Benarkah Ijazah Ma’had Aly Diakui?

Ma’had Aly merupakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) berbasis pesantren. Pendidikan yang diselenggrakan di Ma’had Aly tidak sama dengan pendidikan yang diselenggarakan di kampus-kampus keagamaan Islam pada umumnya. Pembelajaran di Ma’had Aly lebih menitik beratkan pada kajian kitab kuning ala pesantren.

Oleh karena itu, siapapun yang hendak belajar di lembaga perguruan tinggi ini harus sudah mapan dalam membaca kitab kuning. Penguasaan tentang ilmu nahwu, sharraf, dan fikih-fikih dasar harus benar-benar matang di ‘luar kepala’.

Secara faktual, Ma’had Aly sudah berdiri sejak tahun 1990. Penggagas dan pendiri pertamanya adalah KHR. As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh PP. Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo. Pendirian Ma’had Aly bertujuan untuk melahirkan kader-kader ulama yang benar-benar menguasai khazanah keilmuan kutub al-turats, bukan ulama yang hanya pandai beretorika namun awam soal tashrif.

Seiring berjalannya waktu, Ma’had Aly terus berikhtiar mengembangkan diri, baik dari aspek kualitas maupun formalitas. Dan terhitung sejak tahun 2016 hingga tahun 2018 Kementrian Agama secara bertahap telah meresmikan pendirian sejumlah satuan pendidikan Ma’had Aly. Dilansir dari keterangan Ketua AMALI, KH. Dr. Abdul Jalal, hingga saat ini sudah ada 60 Ma’had Aly yang didirikan di berbagai Pesantren di Indonesia.

Ikhtiar formalisasi Ma’had Aly yang sudah diusahakan sejak tahun 2016 silam kini sudah mulai menemukan titik terang. Kemarin, Rabu (09/09) Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono menegaskan bahwa ijazah Ma’had Aly diakui.

“Ijazah yang dikeluarkan penyelenggara Pendidikan Ma’had Aly diakui secara resmi,” tegas Waryono dalam webinar dan halaqoh nasional yang digelar Asosiasi Ma’had Aly se-Indonesia (AMALI), Jakarta, Rabu (09/09).

“Silakan jika sarjana Ma’had Aly ingin menempuh sekolah pascasarjana di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam,” lanjutnya.

Keterangan ini disampaikan oleh Pak Waryono dalam acara webinar dan halaqoh nasional yang digelar oleh Asosiasi Ma’had Aly se-Indonesia (AMALI), pada hari Rabu (09/09).

Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber. Selain Waryono, hadir juga Ketua AMALI KH. Dr. Abdul Jalal, Mudir Ma’had Aly Tebuireng, Nur Hanan, dan Kasubdit Pendidikan Diniyah Ma’had Aly, Aceng Abdul Aziz.

Dalam acara tersebut Kiai Jalal juga mengingatkan agar Ma’had Aly jangan sampai terbuai oleh pesona formalitas, fokus utama Ma’had Aly harus tetap pada peningkatan kualitas mutu. “Tujuan utama Ma’had Aly adalah kualitas bukan kuantitas atau formalitas,” ungkap Kiai Jalal yang juga merupakan dosen senior di Ma’had Aly Situbondo.

Akhiran, semoga apa yang disampaikan Pak Waryono tentang status ijazah Ma’had Aly dalam acara tersebut bukan hanya sekedar wacana atau ungkapan penghibur semata. Karena kejelasan status ijazah Ma’had Aly menjadi salah satu hal terpenting bagi para Mahasantri agar mereka tidak terus-menerus dibayang-bayangi sebuah pertanyaan “Benarkah Ijazah Ma’had Aly Diakui?”.[srf]

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *