5 Makna New Normal Ala Pesantren Menurut Asosiasi Ma’had Aly Indonesia

Dalam salah satu butir pernyataan sikap Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) merespons pemberlakuan New Normal ditegaskan, New Normal, sebagai tahapan lanjut dari cara menghalau laju penularan Covid-19, bagi pesantren harus disikapi dengan cara pandang, pola pikir, dan perilaku sarta tradisi pesantren. Oleh karena itu, disepakati perlunya dirumuskan pemaknaan ‘New Normal Ala Pesantren.’”

Lantas, bagaimana pesantren memaknai New Normal? Berikut adalah 5 makna New Normal ala pesantren yang berhasil disimpulkan dari Halal bi Halal dan Webinar AMALI bertajuk “Memaknai New Normal Ala Pesantren”

Pertama, New Normal bagi Pesantren dimaknai sebagai momentum untuk muhasabah, mujahadah, dan muraqabah. New Normal sebagai momentum untuk mengevaluasi diri terhadap apa pun yang telah dilakukan, baik hubungan vertikal kepada Allah, maupun hubungan horizontal kepada sesama manusia dan kepada lingkungan sekitar.

New Normal juga sebagai momentum untuk berusaha secara optimal untuk menundukkan hawa nafsu serta kepentingan-kepentingan rendahan dan sesaat, dan bersungguh-sungguh terhadap apa pun yang akan dilakukan ke depan hanya dalam rangka menggapai ridla Allah. New Normal sebagai momentum pula untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada masyarakat. Dengan demikian pesantren akan menjadi role-model bagi yang lain.

Kedua, New Normal bagi Pesantren dimaknai sebagai momentum untuk tajdidul iman, memperbaharui keimanan, kembali hidup dengan konsisten mengikuti seluruh ajaran Nabi, termasuk ajaran hidup bersih dan sehat ala Nabi. Dengan demikian, pesantren bisa melanjutkan peran dan fungsinya sebagai tempat talaqqiy, tempat bertemu muka antara santri dengan para kyai dan ustadz, dan tempat ta’assiy, tempat santri meneladani perilaku para kyai dan ustadz, dengan dikawal oleh protokol kesehatan yang ketat dan terukur sehingga ikhtiyar dan tawakkal dapat disinergikan.

Ketiga, New Normal bagi Pesantren dimaknai sebagai momentum untuk membiasakan pola hidup higienis, sehat, dan bersih, yang sebenarnya pesantren telah memiliki perangkat lunak yang berupa ajaran Islam yang paripurna, serta membiasakan mengkonsumsi makanan halalan thayyiban dan membiasakan pola olahraga dan istirahat yang cukup untuk menjaga imunitas tubuh.

Keempat, New Normal bagi Pesantren dimaknai sebagai momentum untuk mengembalikan pesantren tidak hanya sebagai agen perbaikan moral, agen transformasi ilmu pengetahuan Islam (tafaqquh fiddin), agen pengembangan soasial, agen peningkatan ekonomi, melainkan juga sebagai agen kesehatan masyarakat.

Kelima, New Normal bagi Pesantren dimaknai sebagai momentum pemerintah untuk tidak memandang sebelah mata dan tidak menganak tirikan pesantren, melainkan pemerintah harus hadir dan memberikan perhatian serta kepedulian yang penuh dan utuh sebagaimana yang selama ini pemerintah lakukan terhadap warga masyarakat yang lain, tidak lebih dan tidak kurang.

Unduh PDF Kesimpulan Kesimpulan Webinar Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali), 5 Juni 2020 “Memaknai New Normal Ala Pesantren”: https://drive.google.com/file/d/1kmOUuni1yv0SIHD1iOo7YI7o1RDxL9i0/view?usp=drivesdk

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *