Bolehkah Kami Mengharamkan Poligami

Oleh: Fina Lailatul Masruroh

Poligami merupakan isu yang tak habis dibicarakan atau didiskusikan di kalangan masyarakat. Karena ibarat sebuah koin, poligami pun memiliki dua sisi yang berbeda. Ada sisi baik dan buruknya, sehingga pernbicangan tentang poligami selalu menarik untuk diangkat. Bayangkan saja ketika seseorang berpoligami dengan dalih legalitas dari agama namun di saat yang bersamaan perbuatan tersebut justru menyakiti hati perempuan. Wah, manusia mana yang ingin didua? Saya yakin tak ada.

Makanya menjadi aneh kemudian, ketika seseorang ngotot berpoligami dan mengorbankan hati sang istri yang tersakiti. Padahal dalam Islam sama sekali tak ada dalil yang membolehkan seseorang menyakiti hati perempuan. Di sinilah kemudian pertentangan tersebut muncul. Baiklah, mari kita berbincang sebentar soal poligami.

Budaya poligami sudah ada sejak zaman jahiliah, baik di kalangan Arab ataupun Yahudi dan Persi. Sebuah sejarah menceritakan bahwa dulu para raja dan sultan membangun rumah-rumah besar yang di dalamnya bisa memuat lebih dari 1.000 orang sebagai tempat tinggal para istri dan anak keturunannya. Waw! Dalam undang-undang Yahudi––sampai sekarang––pun tetap membolehkan seorang laki-laki memiliki banyak istri tanpa adanya batasan.

Ada sebuah ungkapan menarik dari Zakiah Daradjat, seorang anggota MUI dosen IAIN Jakarta, dan seorang psikoetrapis terutama bagi perempuan Muslimah. Ia mengatakan:

“Pada prinsipnya, seharusnya tidak ada seorang pun yang melakukan poligami. Akan tetapi ada pengecualian bagi mereka yang karena istrinya mempunyai kelemahan tertentu atau disebabkan kondisi yang sangat mendesak. Untuk masalah-masalah tertentu terbuka pintu bagi mereka, akan tetapi ini hanya merupakan kasus force majeure.

Pernyataan Zakiah Daradjat di atas sesuai dengan apa yang dipraktikkan Rasul. Rasulullah mulai berpoligami setelah wafatnya sayyidatinā Khadījah raḍiyallāh ‘anhā. Kala itu beliau sudah berusia 50 tahun. Istri yang dinikahi merupakan para janda kecuali siti ‘Ā’isyah. Dua fakta ini membuktikan bahwa beliau berpoligami bukanlah untuk memenuhi nafsu birahi akan tetapi untuk menyukseskan dakwah, membantu dan menyelamatkan para perempuan yang kehilangan suami mereka. Lebih luasnya begini:

  1. Dua orang di antara ummahāt almukminīn adalah putri dari orang-orang yang banyak berkorban demi Rasulullah dan agama Islam. Yaitu, ‘Ā’isyah putri Abū Bakr al-Ṣiddīq, Hafṣah binti ‘Umar ibn Khaṭṭāb. Selain itu, beliau juga menikahkan putrinya Fāṭimah dengan ‘Alī ibn Abī Ṭālib, juga Ruqayyah kemudian Ummu Kulṡūm dinikahkan dengan sahabatnya: Uṡmān ibn ‘Affān. Hal tersebut guna menjaga hubungan yang benar-benar erat dengan orang-orang yang dikenal paling banyak berkorban untuk Islam.
  2. Di antara tradisi bangsa Arab adalah menghormati hubungan perbesanan. Keluarga besan menurut mereka merupakan salah satu pintu untuk menjalin kedekatan antara beberapa suku yang berbeda. Menurut anggapan mereka, mencela dan memusuhi besan merupakan aib yang dapat mencoreng muka. Maka dengan menikahi beberapa perempuan yang menjadi ummahāt almukminīn, Rasulullah hendak mengenyahkan gambaran permusuhan beberapa kabilah terhadap Islam. setelah Ummu Salamah dari Bani Makhzūm yang satu perkampungan dengan Abū Jahl dan Khālid ibn Walīd dinikahi Rasulullah, membuat sikap Khālid ibn Walīd tidak segarang waktu perang Uhud. Bahkan akhirnya dia masuk Islam tak lama setelah itu. Begitu pula Abū Sufyān yang tidak berani menghadap beliau dengan permusuhan setelah putrinya Ummu Ḥabībah dinikahi oleh Rasulullah. Begitu pula yang terjadi dengan Bani al-Mustḥaliq dan Bani al-Naḍir yang tidak lagi melancarkan permusuhan setelah beliau menikahi Juwairiyah dan Ṣafiyah. Bahkan Juwairiyah merupakan perempuan yang paling banyak mendatangkan barakah bagi kaumnya. Setelah dinikahi Rasulullah, para sahabat membebaskan seratus keluarga dari kaumnya. Mereka berkata “Mereka adalah besan Rasulullah ṣallallāh ‘alaihi wa sallam” hal tersebut tentu mengundang simpati dan kesan di jiwa manusia.
  3. Untuk Pemberdayaan Perempuan. Rasulullah memilih istri dari berbagai usia dengan kemampuan mereka masing-masing, hal itu demi mewujudkan cita-cita Islam dalam memberdayakan perempuan. Dengan begitu beliau bisa membersihkan diri mereka, mendidik, mengajarkan syariat, serta memberdayakan mereka dengan pengetahuan Islam. Kemudian beliau juga membekali mereka untuk bisa mendidik para perempuan di pedalaman yang masih badui atau yang sudah beradab, baik yang muda atau yang tua, sehingga mereka sudah cukup mewakili dakwah terhadap seluruh perempuan.
  4. Untuk menolak anggapan larangan menikahi mantan istri anak angkat. Hal ini dibuktikan dengan pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahṣ, yang sebelumnya adalah istri Zaid (putra angkat Rasulullah).

Lalu, adakah praktek poligami semacam Rasulullah di atas? Barangkali ada, tapi mayoritas tidak demikian adanya. Banyak sekali yang menyimpang dari aturan. Bahkan di suatu daerah, poligami sudah menjadi sebuah budaya hingga ada suatu ungkapan “Kalau orang kaya di daerah tersebut tidak berpoligami maka tidak disebut orang kaya”. Jika memang untuk meneladani rasulullah kenapa mereka tidak menikahi janda-janda yang sudah berusia senja dan tidak mampu lagi hidup mandiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya. Banyak dari mereka yang justru menikahi perawan-perawan atau janda yang masih mampu mandiri tanpa menikah lagi.

Dari pemaparan di atas seakan-akan poligami dijadikan sebagai pintu utama bagi seorang laki-laki untuk memuaskan nafsu birahinya tanpa mempertimbangkan maslahah dan tujuan dari poligami tersebut. Secara tekstual Islam memang tidak pernah melarang praktek poligami. Allah berfirman:

Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya) maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.  [Q.S. An-Nisā’: 3]

Berdasarkan ayat tersebut, poligami bukanlah sesuatu yang mutlak diperbolehkan oleh agama. Karena ada syarat keadilan yang harus dipenuhi. Ulama berbeda pendapat tentang keadilan dalam ayat tersebut; apakah bersifat mutlak tidak bisa diusahakan sama sekali atau masih bisa diusahakan. Beberapa penafsiran ayat tersebut mengungkapkan bahwa keadilan yang tidak mungkin bisa dilakukan walaupun sudah diusahakan sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat di atas adalah keadilan dalam cinta atau perasaan yang bersifat kemanusiaan. Ada ungkapan literatur agama yang menyebutkan:

لَيْسَ فِى الْقَلْبِ حُبَّانِ وَ لَافِى الْوُجُوْدِ رَبَّانِ.

“Dalam satu hati tak mungkin ada dua cinta dan dalam wujud ini tidak mungkin ada dua tuhan.”

Abū Ja’far al-Ṭabarī dalam tafsirnya juga menyebutkan bahwa keadilan yang tidak bisa diusahakan adalah keadilan dalam hal cinta dan syahwat. Berdasarkan hal tersebut maka keadilan yang disyaratkan dalam poligami merupakan keadilan dalam bentuk material seperti pembagian giliran bermalam dan nafkah. [Tafsīr al-Ṭabarī: 566/VII]

Namun beda halnya dengan Muḥammad Maḥmūd al-Ḥijāzī yang berpendapat dalam kitab al-Tafsīr al-Wāḍiḥ-nya bahwa karena keadilan yang dimaksud oleh ayat tersebut merupakan keadilan yang bersifat immaterial seperti cinta, maka menurut beliau poligami dalam Islam hukumnya tidak boleh secara mutlak (tanpa batasan dan syarat). Karena keadilan dalam pernikahan yang dimaksud dalam ayat di atas tidak mungkin bisa dicapai. [Al-Tafsīr al-Wāḍiḥ: 337/I]

Selain beliau, beberapa ahli fikih juga ada yang melarang poligami dengan dalil hadis Nabi yang berisi larangan sayyidinā ‘Alī mempoligami putrinya, Siti Fāṭimah. Rasulullah bersabda :

“Bani Hisyām ibn Mughīrah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan ‘Alī ibn Abī Ṭālib. Namun aku tidak mengizinkannya” kemudian beliau saw. bersabda “Aku tidak mengizinkannya.”, lalu bersabda lagi “Aku tidak mengizinkannya, sesungguhnya putriku adalah bagian dari diriku, aku menderita disebabkan penderitaannya dan aku tersakiti sebab tersakiti hatinya.” [H.R. Bukhārī, Muslim, Aḥmad, Ibn Mājah, Abū Dāwud, Tirmiżī, Nasā’ī dan Ibn Ḥibbān]

Sedangkan menurut Syekh ‘Alī Jum’ah, ayat di atas bukanlah perintah poligami. Dalam usul fikih dikenal dengan istilah ẓāhir dan naṣ. Ẓahir itu bukanlah substansi, tapi hanya makna yang langsung bisa ditangkap. Tapi yang lebih penting adalah substansi dari naṣ itu; makna yang sebenarnya dimaksudkan dari turunnya sebuah dalil. Maka dalam dalil-dalil poligami, makna ẓahir-nya memang kebolehan dari berpoligami. Namun bukan berarti itu makna yang sesungguhnya; tapi substansi dari dalil-dalil itu adalah sebuah pembatasan seseorang yang terlanjur nikah lebih dari empat. Kalau sudah menikahi satu orang istri, maka bukan berarti ia diperintah untuk menikah lagi.

Pada asalnya hukum poligami adalah mubah sebagaimana Q.S. An-Nisā’ ayat 3. Namun jika seorang suami meyakini bahwa andai ia berpoligami maka akan berbuat lalim, menyengsarakan istrinya dan tidak mampu berbuat adil terhadap mereka, maka hukum berpoligami haram. Hukum poligami bisa makruh, jika seorang suami menduga bahwa kemungkinan dia tidak dapat berbuat adil kepada istrinya. Dan hukum poligami bisa jadi wajib ketika suami meyakini dirinya akan berbuat zina jika tidak berpoligami.

Dari sana dapat disimpulkan bahwa Islam tidak secara mutlak membuka pintu poligami lebar-lebar tanpa syarat dan batas, tidak pula menutupnya rapat-rapat. Namun jika pada prakteknya kemudian timbul bahaya yang lebih besar dibanding maslahahnya maka poligami bukan lagi perbuatan yang diperbolehkan oleh agama. Poligami, walaupun dibolehkan tetaplah merupakan pintu darurat yang hanya boleh dilalui oleh mereka yang sangat membutuhkan dengan tetap memperhatikan prosedur serta ukuran maslahah yang hendak dicapai.

Jadi, poligami itu tidak mudah. Tapi kenapa justru banyak yang menginginkannya. Kalau ingin poligami, lihat dulu pada kualitas diri, keadaan rumah tangga, tujuan dan siapa yang akan dinikahi. Kalau yang dinikahi adalah perempuan yang masih memungkinkan untuk menemukan bujangan yang baik, maka kami kira Islam pun setuju untuk tidak membolehkan poligami dalam permasalahan ini. Ah, sudahlah. Semakin “sesuatu” itu sering dibahas maka akan semakin bikin penasaran untuk mencobanya. Semoga ini adalah tulisan terakhir tentang poligami.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *