Batal Umrah Karena Virus Corona, Wajib Bayar Dam

Oleh: K.H. Zainul Muin Husni

Masyayikh Mahad Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo

Miris mendengar berita bahwa jemaah umrah yang sudah di Madinah atau di Jeddah tidak dibolehkan masuk ke Tanah Haram Mekah. Bahkan ada yang sudah melaksanakan ihram di Bir Aly, ternyata dicegat oleh aparat untuk lanjut ke Mekah. Jika demikian, berarti mereka termasuk sebagai muhshar, yakni orang yang terhalang masuk Mekah untuk melaksanakan manasik haji atau umrah. Mengenai ihshar Allah berfirman:

وَأَتِمُّوا۟ ٱلۡحَجَّ وَٱلۡعُمۡرَةَ لِلَّهِۚ فَإِنۡ أُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا ٱسۡتَیۡسَرَ مِنَ ٱلۡهَدۡیِۖ
[البقرة: ١٩٦]

Dan sempurnakanlah haji dan umrah untuk Allah. Jika kalian dihalangi maka wajib (menyembelih) apa yang memungkinkan dari hewan dam. (Q.S. Al-Baqarah:196).

Jadi, kalau mereka sudah melaksanakan ihram sesuai niat dan caranya, maka berarti mereka telah berstatus sebagai muhrim. Larangan-larangan yang berlaku bagi muhrim, semenjak saat itu berlaku bagi mereka. Nah, bagaimana cara untuk keluar dari status muhshar tersebut jika sampai pulang mereka tetap tidak diperkenankan menyelesaikan manasik umrah? Jawabnya, sesuai dengan ketentuan ayat di atas, mereka harus menyembelih hewan sebagai dam. Jika tidak, maka larangan-larangan ihram tetap berlaku bagi mereka, seperti tidak boleh memotong kuku, tidak boleh mencabut rambut, bahkan tidak boleh bersetubuh dengan istri. Berat bukan? Di sinilah tanggung jawab umrah leader untuk memberikan pencerahan pada jemaahnya.

Awalnya, ayat di atas turun dalam konteks ihshar lantaran musuh. Kemudian, di era kontemporer, para ulama memberlakukan hukum ihshar juga pada orang sakit yang tidak memungkinkan untuk menyelesaikan umrahnya. Uniknya, sekarang ini, ihshar malah terjadi lantaran dihalangi oleh otoritas Haram Mekah, subhanallah. []

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *