Bahtsul Masail Daring Tentang “Salat Jumat Dua Gelombang Di Era New Normal”

  1. BAHTSUL MASAIL DARING

Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo

Tentang Salat Jum’at Dua Gelombang Di Era New Normal

Minggu, 7 Juni 2020 M/15 Syawal 1441 H; Pukul: 09.00-13.30 WIB

 

Mushahhih                 : KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag. (Rais Syuriah PBNU)

                                    : KH. A Muhyiddin Khotib, M.Ag. (Ketua Umum KAMALY)

                                    : Dr. Abdul Djalal, M.Ag. (Ketua AMALI)                      

Perumus                     : KH. Imam Nakha’i, M.H.I. (Komnas Perempuan)

                                    : KH. Badrud Tamam, M.H.I. (Aswaja Center Jember)

                                    : Ust. Khairuddin Habziz, M.H.I. (Katib Ma’had Aly Situbondo)

Moderator                  : Muhamad Risqil Azizi, M.H.I. (Penulis Ushul Fiqh Millenial)

Notulen                       : Izzul Madid, M.H.I. (Musyrif Ma’had Aly Situbondo)

                                    : Ahdanal Khalim, (Mahasantri Aktif Ma’had Aly Situbondo)

 

DESKRIPSI MASALAH:

Pemerintah melalui otoritas yang berwenang telah membuat sejumlah aturan untuk masyarakat agar lebih membiasakan pola hidup bersih dan sehat demi menekan persebaran dan penularan virus covid-19. Aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah juga membatasi ruang gerak serta interaksi masyarakat di luar rumah. Hal ini menuntut masyarakat untuk melakukan transisi dan beradaptasi dengan ‘kebiasaan-kebiasaan baru’ agar tetap dapat beraktivitas, produktif, dan survive di tengah pandemi.

Di masa pandemi, masyarakat tidak sepenuhnya bebas berinteraksi dan berkomunikasi karena harus disiplin menggunakan masker serta melakukan physical distancing. Pemerintah membatasi kegiatan-kegiatan masyarakat di luar rumah yang berpotensi mengundang kerumunan massa. Tempat-tempat yang biasa menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dibatasi dan dijaga dengan protokol kesehatan yang ketat, tak terkecuali di rumah ibadah.

Bagi umat muslim, masjid merupakan tempat untuk melaksanakan aktivitas ibadah terutama shalat berjamaah. Setiap pekan, umat muslim wajib melaksanakan shalat jum’at secara berjamaah di masjid. Namun demikian, di tengah situasi pagebluk yang tak menentu dan belum bisa diprediksi kapan berakhir, umat muslim khususnya di Indonesia dituntut memilih alternatif-alternatif untuk tetap beribadah shalat jum’at sembari memperhatikan keselamatan jiwa.

Di zona tertentu, ibadah shalat jum’at bahkan harus ditiadakan supaya virus tidak semakin merajalela. Di beberapa daerah, shalat jum’at tetap terlaksana dengan memperhatikan protokol kesehatan dan physical distancing. Akibatnya, daya tampung masjid menjadi berkurang dan tidak semua masyarakat bisa melaksanakan shalat jum’at bersamaan dalam satu waktu di satu masjid yang biasa mereka tempati.

Merespon hal tersebut, PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah menerbitkan surat edaran mengenai protokol pelaksanaan shalat Jumat yang ditandatangani oleh Ketua Umum DMI H. Jusuf Kalla dan Sekretaris Jenderal DMI H. Imam Daruquthni. Di antara isi surat edaran bernomor 104/PP-DMI/A/V/2020 tentang Edaran ke-III dan Jamaah dalam The New Normal tersebut, selain mengimbau agar setiap masjid yang bisa dibuka mengikuti Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 tahun 2020 dan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, juga mengimbau masyarakat di daerah yang padat penduduknya untuk melaksanakan shalat Jumat dua gelombang. Berikut bunyinya:

 

  1. Karena ketentuan jaga jarak minimal 1 meter, maka daya tampung masjid hanya tinggal 40 persen dari kapasitas normal sebelumnya. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan jemaah dan dengan mempedomani tujuan syariat (maqashidus-syariah) pelaksanaan sholat Jumat diatur sebagai berikut:

(a) Di samping di masjid-masjid, juga di musala-musala dan tempat umum; (b) Bagi daerah-daerah padat penduduk, dilaksanakan sholat Jum’at dua (dua) gelombang.

Imbauan DMI ini tentu berpotensi membawa polemik di tengah masyarakat. Polemik tersebut sangat mungkin didasari oleh perbedaan persepsi masyarakat dalam menyikapi fenomena pandemi covid-19 serta pemahaman masyarakat tentang ketentuan hukum pelaksanaan ibadah shalat jum’at wa bil khusus soal keabsahannya. Akan tetapi, walau bagaimanapun harus siap melakukan transisi dan beradaptasi di era new normal, bahkan dalam aktivitas ibadah.

 

PERTANYAAN:

Berdasarkan deskripsi masalah di atas, dirumuskan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah hukum merapatkan shaf dalam shalat jamaah? Apakah ia merupakan syarat keabsahan shalat atau syarat mendapatkan fadhîlah shalat jamaah?

 

Merapatkan barisan shaf (rassu al-sufûf) dalam shalat jamaah merupakan hal yang diperintahkan. Perintah tersebut tertuang dalam beberapa hadits:

صحيح البخاري- طوق النجاة  1/145

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي

سنن أبى داود-ن  1/249

عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- « ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربهم جل وعز ». قلنا وكيف تصف الملائكة عند ربهم قال « يتمون الصفوف المقدمة ويتراصون فى الصف ».

سنن النسائي  2/92

أخبرنا محمد بن عبد الله بن المبارك المخرمي قال حدثنا أبو هشام قال حدثنا أبان قال حدثنا قتادة قال حدثنا أنس أن نبي الله صلى الله عليه و سلم قال : راصوا صفوفكم وقاربوا بينها وحاذوا بالأعناق فوالذي نفس محمد بيده اني لأرى الشياطين تدخل من خلل الصف كأنها الحذف

 

Para fuqahâ’ memahami bahwa perintah dalam hadits tersebut adalah perintah sunnah, bukan perintah wajib. Ini artinya, merenggangkan shaf sebagai kebalikan dari merapatkan shaf yang diperintahkan, tidaklah haram. Melainkan, makruh. Itupun, makruh yang ringan bukan yang berat (مكروه كراهة غير شديدة). Fuqahâ’ muta’akkhirîn menamakan makruh jenis ini dengan khilâful awlâ, yakni suatu larangan yang tidak memiliki acuan dalil secara langsung melainkan larangan yang digalli/dipahami dari perintah sunnah, sesuai dengan kaidah (الأمر بالشيء نهي عن ضده) Penegasan bahwa perintah merapatkan shaf adalah perintah sunnah ditemukan di dalam beberapa kitab:

شرح أبي داود للعيني  3/209

642- ص- نا عبد الله بن محمد النفيلي: نا زهير قال: سألتُ سليمان الأعمش عن حديث جابر بن سمرة في الصفوف المقدمة، فحدثنا عن المسيب بن رافع، عن تميم بن طرفة، عن جابر بن سَمُرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” ألا تصُفون كما تصف الملائكة عند ربهم؟ ” قلنا: وكيف تصف الملائكةُ عند ربهم؟ قال: ” يُتمون الصفوف المقدمة، ويتراصون في الصف “…………ويُستفاد من الحديث: استحباب إتمام الصف الأول، واستحباب التَراص في الصفوف. والحديث أخرجه مسلم، والنسائي، وابن ماجه.

شرح مسلم للنووي  13/141

(أقيموا صفوفكم) أمر بإقامة الصفوف وهو مأمور بإجماع الأمة وهو أمر ندب والمراد تسويتها والاعتدال فيها وتتميم

الأول فالأول منها والتراص فيها وسيأتي بسط الكلام فيها حيث ذكرها مسلم ان شاء الله تعالى

شرح النووي على مسلم  5/103

قالَ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَالْكُوفِيُّونَ يَقُومُونَ فِي الصَّفِّ إِذَا قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ فَإِذَا قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ كَبَّرَ الْإِمَامُ وَقَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ لَا يُكَبِّرُ الْإِمَامُ حَتَّى يَفْرُغَ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْإِقَامَةِ قَوْلُهُ قُمْنَا فَعَدَلْنَا الصُّفُوفَ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ هَذِهِ سُنَّةٌ مَعْهُودَةٌ عِنْدَهُمْ وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ تَعْدِيلِ الصُّفُوفِ وَالتَّرَاصِّ فِيهَا

حاشية العطار  1/402

( وَمَنْدُوبًا ) أَيْ الْقَصْرُ ، لَكِنْ فِي سَفَرٍ يَبْلُغُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا كَمَا هُوَ مَعْلُومٌ مِنْ مَحَلِّهِ فَإِنْ لَمْ يَبْلُغْهَا فَالْإِتْمَامُ أَوْلَى خُرُوجًا مِنْ قَوْلِ أَبِي حَنِيفَةَ بِوُجُوبِهِ وَمَنْ قَالَ الْقَصْرُ مَكْرُوهٌ كَالْمَاوَرْدِيِّ أَرَادَ مَكْرُوهٌ كَرَاهَةً غَيْرَ شَدِيدَةٍ وَهُوَ بِمَعْنَى خِلَافِ الْأَوْلَى

أسنى المطالب  3/100

وَفُهِمَ مِمَّا تَقَرَّرَ أَنَّهُ إذَا لَمْ تَكُنْ سُتْرَةٌ ، أَوْ تَبَاعَدَ عَنْهَا فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَذْرُعٍ ، أَوْ كَانَتْ دُونَ ثُلُثَيْ ذِرَاعٍ لَمْ يَجُزْ الدَّفْعُ وَلَمْ يَحْرُمْ الْمُرُورُ لِتَقْصِيرِهِ نَعَمْ الْمُرُورُ حِينَئِذٍ خِلَافُ الْأَوْلَى كَمَا فِي الرَّوْضَةِ ، أَوْ مَكْرُوهٌ كَمَا فِي شَرْحَيْ الْمُهَذَّبِ وَمُسْلِمٍ ، وَالتَّحْقِيقِ وَلَك أَنْ تَحْمِلَ الْكَرَاهَةَ عَلَى الْكَرَاهَةِ غَيْرِ الشَّدِيدَةِ

 

Dari paparan tersebut, bisa disimpulkan bahwa merapatkan shaf bukan merupakan syarat sah shalat. Melainkan menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan shalat jama’ah. Bahkan, menurut sebagian pendapat, hanya menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan shaf. Sebagaimana terdapat dalam;

حاشية إعانة الطالبين  2/30

(قوله: وكره لمأموم انفراد إلخ) أي ابتداء ودواما – كما في ح ل – وتفوت به فضيلة الجماعة. قال م ر في شرحه، وحجر وسم: إن الصفوف المتقطعة تفوت عليهم فضيلة الجماعة. اه. وقال م ر في الفتاوي، تبعا للشرف المناوي، إن الفائت عليهم: فضيلة الصفوف، لا فضيلة الجماعة. ومال ع ش إلى ما في شرح الرملي، لانه إذا تعارض ما فيه وغيره قدم ما في الشرح اه. بجيرمي.

حاشية قليوبي  1/275

قوله : ( فردا ) بأن يكون في كل من جانبيه فرجة تسع واقفا فأكثر , وإن كان بين الصفوف والفائت في تقطيع الصفوف فضيلة الصف لا فضيلة الجماعة عند شيخنا الرملي وأتباعه .

حواشي الشرواني والعبادي  2/301

وكره لمأموم انفراد إلخ ومع انفراده وكراهته لا تفوته فضيلة الجماعة خلافا للمحلي بل فضيلة الصف وفاقا للطبلاوي والبرلسي نعم فضيتله دون فضيلة من دخل الصف والرملي وافق المحلي اه.

Baca Halaman Selanjutnya >>

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *