Akhwat Tangguh

Oleh: Fina Lailatul Masruroh

(Mahasantri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah)

 

Aku adalah wanita,

Yang diciptakan dengan fisik lemah lembut,

Sempat aku berfikir

“Ah, Indahnya menjadi adam

yang kekar dan tampak tangguh”

Namun Tuhan segera mengingatkan

Bahwa yang harus tangguh itu adalah jiwa,

hati dan akalku, bukan fisikku…

****

Andila, gadis manis dan cantik seandainya dia benar-benar menjadi perempuan. Dan tentu kecantikannya akan melebihi Shafa yang sekarang sedang booming sebagai muslimah tercantik di kampus. Sayangnya, Andila sering kali berpenampilan seperti laki-laki. Rambutnya dicepak gak karuan, sandalnya hitam legam dan lebar seperti milik kakak laki-lakiku, ditangan kanan kirinya gelang-gelang hitam melingkar, menakutkan. Dia ditakuti banyak orang gara-gara wajahnya yang sangar, dan cara berjalannya lebar-lebar, tak beraturan. Pakaiannya? Jangan tanyakan. Sudah lama dia membuka jilbab, dan memilih berpenampilan seperti laki-laki setiap saat. Ketika ada taruhan, dia sering berada dibarisan paling depan, dan walau sering kalah, dia tetap tidak jera kembali ikut taruhan di bulan berikutnya. Ketika aku bertanya, kenapa dia begitu, jawabannya simple : Aku tak ingin jadi orang yang lemah, orang yang lemah gampang diremehkan. Aku ingin tangguh seperti laki-laki, aku ingin dianggap pahlawan bagi mereka. Lagi pula jadi laki-laki itu keren, dia punya fisik yang kekar dan akan gampang mengalahkan orang lain…

Aku tersenyum, dan mengingatkannya: “An, sebagai perempuan, yang harus kamu tangguhkan adalah jiwamu, bukan fisikmu…”

****

Tentang wanita-wanita seperti Andila, yang sangat terobsesi menjelma sebagai laki-laki, tentu juga banyak terjadi di sekeliling kita. Tak sedikit akhwat yang potong rambut bak laki-laki agar bisa bergelar “cewek tomboy”. Tak sedikit juga yang penampilannya menyerupai ikhwan, menggunakan sarung, berbaju hem, bergelang hitam selusin, lalu berjalan lebarlebar seperti laki-laki. Namun tetap saja yang tampak dari mereka adalah “kelaki-lakian yang gagal”.

Sebenarnya salah satu faktor yang memotori mereka berperilaku dan berpenampilan demikian adalah karena lingkungan yang mereka tempati seluruhnya adalah wanita. Sehingga mereka ingin dianggap sebagai orang yang berbeda, ingin dianggap jadi perempuan yang tangguh bak laki-laki, ingin mendapat pengakuan bahwa “Aku loh ganteng, walaupun cewek” hahahaha…(bisa-bisa ntar ada film Cewek-Cewek Kegantengan). Dan biasanya lagi, wanita-wanita yang ganteng itu banyak idolanya. Wuih! Makin ketagihan deh, pengen jadi cewek ganteng!

Sahabat-sahabatku, coba kita menapak tilasi sejarah sahabat-sahabat wanita yang tangguh di masa Rasulullah. Kalian ingat tentang sayyidatina Khodijah, bukan? Beliau adalah salah satu istri nabi yang tidak pernah dipoligami hingga akhir hayatnya. Khodijahlah, wanita yang selalu ada di sisi Rasulullah di awal masa perjuangan Islam. Khodijahlah yang menghibur, men-support, dan meneguhkan hati Nabi agar terus berjuang membela agama Allah. Betapapun orang-orang kafir kala itu sering mengancam untuk membunuh nabi. Bayangkan saja jika Khodijah sendiri tidak memiliki keteguhan jiwa, lalu bagaimana mungkin dia bisa meneguhkan hati Rasulullah, sang suami? Selain memotivasi rasulullah, beliau juga merupakan motivator kaum muslimin ketika mereka diancam atau disakiti oleh orang-orang kafir.

Lain Khodijah, lain pula Aisyah. Beliau adalah salah satu istri nabi yang mendapat julukan “Humaira”, yaitu wanita yang pipinya kemerah-merahan. Aisyah merupakan salah satu wanita tangguh, baik ketika Rasulullah masih ada maupun ketika dia telah ditinggal oleh kekasihnya itu. Sang Humaira selalu berusaha meringankan keletihan Rasulullah dengan menceritakan kisah dan mendendangkan puisi-puisi. Dan Aisyah selalu berhasil membuat Rasulullah terhibur. Selain itu, Aisyah juga sosok yang cerdas. Dia-lah orang yang paling banyak meriwayatkan hadis nabi dari golongan perempuan. Sayyidatina Aisyah juga pernah memimpin sebuah peperangan, yakni perang Jamal. Selain Khodijah dan Aisyah, ada juga Asma, putri Abu Bakar asShiddiq. Motivator Aisyah satu ini, juga memiliki ketangguhan hati yang luar biasa. Hingga Aisyah pernah membuat satu ungkapan tentangnya “Asma adalah sosok yang pengertian, lembut dan berwibawa. Meski berada dalam tungku dengan api terpanas di dunia, dia akan keluar tanpa luka satu goresanpun dari kobarankobaran api itu. Kakakku adalah koin emas dengan harga sangat tinggi. Dia pendiam dan penuh semangat”. Dan masih banyak lagi wanita-wanita tangguh lainnya. Seperti Siti Maryam ibunda Isa, Asiyah istri Firaun, Fatimah az-Zahra putri nabi, dan lain sebagainya.

Mereka adalah wanita-wanita yang memiliki ketangguhan hati. Coba bayangkan saja, seandainya Khodijah, Aisyah maupun Asma tidak memiliki hati yang tangguh, bisakah mereka memotivasi ataupun meneguhkan hati orang lain? َُ Tentu saja tidak. Sebagaimana kaidah ” فَاقِدُ الشَّيْءِ لاَ يُعْطِيْهِ “, orang yang tidak memiliki sesuatu maka dia tidak akan bisa memberikannya pada orang lain. Orang yang tak memiliki ilmu, maka dia tidak akan bisa memberikan ilmu untuk orang lain. Begitu juga orang yang tidak memiliki ketangguhan hati, tentu dia tidak akan bisa menangguhkan hati orang lain.

Selain mereka, masih banyak lagi wanita-wanita hebat yang namanya terukir oleh tinta emas sejarah. Nama-nama seperti Ummu Salamah, Shafiyah, Laila alGhaffariyah, Ummu Sinam al-Islamiyah, dan masih banyak yang lainnya tercatat sebagai tokoh-tokoh wanita yang terlibat dalam peperangan. Demikian juga Zainab binti Jahsy yang aktif bekerja menyamak kulit binatang, dan hasil usahanya itu beliau sedekahkan. Raithah, istri sahabat nabi yang bernama Abdullah ibnu Mas’ud, sangat aktif bekerja karena suami dan anaknya ketika itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sementara itu al-Syifa’, seorang ekonom perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh Khalifah Umar r.a. sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Semua hal itu membuktikan bahwa Perempuan tak perlu menjelma menjadi laki-laki untuk bisa menjadi hebat, menjadi pahlawan, dan namanya ditulis dengan tinta emas sejarah.

Ketika melihat masa sekarang, banyak juga contoh tokoh-tokoh wanita hebat nan tangguh. Seperti Ny. Hj. Djuwairiyah, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Ibu Hasanah Thohir, dan Ibu Zeiniyah. Teliti saja kehidupan dan sejarah perjuangan hebat mereka sebagai wanita yang selain mengayomi suami dan anak, mereka juga mampu mengayomi umat.

Jadi, Tak perlu memaksa untuk sama, karena semua telah ditempatkan di porsi masing-masing. Tak perlu menjelma menjadi laki-laki, berpenampilan seperti mereka, melatih otot agar kekar seperti mereka misalnya dan tindakan-tindakan lainnya yang menyalahi kodrat kita sebagai perempuan. Dan Jangan-jangan hal tersebut merupakan suatu tindakan kufur nikmat, karena tidak menerima pemberian yang telah Allah tentukan. Sungguh, Allah telah menyediakan jalan tersendiri untuk kita berjuang. Bukan dengan menjelma menjadi orang lain, tapi dengan cara mengoptimalkan apa yang telah dianugerahkan pada kita. Be confident, sob![]

“Selamat berjuang menjadi akhwat tangguh!”

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *