Bedah Buku Kembar; upaya penguatan sanad keilmuan antar alumni Sukorejo

Diantara salah satu rangkaian rihlah ilmiah kali ini, Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Jannah At-Thohir Besuki Situbondo asuhan KH. Misnawi, S.Pd. menjadi salah satu tempat labuhan ketiga kalinya. Saat rombongan Narasumber datang ke tempat, sambutan Pengasuh beserta pengurus pesantren luar biasa dan cukup hangat dengan nuansa kekeluargaan. Pengasuh menyampaikan bahwa pesantren ini berdiri kurang lebih 15 tahun yang silam dan ternyata, usut demi usut beliau sendiri merupakan salah satu alumnus ponduk sokarajjeh (Pondok Sukorejo). Pantesan, sejak awal masuk pintu gerbang pesantren, nuansa kekeluargaan sudah tidak asing lagi. Narasumber dan Pengasuhnya satu al-mamater dan tonggel ghuruh (tunggal guru).
Bapak H. Herman Budiharto, S.Ag., M.H.I, mantan Ka.Si. PK. Pontren Situbondo menuturkan bahwa PDF Ulya Muftahul Jannah merupakan satu-satunya lembaga PDF di Wilayah Situbondo. Sehingga lembaga ini membutuhkan support dan kerja sama dari pihak lembaga lain, terutama lembaga Mahad Aly Situbondo dalam bidang inovasi pembelajaran utamanya berkaitan dengan materi Kaidah Fikh dan Ushul Fikh. Kabar baiknya, buku kembar ini akan dijadikan pegangan wajib bagi siswa-siswi PDF Ulya Situbondo.
Ustadz Khairuddin Habziz, M.H.I menyampaikan bahwa pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din seharusnya bisa mengelaborasikan kaidah fikh dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga praktik keseharian santri, khusunya yang berhubungan dengam hukum furu’iyah, bisa di cover denga kaidah fikh. Masih menurut beliau, bahwa belajar Kaidah Fikh tidak harus bisa dan mampu baca kitab. Hanya butuh ketekunan dan keuletan untuk menguasainya. Sehingga seluruh santri dan siswa mempunyai potensi belajar dan menguasai kaidah fikh.
Kaidah Fikh ini merupakan kaidah umum yang terlahir dari fikh sendiri. Karena dari sekian banyak permasalahan furu’iah dalam fan fikh, ada yang mempunyai beberapa persamaan prinsip sehingga perlu dibuatkan kaidah umum untuk merangkum keseluruhannya. Sementara fikh yang merupakan hasil dari proses ijtihad ulama, terlahir dari proses panjang yang bernama Ushul Fikh. Jadi, Ushul Fikh dan Kaidah Fikh sejatinya merupakan satu kesatuan sebagai bagian dari proses Istinbatul Ahkam (penggalian hukum).
Akhirnya, bagaikan makan tanpa penyedap rasa, nampaknya kurang pas kalau acara ini tidak diakhiri dengan selfie bareng. Dimana-mana kalau tidak diabadikan, rasanya kurang pas dan tidak sah disebut acara. Itulah thoriqoh selfiah yang sedang viral di abad ini. Semoga bermanfaat …!

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *