Hukum Allah Tidak Ada di Dalam al-Qur’an

Oleh: Imam Nakhai

Dosen Mahad Aly Situbondo sekaligus Komnas Perempuan

 

Ketika hendak menulis status ini, saya berpikir agak lama, hawatir dituduh liberal lagi, tetapi demi amanah keilmuan, sepertinya penting saya bagikan. Tulisan ini saya maksudkan agar siapapun tidak terlalu mudah mengklaim dan merasa paling benar hanya berdasarkan ‘ayat’  atau ‘dalil’ yang dipilihnya dan kemudian ditafsirkannya dan kemudian disarikannya bahwa itulah ‘hukum Allah’.

Mungkin, beberapa muslim bingung dengan istilah ‘hukum allah’, ‘syari’at islam’, ‘hukum islam’ dan istilah sejenisnya. Saya lebih memilih istilah hukum Allah, karena dua alasan. Pertama, karena seringkali orang memberikan simpulan hukum dan mengatasnamakan Allah. Kedua, istilah ini digunakan oleh al-Qur’an dan Usul Fikih.

Bagi yang membaca Usul fikih, pastilah akrab dengan definisi ‘al-Hukmu‘. Huruf ‘al‘ dalam kata al-hukmu berfungsi untuk ‘li al-ahdi al-dihni‘, menjelaskan yang telah dikenal dalam kalbu, yaitu bahwa yang dimaksud al-hukmu di sini adalah ‘Hukum Allah’.

Di dalam Usul Fikih ‘al-Hukmu‘ didefinisikan dengan titah atau firman Allah yang berhubungan dengan prilaku mukallaf. Yang menarik untuk dipahami adalah kata ‘khitabullahi/titah allah’.

Apa maksud ‘khitabullahi‘? Menurut kitab Ghayah al-Wushul dan juga Jam’u al-Jawami’, yang dimaksud ‘Khitabullahi‘  adalah kalamuhu al-nafsiyu fi al-azal, yaitu firman Allah yang melekat dalam diri-Nya di azali sana. Jadi, hukum Allah adalah kalam Allah dan kalam Allah adalah Sifat Allah, dan Sifat Allah adalah sesuatu yang melekat dalam Dzat Allah.

Lalu al-Qur’an dan juga Sunah Nabi itu apa? Menurut dua kitab di atas, al-Qur’an dan al-Sunnah tidak lain adalah dalil atau ayat.

Apa itu dalil? Secara bahasa , dalil adalah tanda, sama juga dengan kata ‘ayat’ yang bermakna tanda. Tanda apa? Tanda keberadaan dan wujud Hukum Allah di Sana.

Jika disebut pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an”, itu artinya pembacaan ‘sebagian tanda-tanda dari al-Qur’an’. Jadi,  keseluruhan al-Qur’an itu adalah rangkain dalil-dalil, rangkaian ayat-ayat, rangkain tanda-tanda dari hukum Allah yang melekat dalam dzat Allah.

Lampu merah yang berada di sisi jalan, yang di jajar dengan kuning dan hijau, adalah dalil atau ayat bahwa pegendara harus berhenti. Tentu ‘hukum harus berhenti’ tidak ada di dalam lampu merah, melainkan sebagai tanda bahwa ada hukum itu. Sama juga dengan Foto orang tua, foto Kiyai-Bu Nyai dan foto siapapun. Foto-foto itu bukan pemilik foto itu sendiri, tetapi ia sebagai tanda bahwa ada pemilik foto itu.

Tanzil al-Qur’an, adalah bagian rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar dengan al-Qur’an (sebagai tanda) mereka mampu meraba-raba hukum Allah yang melekat dalam dzat-Nya.

Jadi, membaca al-Qur’an, hakikat sedang membaca beribu-ribu tanda hukum Allah. Sebab itu, bisa jadi seorang pembaca tanda meleset dalam membaca tanda, sejelas apapun tanda itu.

Olehnya, saya kagum pada ulama-ulama besar, yang benar-benar ulama selalu mengahiri pengajiannya, penafsirannya, pembacaannya dengan kata-kata ‘wallahu a’lam bi al-sawab‘. Tidak pernah merasa paling benar, karena mereka meyadari, hanya menbaca tanda. Hukum Allah tetap berada di sana, di dzat Allah yang maha Suci. (bersambung)

Wallhu a’lam.
Jakarta, 15 Oktober 2019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *