Abdullah Ibnu Hudzafah; Tawanan Berpendirian Teguh

Telah berhari-hari lamanya perang melawan tentara Romawi itu berkecamuk. Beratus korban dari kedua pihak pun telah berjatuhan. Kaisar sangat risau dengan sengitnya kecamuk perang, tetapi pada saat yang sama juga sangat kagum dengan gigihnya tentara Islam yang sungguh berani mati. Iseng-iseng, Kaisar minta agar dihadapkan kepadanya seorang tawanan dari tentara kiriman Amirul Mukminin Umar ibn Khattab radhiyallahu anhu itu. Dihadirkanlah Abdullah ibn Hudzafah, salah seorang sahabat Nabi, radhiyallahu anhu. Dengan tangan diborgol dan kaki dibelenggu, Abdullah diseret hingga sampai ke hadapan kaisar.

Abdullah,” sapa kaisar, “kau masuk Kristen ya, nanti akan aku lepaskan kau.”
Tidak,” jawab Abdullah.
Baik, masuk Kristen, dan separuh dari kerajaanku akan kuserahkan kepadamu.”
Tidak.”
Baik, masuk Kristen, dan separuh dari kerajaanku akan kuserahkan kepadamu dan engkau akan aku ikutsertakan dalam pemerintahanku.
Tidak! Demi Allah, seandainya kau serahkan kepadaku seluruh kerajaanmu dan kerajaan kakek moyangmu serta seluruh kerajaan Arab dan non-Arab dengan syarat aku keluar dari agamaku, tak akan pernah aku melakukannya“.

Tak pelak lagi kaisar pun murka besar. “Kalau begitu, akan kubunuh kau!” sergahnya. Tetapi Abdullah tak kalah tegar: “Silahkan, bunuh aku!” katanya.

Kaisar lalu memerintahkan agar dia diseret, lalu disalib di sebatang kayu. Kemudian, ia perintahkan pasukan pemanah agar memanah di seputaran tubuhnya, sementara kaisar tak henti-hentinya membujuk agar dia pindah agama. Tetapi, seujung rambut pun, semua itu tak membuatnya surut.

Setengah putus asa, akhirnya kaisar memerintahkan agar dia dijebloskan ke penjara tanpa diberi makan dan minum. Berhari-hari di penjara tanpa makan dan minum benar-benar menyiksa fisiknya. Ia benar-benar di ambang kematian, tetapi batinnya tetap tak goyah. Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba disuguhkan kepadanya daging babi dan minuman keras (khamar). Saat itu ia berpikir: “Aku tahu benar saat ini aku dalam kondisi terdesak (darurat) dan, oleh karenanya, daging dan minuman ini halal bagiku secara syar’i. Tetapi aku tak ingin dipermalukan di hadapan musuh-musuhku“. Maka ia pun bersikukuh untuk tidak menjamah suguhan itu.

Kaisar belum kehabisan cara saat diberitahu bahwa Abdullah menolak makan dan minum. Ia perintahkan agar disuguhkan kepadanya makanan halal dan, bersamaan dengan itu, didatangkan kepadanya seorang perempuan cantik. Tetapi, lagi-lagi makanan tidak dijamahnya dan si cewek jangankan ditoleh, dilirik pun tidak! Cewek itu tersinggung dan buru-buru keluar sambil melepas sumpah serapah. “Kalian telah mempertemukan aku dengan sosok makhluk yang aku tidak tahu apakah dia manusia atau batu dan dia pun tidak tahu aku ini perempuan atau laki-laki, huhhh!!!” katanya.

Siksaan kian lengkap manakala Abdullah diseret ke sebuah tempat di mana telah tersedia kuali besar berisi minyak goreng yang sudah mendidih. Abdullah diberdirikan di dekat kuali itu, kemudian seorang tawanan lain diseret lalu dimasukkan ke dalamnya. Tampak jelas di mata Abdullah bagaimana tawanan itu dalam sekejap menjadi gosong dan dagingnya mengelupas dari tulang belulangnya. Sesaat kemudian kaisar menoleh kepada Abdullah. “Bagaimana, kau mau beralih agama?” Tetapi tetap saja Abdullah menjawab tegas, “Tidak!!!” Kaisar marah besar. Wajahnya merah padam. Dengan suara bergetar ia perintahkan agar Abdullah diseret dan dijebloskan juga ke penggorengan. Begitu merasakan panasnya api, tak terasa setitik air bening menetes dari mata Abdullah. Merasa jebakannya berhasil, kaisar tertawa girang. “Bagaimana? Mau beralih agama dan kulimpahkan kepadamu berjuta anugerah?” katanya.
Tidak!!!
Jadi, kau menangis karena apa?
Demi Allah, aku menangis bukan karena takut mati, tetapi aku menyesal kenapa aku hanya mempunyai satu tubuh. Aku ingin seandainya aku punya tubuh sebanyak rambutku dan semuanya mati di jalan Allah dengan cara ini!

Kaisar jadi lemas dan putus asa. Tak ada lagi cara untuk memaksa tawanan tangguh itu masuk Kristen. Akhirnya, “Begini saja,” katanya. “Kau cium kepalaku dan engkau akan kulepaskan, bagaimana?
Aku dan semua tawanan Muslim?
Iya.”
Abdullah tak menunda-nunda lagi. Segera dipegangnya kepala kaisar lalu diciumnya. Dan ternyata kaisar tak mengingkari janjinya. Ia segera memerintahkan untuk membebaskan Abdullah dan semua tawanan Muslim yang lain.

Pulang ke Madinah, Abdullah segera menemui Amirul Mukminin Umar ibn al-Khattab radhiyallahu anhu dan menuturkan semua yang dialaminya. Umar pun mengapresiasi sikap dan kegigihan Abdullah itu dengan setinggi-tingginya. Beliau berkata:

حقٌ على كُل مُسلم أن يُقَبِّل رأسَ عبدِ الله بن حُذافة، وأنا أبدأ

Wajib atas setiap Muslim mencium kepala Abdullah ibn Hudzafah, dan aku akan mengawalinya.”

Umar pun berdiri lalu mencium kepala Abdullah, lalu diikuti semua yang hadir.

Rujukan: Ibn Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *