Bibit Raja dan Para Penghianat

Oleh: Mamar Sauki

Alkisah, terdapat sebuah kerajaan adikuasa yang dipimpin oleh raja yang arif, raja Nauval namanya. Di bawah kuasanya, semua negeri menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, negeri dambaan yang makmur dan tenteram. Ia disegani bukan hanya oleh rakyatnya, melainkan juga oleh kaisar-kaisar yang lain. Raja Nauval adalah raja berpengaruh yang selalu memperlakukan rakyatnya dengan baik, hingga apapun yang ia titahkan pasti akan disambut baik dan dipatuhi.

Pada suatu malam purnama, raja Nauval mengalami sebuah mimpi yang seolah hadir untuk menjawab kegelisahannya. Beberapa tahun sudah ia berpikir keras bagaimana ia akan menemukan pengganti takhta. Ia merasa sudah waktunya untuk istirahat karena usianya sudah mulai senja. Mimpi malam itu menjadi petunjuk yang sangat bermakna bagi raja Nauval.

Idealnya, pengganti raja adalah pangeran. Namun raja Nauval sama sekali tidak keberatan jika penerus takhta bukanlah anak keturunannya sendiri. Baginya, siapapun yang baik dan kompeten, maka dialah yang berhak untuk menggantikannya. Tapi bagaimanapun, Ia tetap harus benar-benar selektif dalam memilih pengganti demi kepentingan bersama.

Sesuai dengan isyarat mimpi, keesokan harinya raja Nauval mengumpulkan seluruh pemuda dari seluruh pelosok negeri. Ia akan mengadakan sebuah sayembara besar untuk menentukan orang yang paling tepat untuk menggantikannya. Di pagi yang cerah itu, ratusan pemuda berada di halaman istana untuk memenuhi panggilan sang raja, meskipun mereka tak tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan atau dititahkan oleh raja Nauval yang sangat mereka kagumi itu.

Dalam sambutannya pagi itu, raja Nauval menyampaikan tujuan mengumpulkan seluruh pemuda di istananya sekaligus menjelaskan aturan main dalam sayembara besar yang akan diadakannya. Para pemuda tampak antusias mendengarkan. Setelah sambutan itu, para ajudan raja mulai membagikan sebuah pot yang berisi biji tanaman kepada masing-masing pemuda. Biji itulah yang akan mereka bawa pulang untuk ditanam dan dirawat. Mereka akan kembali lagi ke istana setahun kemudian dengan membawa apa yang tumbuh dari biji tanaman yang mereka terima. Satu pun dari mereka tak ada yang tahu biji apa yang tertanam dalam pot itu.

Sejak hari itu, para pemuda mulai disibukkan dengan pot sayembara. Begitu pula Navis, pemuda rendah hati yang tinggal di ujung negeri. Di sela-sela kesibukan, ia selalu meluangkan waktu untuk menyiram dan merawat biji yang ia terima. Sesekali, ia beri pupuk biji tanaman itu agar tumbuh subur. Namun sebulan berlalu, biji itu belum jua bertunas.

Sementara itu, di luar sana, teman-teman Navis sering menceritakan biji-biji mereka yang sudah mulai tumbuh. Navis hanya bisa bersabar dan terus berusaha merawat bijinya dengan baik. Ia yakin esok hari bijinya akan berbunga dan berbuah.

Enam bulan berlalu, Navis masih melihat pot gersang di depan rumahnya. Meski kadang ragu, ia tetap gigih tak berhenti merawat karena ibunda tak surut menyamangatinya.

Kurang satu bulan sayembara raja Nauval akan berakhir. Para pemuda negeri sudah tak sabar ingin menunjukkan hasil jerih payahnya pada raja. Di saat yang bersamaan, Navis malah semakin merasa pesimis. Ia malu jika harus mengembalikan pot itu masih dalam keadaan semula. Ia khawatir raja akan memarahinya.

Hari yang ditunggu pun tiba, seluruh pemuda negeri berkumpul kembali di halaman istana guna menanti pemenang sayembara yang akan menjadi pengganti raja Nauval. Meski cemas dan bimbang semalaman, Navis tetap tidak mau lari dari masalah. Ia sudah terlatih menghadapi kesulitan dengan tenang dan ia selalu berhasil melakukannya.

Betapa pun ia merasa paling rendah di antara pemuda lain yang datang dengan macam tanaman sedemikian rupa, tapi ia masih tampak tenang dengan pot kosong di tangannya. Ia ditertawakan oleh setiap orang yang melihat pot bawaannya. Beberapa pemuda lain sempat melihatnya dengan mimik sok iba dan prihatin “Oh kawan, betapa tandusnya potmu. Kasihan kau”. Bahkan salah satu dari mereka sengaja mencemooh “Wah, indah benar tanamanmu sampai kutak bisa melihatnya”. Ia menanggapinya dengan lapang dada. Pasrah menghadapi segala akibat yang akan ia terima. Yang terpenting, ia sudah berusaha.

Suasana istana lebih ramai dibanding setahun lalu saat pembagian biji. Hari itu setiap pemuda hadir bersama rombongan keluarga yang ingin melihat hasil sayembara. Dan di tengah-tengah itulah, sebuah kebenaran turun dari langit menghampiri Navis. Kebenaran yang akan dijawab oleh sang waktu, yang tidak akan pernah kalah oleh apapun, dan sampai kapanpun.

Saatnya raja Nauval berbicara. “Hari ini, kalian datang ke istana untuk memenuhi perintahku satu tahun yang lalu. Kalian datang dengan membawa bunga-bunga indah nan harum untukku. Terima kasih atas kesungguhan kalian merawat pot itu selama satu tahun. Hari ini, ada satu hal yang harus kalian ketahui; bahwa biji yang ada di dalam masing-masing pot kalian adalah biji yang tak mungkin tumbuh karena sudah aku didihkan dengan air raksa. Aku tahu, kalian telah mengganti biji itu dengan biji lain ketika kalian mulai mengkhawatirkan biji kalian yang tak kunjung tumbuh. Tapi aku juga tahu, bahwa ada satu orang di antara kalian yang hari ini dengan penuh kejujuran membawakanku pot dengan biji yang asli dariku. Dia tak pernah mengganti biji itu. Dialah yang orang aku cari.”

Raja Nauval menghampiri Navis yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Raja Nauval memeluknya erat-erat sebagai rasa bangga tak terhingga, juga sebagai ucapan terima kasih atas kejujuran yang masih ia junjung tinggi sebagai harga mati. Saat itu juga Navis terpilih sebagai pemenang sayembara dan dinobatkan langsung oleh raja Nauval sebagai adipati kerajaan. Ibunda Navis Albar menangis terharu atas apa yang ia saksikan. Ajarannya tentang kebaikan tak sia-sia, ia sedang berbuah manis hari itu di depan banyak orang.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *