Al-Qur’an Tidak Menganjurkan Laki-laki Sebagai Pemimpin

Di Indonesia laki-laki menikmati sebagai pemimpin dan pemegang kekuasaan peran publik. Posisi ini sulit digeser karena dibentengi oleh budaya dan doktrin-doktrin Agama. itulah yang disebut budaya patriarkhi yang didefinisikan sebagai, ‘sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti’.

Budaya patriarkhi telah hidup sejak sejarah kemanusiaan itu sendiri. Dan berlangsung terus menerus bertumpang tindih dengan perebutan kekuasaan dan dominasi. Budaya Patriarkhi juga melewati masyarakat Arab jahiliyyah yang ditandai otoritas laki-laki atas ‘nafakah’ dan ‘pengetahuan’. Fakta inilah yang ‘diinformasikan-kabarkan’ oleh al-Qur’an dengan redaksi ‘ar-rijalu qawwamuna ala an-nisa’…’, laki-laki adalah qawwam perempuan, karena ia memberikan nafkah dan karena kelebihan yang dikaruniakan Allah.

Jadi ayat ini, menurut ilmu gramatika adalah kalam ‘khabar’ (informative), bukan kalam ‘insya’’ (perintah atau anjuran). Ayat ini sedang menginformasikan fakta sosial sistem keluarga yang terjadi ketika itu. Bagaimana kalau fakta sosial berubah? misalnya, perempuan menjadi pencari nafkah, atau Allah mengkaruniakan kelebihan pada perempuan. Masihkah laki-laki memiliki hak Qiwamah? Jawaban pertayaan ini bisa berbeda-beda, tergantung perspektif penjawabnya. Namun jawaban apapun penting dihormati, karena al-Qur’an memang membuka ruang ‘banyak makna’.

 

Ayat 34 surat an-Nisa’ menjadi penting, karena ia menjadi medan perebutan tafsir antara satu mufasir dengan mufasir lainnya. Saya tidak menyebutnya antara konservatisme dengan modernisme. Memang kalau menggunakan metode usul fikih, maka penafsiran terhadap ayat ini bisa memenuhi beberapa lembar, dikarenakan beragam sudut pandang akibat kekayaan bahasa yang dikandungnya.

  1. Ada yang memusatkan pada kata ar-rijalu. Dalam usul fikih ar-rijalu adalah lafad amm. Menurut Syafi’iyyah semua lafad al-amm al-makhsus pasti ada pengeculiannya (maa min ammin illa wa qad khushisha). Sehingga dapat disimpulkan tidak semua laki-laki menjadi pemimpin, ada juga perempuan yang bisa menjadi pemimpin.
  2. Ada juga yang memfokuskan pada kata ar-rijalu tapi bukan dari aspek lafad amm-nya, melainkan dari aspek definisinya. Apa makna al-rijal? kenapa tidak menggunakan adz-dzukur? apa beda adz-dzukur dengan ar-rijal. Maka muncullah kesimpulan bahwa ar-rijal adalah jenis kelamin sosiologis, sedangkan adz-dzukur jenis kelamin biologis. Tidak semua adz-dzukur dalam konteks sosial adalah ar-rijal. Rijal adalah seseorang yang memiliki sifat rujulah dan rujuliyah (kelelakian). Tafsir semacam ini mislanya kita temukan dalam kitab al-bahrul al-muhith. Dalam kitab karya Abu Hayyan tersebut dikatakan:

البحر المحيط في التفسير (3/ 622)

قِيلَ: الْمُرَادُ بِالرِّجَالِ هُنَا مَنْ فِيهِمْ صَدَامَةٌ وَحَزْمٌ، لَا مُطْلَقُ مَنْ لَهُ لِحْيَةٌ. فَكَمْ مِنْ ذِي لِحْيَةٍ لَا يَكُونُ لَهُ نَفْعٌ وَلَا ضُرٌّ وَلَا حُرَمٌ، وَلِذَلِكَ يُقَالُ: رَجُلٌ بَيِّنُ الرُّجُولِيَّةِ وَالرُّجُولَةِ. وَلِذَلِكَ ادَّعَى بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ فِي الْكَلَامِ حَذْفًا تَقْدِيرُهُ: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ إِنْ كَانُوا رِجَالًا

dikatakan, yang dimaksud ar-rijal dalam ayat ini adalah orang yang memiliki daya tahan dan kemampuan inovasi, bukan asal orang yang memiliki jenggot. Banyak orang yang memiliki jenggot, tetapi tidak ada gunanya, tidak punya kemampuan inovaasi yang teguh.… Sebab itu sebagian mufassir menyatakan, dalam ayat ini ada kalimat yang dibuang, jika ditampakkan berbunyi ‘laki-laki menjadi ‘pemimpin’ perempuan jika ia benar-benar laki-laki.’

  1. Ada juga yang memusatkan pada huruf jar ba dalam lafad bi maa anfaquu. Huruf ba dalam usul fiqih memiliki banyak makna, antara lain li as-sabab. Ini berarti, laki-laki menjadi pemimpin, sebab ia memberi nafkah dan memiliki kelebihan pengetahuan. Laki-laki jadi pemimpin bukan karena jenis kelamin laki-laki, tetapi karena dua alasan di Maka jika sebaliknya, maka hukum berlaku sebaliknya juga.

Bersambung

 

sumber: https://www.facebook.com/imam.nakhai1

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *