Ahli fikih Tak Boleh Egois

Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi diri hamba yang lemah nan daif ini. Pasalnya, saya bisa menjadi bagian dari sejarah perdana dunia, yakni mengikuti Bahtsul Masail secara online yang dilaksanakan oleh Ma’had Aly Situbondo. Dalam momen ini, saya juga bisa menyimak pemaparan Kiai Afifuddin Muhajir terhadap masalah yang dibahas, yaitu Salat Jumat bergelombang di Era New Normal.

Sebagaimana biasa, banyak hal baru yang selalu muncul setiap mengaji kepada Kiai yang juga menjabat Rais Syuriah PBNU ini. Namun, dari sekian hal penting, ada satu hal penting yang menarik diceritan. Beliau menyebut, bahwa dalam menyikapi covid 19 hendaknya masyarakat taat kepada pemimpin yang dalam bahasa beliau disebut dengan “ulil amri”.

Ulil Amri, lanjut beliau, dalam konteks ini ada tiga. Pertama ulil amri dalam masalah politik pemerintahan, yaitu presiden dan segenap pemerintah. Kedua, ulil amri dalam bidang keagamaan, yaitu para ahli fikih. Ketiga, ulil amri dalam bidang kesehatan, yaitu ahli medis-dokter.

Ketiganya, diharapkan bersinergi dengan baik agar “perang” melawan pandemi ini bisa menang. Ketidakkompakan ketiga elemen itu bukan hanya sebagai tanda ketidakdewasaan bersikap, akan tetapi juga bisa mencelakakan nyawa manusia. Jadi presiden harus bersenergi dengan ahli medis, ahli medis bersinergi dengan ulama dan begitu sebaliknya.

Agar tak hanya muncul di layar tanpa komentar apa-apa, saya kemudian nekat bicara. Setelah diberi izin oleh moderator yang keren, Ustaz Risqil, saya memberi “catatan pinggir” atas dawuh Kiai Afifuddin. Saya menyebut, spirit dari dawuh Kiai Afif adalah hendaknya seorang ahli fikih (para ulama dan kiai juga) tak boleh egois. Ia harus menjadi pendengar yang baik atas masalah keagamaan yang hendak dibahas.

Terlalu resiko misalnya, ahli fikih membahas apakah korona ini bahaya sehingga ia bisa menjadi uzur salat jumat jika tanpa berdiskusi dengan ahli kesehatan. Terlalu berisiko juga jika misalnya seorang ahli fikih berdiri sendiri, memutuskan bahwa haji tetap harus dilaksanakan tanpa bertanya dampak bahaya korona dari dokter ahli dan organisasi kesehatan dunia misalnya.

Berkoordinasi dengan para ahli di bidangnya itu bertujuan memberikan gambaran permasalahan (tasawwur al-Mas’alah) yang akurat. Karena sedikit saja salah memberi gambaran masalah, maka jawaban diberikan akan meleset. Pentingnya “ilmu mendengar” ini ada karena tidak semua orang bisa memahami seluruh berbagai persoalan yang ada. Ia punya keterbatasan ilmu pengetahuan terhadap apa yang bukan keahliannya. lebih-lebih kita masuk di era dimana informasi disebar begitu massif tanpa verifikasi, validasi dan kadang hilang konteksnya.

Sudah terlalu sering umat islam bertengkar terhadap suatu hal yang sebenarnya berbeda pemahaman (dekripsi masalah) antara yang pro dan kontra. Sebut saja masalah Islam Nusantara, LGBT, status muslim-kafir di negara bangsa dan masalah lainnya.

Teringat joke yang konon dinisbatkan kepada orang Madura. suatu waktu seorang ekonom datang ke Madura untuk menjelaskan soal pentingnya ekonomi Mikro dan Makro. Belum selesai berbicara, seorang laki-laki intrupsi kepada ekonom itu, kata dia, “Begini pak, jika masih ada yang halal, ngapain makek yang makruh-makruh”. Jadi yang dipahami oleh laki-laki itu, Kata Makro disangka kata makruh dalam fikih.

Terakhir, bersyukur karena, pertama walau terdapat beberapa kekurangan, Bahtsu Virtual perdana dalam sejarah dunia ini berjalan dengan lancar. Kedua, gara-gara bahtsu ini, Yik Rumail Abbas akhirnya instal aplikasi Zoom setelah sebelumya ia “sesumbar” tak tertarik untuk menggunakannya. Tadi ketika saya menyodorkan link diskusi, ia awalnya menolak. Entah kenapa selang beberapa menit, belio kemudian tergoda mengikuti dan menginstal aplikasi zoom. Dalam hati saya berucap, “jangan main-main sama santri Situbondo Yik Rumail”. Hahahaha

salam
Ahmad Husain Fahasbu 

Kredit photo: tim media Ma’had Aly Situbondo.

link video

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *