Antara Ibu Yang Melahirkan dan menyusui dan Ibu Yang Mengasihi

Oleh: Imam Nakhoi

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kedua kata “al-Umm” dan “al-Walidah“, yang keduanya disebut dalam al-Qur’an, sering diterjemahkan sama, yaitu “ibu”. Padahal kedua kata ini memiliki makna dan filosofi yang berbeda.

Dalam Usul fikih ada kaidah yang sangat populer “man lam yakun bihi wasfun lam yusytaqq minhu ismun” artinya “seorang yg tidak memiliki sifat tertentu maka tidak bisa diberi nama dari sifat itu”. Misalnya orang yang tidak punya sifat melahirkan (al-wiladah), maka ia tidak bisa disebut orang yang melahirkan (al-walidah). Sama seperti orang yang tidak punya sifat mengasihi (rahmah), ia tidak bisa disebut ar-Rahim. Juga orang yang tidak punya sifat mencuri (sariqah) ia tidak bisa disebut pencuri (sariq).

Merujuk pada kaidah ini, maka sesungguhnya kata al-walidah dan al-umm memiliki makna yang berbeda.

Al-walidah adalah perempuan yang melahirkan. Melahirkan adalah tugas yang sangat berat. Sebab itu al-Qur’an menyebut dengan “hamalathu kurhan wa wadha’athu kurhan” yang bermakna sesuatu yang sangat berat. Belum lagi fungsi reproduksi lainya, hamil dan menyusui yang juga sangat berat (wahnan ala wahnin). Sebab itu al-Qur’an berwashiyat kepada setiap orang untuk berbuat baik, menghormati, tidak menyakiti, memulyakan, kepada ibu yang telah melahirkannya. Kewajiban ini tidak lain karena ibu (al-walidah), telah melahirkan (al-wiladah), bukan karena yang lain. Sehingga, seandainya, – sekali lagi, seandainya setelah ibu melahirkan ia tidak mengasihi anak anaknya, tidak merawatnya, tidak memeliharnya, bahkan seandainya dia kafir sekalipun, anak anak tetap wajib birrul walidain, karena ia telah melahirkan.

Jika ibu hanya melahirkan, namun setelah itu tidak merawatnya, tidak memeliharanya, maka ia hanya sebagai “al-walidah“, tetapi tidak sebagai al-umm.

Al-Umm adalah ibu yang mengasihi, merawat, mendidik, menjaga, dan menjadi asal dan sumber kehidupan. Bisa jadi ada al-Umm yang tidak melahirkan, namun ia merawat, mendidik, dan menuntunnya menjadi generasi yang hebat. Iya bukan ibu biologis (al-walidah), tetapi ibu sosiologis (al-umm). Al-umm seperti ini memiliki peran dan kedudukan yang mulya dihadapan anak-anaknya. Sebab itu al-Qur’an menyebut istri-istri Rasulullah sebagai “ummahatul mukminin“, sebab sekalipun mereka tidak melahirkan kita, tetapi mereka adalah ibu sosiologis kita yang memiliki kedudukan tinggi.

Nah, jika ibu yang melahirkan, sekaligus menjadi teladan yang baik, merawat, mendidik, mengasihi anak anaknya, maka di samping ia al-walidat ia juga al-ummahat.

Sebab itu dalam islam, sebagai bentuk penghormatan kepada al-walidat dan al-ummahat, tidak boleh menikahi mereka. Karena hubungan perkawinan adalah hubungan yang lemah jika dibandingkan dengan hubungan kekerabatan. Olehnya tidak boleh mengawini istri-istri nabi, sekalipun mereka tidak melahirkan kita (wiladah), tetapi mereka adalah “ummahat” kita.

Menurut saya, umat Islam juga tidak boleh menikahi perempuan-perempuan yang telah menjadi ibu mereka, baik secara biologis maupun sosiologis. Sebab perkawinan berpotensi menyakiti dan memperbudak pasangan (nau’u qinnin). Sementara memperbudak al-umm jelaslah Haram. Sebab itu, bagi santri menikahi mantan istri Kiyainya adalah Haram. Demikian pula menikahi perempuan yang telah merawatnya dan menjadi sumber kehidupannya. Sebab mereka adalah ibu-ibu sosiologis (al-ummahat).

Intinnya, baik kepada al-walidat dan al-ummahat, anak-anak berkewajiban menghormati, melindungi, mengasihi, merawat dan memberikan hak-hak mereka melebihi dari yang seharusnya (al-birru), bukan sekedar al-ihsan.

Surga anak berada dibawah telapak kaki al-ummahat.

Selamat Hari Ibu.

Jkt, 22 Oktober 2019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *