Alim Nahwu dan Sharraf Harga Mati Bagi Ulama

 

“Alim nahwu dan sharraf harga mati bagi ulama.” Begitulah tajuk untuk acara launching dan bedah kitab al-Amtsilah ‘ala Syarh al-Jurmiyah karya KH. Muhyiddin Khatib. Sebagaimana subtansinya antara yang disampaikan KH. Ma’ruf Khozin selaku pembanding II pada acara tersebut; bahwa zaman yang kian memprihatinkan ini banyak dijumpai para da’i/ustaz-ustaz khususnya di media sosial yang menyampaikan fatwa-fatwa dengan dalil al-qur’an atau sunnah tanpa memahami seluk-beluk kajiannya yang begitu mendalam sehingga sangat mudah terucap kata haram atau bid’ah. Berbeda halnya dengan kaum sarungan selaku anak cucu ulama nusantara memiliki pegangan berupa aqwal ulama salaf yang tertera dalam kitab-kitab kuning yang masih terjaga keasliannya sampai sekarang, disamping mereka juga diberi jamuan wajib berupa ilmu alat sebagai pendukung utama memahami nash sebagai dalil hukum syar’i. Maka dari itu memahami bahasa Arab merupakan hal yang sangat penting bagi praktisi hukum islam terutama bagi mereka yang fokus pada istinbath nash karena ia termasuk di antara syarat seorang mujtahid, urgensitasnya menentukan produk hukum yang dihasilkan. Khilafiyah yang terjadi antar ulama madzhab sebagian besar terjadi karena perbedaan sudut pandang atau perkara lain yang tak lepas dari ruang lingkup teks-teks syariat.

Kitab al-Amtsilah ‘ala Syarh al-Jurmiyah karya KH. Muhyiddin Khatib, sebuah kitab yang mengulas lebih jauh salah satu karya monumental salaf dalam bidang ilmu alat (nahwu) yaitu al-Jurmiyah milik Abu Abdillah Muhamad Bin Muhamad as-Shanhaji. Diberi nama al-Amtsilah karena memang isinya tidak hanya memberikan komentar atau penjelasan dari kitab matan namun juga banyak menampilkan contoh-contoh memadai sehingga akan lebih mudah untuk dipahami oleh pemula. Termasuk keistemewaan kitab ini adalah contoh-contoh yang ditampilkan oleh muallif tidak hanya sebatas contoh aplikatif teori berupa bahasa arab seperti قام زيد atau زيد قائم dan semacamnya sebagaimana banyak dijumpai dalam kitab-kitab nahwu pada biasanya, akan tetapi beliau memberikan tamtsil langsung dari teks al-qur’an dan sunnah nabawiyah.

Nahwu memang bukan termasuk ilmu agama, hanya saja ia adalah wasilah untuk memahami ilmu agama itu sendiri sebagaimana disampaikan oleh beliau al-mukarram KH. Afifuddin Muhajir ketika launching dan bedah kitab al-Amtsilah tersebut, karenanya memberikan contoh langsung dari nash Syari’ oleh Kiai Muhyiddin Khotib dalam kitabnya sangatlah baik dalam hal ilmu alat –bahasa arab- ini lantaran al-qur’an merupakan kalam ilahi, sunnah pun adalah bagian darinya meskipun bahasanya adalah dari lisan nabi. Karenanya al-qur’an dan sunnah merupakan teks teks yang paling orisinil untuk dijadikan pijakan bahasa arab bahkan seandainya ada kaidah bahasa Arab yang bertentangannya maka yang bermasalah bukan nash tersebut melainkan kaidah itu sendiri yang perlu dipertanyakan.

Di sisi lain, Kiai Muhyiddin Khotib juga menyaring contoh-contoh yang tidak hanya berupa penerapan ilmu nahwu, beliau memilih contoh nash yang memiliki nilai edukatif untuk para pembacanya seperti pada contoh fi’il nahi –kata kerja bermakana larangan- dan fi’il amr-kata kerja dengan faidah perintah-, Kiai Muhyiddin memilih contoh :
فلا تقل لهما أف و قل لهما قولا كريما
Janganlah kalian mengatakan uf-ah- kepada kedua orang tua, berucaplah dengan kata-kata baik kepada mereka berdua

Al-hasil, kitab karya salah satu masayikh Ma’had Aly Situbondo ini layak mendapat apresiasi serta sangat layak untuk diajarkan kepada para santri baik santri pemula yang baru mengenal ilmu nahwu maupun santri senior lantaran banyak sekali faidah yang dapat diperoleh selain hanya sebatas ilmu nahwu.

Salam takzim kami untuk para masayikh Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo situbondo, khususnya beliau al-mukarram KH. Afifuddin Muhajir dan muallif kitab al-Amtsilah KH. Muhyiddin Khatib serta para kiai yang lain.

Barakallah fi Kum

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=146690460384697&id=100051312301693

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *