nadhir Muhammad dan Alm. KH. Yusuf Muhammad untuk meminta restu dan pengesahan kurikulum yang akan di terapkan di Ma’had Aly kepada tiga ulama besar yang bermukim di tanah suci Mekkah Al-Mukarromah,

  1. Alm. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani.
  2. Alm. Syaikh Yasin Isa Al-Fadani.
  3. Alm. Syaikh Isma’il bin Ustman Al-Yamani.

Setelah draft pendirian Ma’had Aly sampai di tangan ketiga ulama tersebut dilakukanlah beberapa koreksi dan kemudian direstui untuk diterapkan di Ma’had Aly. Tidak hanya sekedar merestui ketiga ulama tersebut juga menaruh harapan bagaimana kedepannya Ma’had Aly bisa menjadi lembaga yang konsisten melahirkan manusia dengan kualitas ilmu agama yang benar-benar mumpuni.

Bahkan lebih dari itu, Syaikh Yasin Isa Al-Fadani mengusulkan agar Ma’had Aly merekrut 500 peserta didik di setiap tahunnya. Tapi sayang, keterbatasan sarana prasaran membuat usulan tersebut masih belum pernah bisa diwujudkan sampai saat ini.

Singkat cerita, dua kurir yang di utus oleh Kiai As’ad akhirnya kembali ke tanah air. Begitu telah menghadap kiai as’ad, dua kurir tersebut menyampaikan secara rinci kepada Kiai As’ad perihal restu dan pengesahan yang dilakukan oleh tiga ulama terkemuka di Mekkah Al-Mukarromah.

Mendengar penuturan dari dua utusannya itu, seketika Kiai As’ad langsung berdawuh “mon de’ iyye tade’ burungnga mukka’ Ma’had Aly”. Akhirnya pada tanggal 21 tahun 1990 dibukalah Ma’had Aly secara resmi dengan nama lengkap Al-Ma’had Al-‘Aly Lil ‘Ulum Al-Islamiyah Qism Al-Fiqh.

Tulisan ini disarikan dari:

  • Wawancara Bersama KH. Afifuddin Muhajir.
  • Wawancara Bersama KH. Hasan Basri, Lc.
  • Wawancara Bersama Dr. KH. Muhyiddin Khatib, MHI.
  • Buku ‘Membangun Islam Tengah’.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *