Belajar Membangun Rumah Tangga Dengan Uqud al-Lujain

Nama Kitab            : Syarḥ ’Uqūd al-Lujaīn fī Bayān Ḥuqūq al-Zaujain

Penulis                   : Muḥammad ibn ‘Umar Nawawī al-Jāwī al-Bantanī

Peresensi                : Ikrimatul Hasanah dan Faidatul Ilahiyah HM

Rumah tangga yang harmonis, tentu menjadi idaman bagi setiap insan. Rumah tangga yang mengantarkannya semakin dekat pada sang Khāliq, rumah tangga yang melahirkan generasi-generasi yang saleh-salihah. Rumah tangga yang menjadi tempat kembali untuk mencurahkan isi hati dan rumah tangga yang menjadi cerminan untuk orang lain. Tetapi itu semua tidak mudah untuk kita raih. Banyak hal yang harus kita lalui, untuk mewujudkan itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Rumah tangga yang harmonis bukan berarti rumah tangga yang didasari dari saling kenal atau bahkan pacaran yang sudah lama. Itu semua tidak menjamin keharmonisan dalam rumah tangga. Karena bisa jadi keharmonisan rumah tangga didapat oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah kenal bahkan tidak pernah bersua tetapi takdirlah yang mempertemukannya dalam ikatan suci yakni pernikahan. Pernikahan itu juga bukan untuk bahagia melainkan untuk mendapatkan berkah, dari keberkahan itulah kemudian lahir rumah tangga yang bahagia dan harmonis. Bahkan dari keberkahan itulah bisa lahir cinta dari sepasang suami istri yang sebelumnya mungkin belum ada cinta di antara mereka.  Dari itulah kenapa Rasulullah ketika menikahkan putrinya  beliau berdoa “Bārakallāhu lakumā wa Bāraka alaikumā wa jama’a bainakumā fī khair”.

Ada sebuah kitab yang sangat kecil tetapi banyak mengandung hikmah yang membahas mengenai persoalan rumah tangga berjudul “Syarḥ ’Uqūd al-Lujaīn fī Bayān Ḥuqūq al-Zaujain” yang dikarang oleh syekh Muḥammad ibn ‘Umar Nawawī. Kitab ini sangat berguna bagi seseorang yang hendak mengarungi mahligai rumah tangga. Sehingga sangat dianjurkan untuk mereka untuk mengaji kitab yang sangat ringkas dengan faidahnya yang begitu luas.

Yang membuat penulis tertarik untuk meresensi kitab ini adalah karena kitab ini dirangkai dengan sistematis. Pembahasan kitab ini diklasifikasikan menjadi empat fasal, dalam setiap fasal disertai dengan ayat dan hadis yang menjadi pijakan serta hikayat yang menjadi ‘ibrah (pelajaran) dan motivasi bagi pembacanya. Pengarang kitab ini juga tak lupa menyertakan faidah-faidah sebagai penyempurna pengetahuan.

Fasal pertama menjelaskan tentang hak-hak seorang istri yang wajib dipenuhi oleh suami seperti kewajiban memperlakukan istri dengan baik, memberi nafkah, membayar mahar, mengajarkan ilmu yang dibutuhkan untuk ibadahnya seorang istri dll.

Fasal yang kedua menjelaskan tentang hak-hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri seperti kewajiban taat pada suami selain kemaksiatan, memperlakukan suami dengan baik, menyerahkan dirinya untuk suami, menjaga diri serta menutup aurat dari laki-laki lain, serta tidak meminta sesuatu yang melebihi kebutuhannya, dll.

Fasal ketiga menjelaskan tentang keutamaan salatnya perempuan di dalam rumah.

Fasal ke empat menjelaskan tentang keharaman bagi laki-laki melihat wanita yang bukan mahramnya begitu juga sebaliknya. Di akhir pembahasan, muṣannif juga membahas tentang perempuan yang jelek perangainya seperti menampakkan perhiasan pada laki-laki lain.

Selain susunan yang sistematis, bahasa yang digunakan dalam kitab ini sangat mudah untuk dipahami. Namun kitab ini lebih banyak menjelaskan tentang kewajiban dan larangan- larangan bagi perempuan tanpa melihat aspek lain yang mencegah perempuan untuk melakukan kewajiban dan mendorong untuk melakukan larangan. Contoh, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa istri dilarang menggunakan harta suami, bahkan hartanya sendiri tanpa izin suami karena istri disamakan dengan orang yang dilarang menggunakan harta (maḥjūrah), dalam menghukumi hal ini pengarang kitab tidak memandang aspek lain seperti misalnya ada orang yang sangat membutuhkan harta datang pada istri tersebut padahal suaminya sedang tidak ada dirumah, apakah istri masih dilarang menggunakan harta tersebut demi menolong orang yang sangat membutuhkan atau boleh melihat situasi yang demikian?

Dalam kitab tersebut juga dijelaskan bahwa istri wajib berdiri (untuk menghormati) ketika suami datang atau pergi, istri juga dilarang keluar rumah tanpa izin suami sekalipun suaminya lalim dan banyak sekali kewajiban dan larangan bagi istri yang jika kita kaitkan dengan situasi dan kondisi di zaman sekarang akan sulit sekali untuk diterapkan.

Dalam kitab ini juga banyak cerita yang dapat kita petik hikmahnya, di antaranya, dalam sebuah kisah diceritakan bahwa seorang laki-laki yang memiliki istri yang jelek perangainya, suatu hari sang suami sedang pergi mencari kayu bakar, lalu saudara suami tersebut datang ke rumahnya, lalu sang istri bertanya, “Anda siapa?”, saudara itu menjawab, “Aku adalah saudara suamimu yang ingin berkunjung padanya”, “Dia sedang pergi mencari kayu bakar, semoga Allah tidak mengembalikannya”, kata si istri sambil mencaci suaminya. Tiba-tiba sang suami datang bersama seekor harimau yang membawa seikat kayu bakar lalu ia menurunkan kayu bakar dari punggung harimau itu, seraya menyuruh harimau itu pergi. Kemudian setelah mengucapkan salam ia mempersilahkan saudaranya untuk masuk ke rumahnya seraya disambut dengan hidangan serta didoakan sehingga saudara tersebut takjub dengan kesabaran sang suami terhadap  cacian istrinya. Pada tahun kedua saudara itu datang lagi ke rumah tersebut, lalu seorang perempuan membuka pintu seraya berkata, “Siapa anda?”, “Aku adalah saudara suamimu yang ingin mengunjunginya”, kata saudara itu. Lalu sang istri itu menyambutnya dengan baik serta memuji-muji suaminya serta memperkenankan untuk menunggu suaminya. Tak lama kemudian sang suami datang membawa kayu bakar di punggungnya, setelah menurunkan kayu bakar, sang suami menyuruhnya masuk ke dalam rumah serta memberi hidangan. Ketika saudara itu mau pulang ia bertanya pada si suami tentang apa yang telah dilihatnya termasuk tentang seekor harimau. Si suami pun menjawab: “Istriku yang dulu sudah wafat dan aku sabar terhadap caciannya, mungkin sebab itulah Allah memberikan harimau untuk membantuku dan ketika Allah mengirimkan istri salihah padaku, harimau itu pergi.”

Hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini adalah kita harus bersabar terhadap pasangan kita bagaimanapun keadaannya, karena Allah pasti akan membalas dengan yang lebih baik baik di dunia ataupun di akhirat.

Walhasil, Dengan membaca kitab ini insyaallah akan banyak hikmah yang dapat kita ambil. Semoga kita juga mampu mengamalkannya. Selamat membaca!

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *