Bagaimana Hukum Mengusap dan Mencium Kubur?

Hukum mengusap dan mencium kubur menurut mayoritas ulama adalah makruh. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hukum mengusap dan mencium kubur itu mubah dalam rangka mencari keberkahan. Tidak ada satu pun ulama yang mengharamkannya.

Lalu apa dalil yang membolehkan praktik tersebut?

Di satu sisi tidak ada satupun dalil yang secara tegas melarang praktik tersebut. Dari sisi lainnya, ada riwayat yang menceritakan bahwa Sahabat Bilal  setelah pulang kembali ke Madinah dan berziarah ke makam Rasulullah saw, ia menangis sejadi-jadinya dan membolak-balik kedua pipinya di atas makam Rasulullah saw.  Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia meletakkan kedua tangannya di atas makam Rasulullah saw.

Apa hukum membangun kuburan itu?
Jawaban dari pertanyaan ini sangatlah beragam. Di antaranya:
1. Jika kubur tersebut berada di tanah sendiri (kepunyaan si mayit) atau berada di atas tanah orang lain namun mendapat ijin dari pemiliknya maka hukum membangun kuburan dalam konteks ini adalah makruh.
2. Jika kubur tersebut berada di atas pemakaman wakaf atau pemakaman umum maka membangun kubur dalam masalah ini adalah haram.

Namun keharaman ini tidaklah berlaku umum, masih ada pengecualiannya. Artinya keharaman tersebut tidak berlaku kalau yang dikuburkan di pemakaman wakaf atau pemakaman umum itu adalah:
– Orang-orang shalih
– Para pemuka kaum muslimin
– Dan lain sebagainya

Kenapa bisa demikian?
Ada tiga alasan yang menjadi penyebabnya. Di antaranya:
– Supaya pemakaman tersebut ramai dikunjungi para peziarah karena hukum berziarah sangatlah dianjurkan.
– Mengharap keberkahan, dan
– Orang yang hidup (peziarah) dan sekaligus orang-orang yang sudah mati bisa mendapatkan kemanfaatan dari bacaan al-quran dan dzikir-dzikir yang dibaca oleh para peziarah di pemakaman tersebut.

Apa makna hadis

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِد

Menurut para ulama, yang dimaksud dari hadis ini adalah bersujud kepada kubur dan melakukan shalat di atasnya dengan maksud mengagungkan kubur itu. Sekali lagi, mengagungkan kubur tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang menjadi illat larangan tersebut adalah bersujud kepada kuburan nabi-nabi mereka sekaligus kuburan itu dijadikan kiblat dan mereka mengagungkan kuburan-kuburan itu.

Dan praktik ini tidak terdapat dalam keseharian kaum muslimin karena orang Islam itu tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah swt. Umat Islam tidak memposisikan sama antara kubur dengan tempat-tempat ibadah lainnya. Dan pengagungan kaum muslim kepada Allah swt itu berada di atas segala-galanya, tidak ada satu manusia pun yang bisa menyamainya.

Lalu bagaimana kalau ada masjid yang berdempetan dengan kuburan orang shalih, di mana kubur tersebut persis berada di hadapan orang-orang yang salat?

Apakah fenomena ini bisa tercakup dalam ancaman hadis di atas?
Tentu jawabannya tidak. Karena orang yang salat di masjid tersebut tetap menjadikan ka’bah sebagai kiblatnya, bukan kuburan yang ada di hadapannya itu.
Apa hal ini tidak mengurangi kemurnian dalam bertauhid?
Tengoklah Masjid Nabawi di Madinah! Hal ini sangatlah cukup sebagai dalil

Resume Diskusi Kamaly Bondowoso

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *