Catatan Moderator: Dengan Apa ‘BahZOOMasail’ Menjawab?

Muhammad Riskil Azizi, M. HI.

(Dosen Ma’had Aly Situbondo, Founder Afkarian.id, Penulis Buku Ramadanologi, dan Ushul Fikih Milenial)

Sebelum membuka Bahtsul Masail Online yang membahas shalat Jumat bergelombang ini, dalam pengantarnya Kiai Afifuddin Muhajir selaku muharrir/mushahhih menanyakan, dengan cara apa menjawab persoalan ini? Beliau menjawab dengan metode bermadzhab. Bisa saja dengan bermadzhab secara qauly, manhajy, atau mix.

Bermadzhab secara qauly artinya menghadirkan kaul-kaul ulama yang relevan untuk menjawab persoalan yang dibahas. Kalau merujuk pada buku Metodologi Kajian Fiqh anggitan beliau, bukan sekadar bermadzhab qauly, melainkan bermadzhab qauly intiqady. Artinya, pendapat fuqaha tersebut dihadirkan setelah dilakukan telaah kritis terhadap pendapat tersebut.

Umumnya, cara bermadzhab inilah yang sering dipilih dalam berbagai forum Bahtsul Masail. Selama masih ada kaul ulama yang dinilai relevan untuk menjadi acuan jawaban, maka tidak perlu melakukan pendekatan klinis (madzhab manhajy) untuk menjawab persoalan.

Sedangkan madzhab manhajy artinya mengadopsi metode ijtihad yang telah dirumuskan oleh imam madzhab untuk memperoleh kesimpulan hukum. Metode ini digunakan ketika tidak ada ‘ibarat pendapat ulama yang dinilai relevan untuk dibuat acuan.

Jadi, kalau masalahnya sudah ada jawabannya dalam kitab-kitab, ya tinggal mengadopsi jawaban dalam kitab-kitab itu. Kalau nggak ada, ya ‘ijtihad’ sendiri. Untuk mengatakan bahwa jawabannya tidak ada dalam kitab-kitab sehingga harus ijtihad sendiri, perlu ketekunan dan keluasan (tabahhur) bacaan. Jangan bilang nggak ada kalau sebelumnya nggak pernah atau tak berpayah-payah membaca.

Bagaimana dengan Bahtsul Masail Daring lalu? Metode apa yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan?

Sebenarnya hal fundamental yang perlu dicabar sebelum masalah bagaimana menjawab persoalan adalah bagaimana memahami persoalan tersebut.

Musyawarah tersebut tidak terlalu mengeksplorasi bagaimana pandangan para partisipan terhadap fenomena pandemi Covid-19 yang menjadi konteks BM ini, apakah fenomena medis semata ataukah juga hal lain. Pemahaman forum terhadap konteks akan sangat mempengaruhi rumusan jawaban.

Akan tetapi, sejauh amatan saya, walaupan forum rata-rata berisi partisipan yang secara keilmuan monodisiplin, tidak ada yang menilai bahwa pandemi Covid-19 adalah program Thanos untuk melakukan depopulasi penduduk galaksi menggunakan infinity stones.

Kembali ke soal metode menjawab. Kalau melihat empat pertanyaan yang diajukan, ada yang tersedia penjelasan jawabannya dalam syariat dan kitab-kitab fikih, ada pula yang tidak. Dalam hukum Islam, memang ada persoalan yang dibicarakan hukumnya oleh syariat (manthuq bih), ada pula yang didiamkan (maskut ‘anhu).

(Mengenai’ ‘yang dibicarakan’ dan ‘yang didiamkan’ oleh syariat ini, penjelasannya dapat ditelisik salah satunya dalam buku Ushul Fikih Milenial, karya siapa nggak kenal)

Namun demikian, mengamati proses diskusi serta rumusan jawaban yang telah ditetapkan, terlihat bahwa tidak ada yang benar-benar lepas dari kaul-kaul ulama (qauly). Akan tetapi, pendapat-pendapat para ulama yang dipilih tersebut telah memperoleh servis pembacaan kritis (intiqady) serta tidak dicerabut dari basis metodologis (manhajy).

Dalam persoalan yang sudah ada jawaban qauly-nya (seperti soal pertama), dipaparkan pula metode atau manhaj berpikir yang mendasari qaul tersebut. Sedangkan persoalan yang mendesak penggunaan manhaj (metode istinbath), tidak serta merta mengabaikan paparan pendapat ulama terdahulu.

Kasus yang tidak ada penjelasannya dalam syariat dan kitab-kitab fikih dalam BM ini adalah apakah pandemi Covid-19 itu tergolong udzur yang membolehkan physhical distancing dalam shaf (تفريج الصفوف) shalat jamaah.

Forum menganalogikan (ilhaq) pandemi Covid-19 dengan cuaca panas atau kekhawatiran akan kehilangan harta yang membolehkan seseorang tidak mengisi shaf yang kosong di depannya karena sama-sama membahayakan.

Forum BM tentu tidak memiliki otoritas untuk menetapkan bahwa pandemi Covid-19 adalah sesuatu yang membahayakan. Maka dari itu, yang dirujuk dalam hal ini adalah negara. Melalui badan yang ditunjuk, negara memutuskan bahwa Covid-19 membahayakan dan untuk mencegahnya harus melakukan physical distancing.

Kalau harus physical distancing saat jamaah jumat gara-gara covid, apa shalat jum’at masih wajib atau tidak? Forum memutuskan masih wajib kecuali di zona yang tidak bisa dikendalikan.

Bagaimana kalau masjid yang seharusnya menerapkan physical distancing dalam shalat Jumat ternyata tidak menerapkannya? Masih wajibkah shalat jum’at di situ? Rumusan jawaban tampaknya tidak secara eksplisit menjawab pertanyaan tersebut.

Soal shalat jumat bergelombang dalam satu tempat yang merupakan pertanyaan inti dalam BM ini juga persoalan maskut ‘anhu, tak tersedia jawabannya di kitab-kitab fikih. Forum-forum BM lainnya terpantau belum menemukan ibarat yang sharih nan spesifik dari kutub at-turats menjelaskan hukum persoalan tersebut.

Kalau fatwa-fatwa kontemporer dari lembaga fatwa atau personal, tentu ada, baik yang membolehkan maupun yang tidak. Tetapi pesantren lebih memilih akar tradisi intelektualnya (kutub at-turats) sebagai pedoman.

Lagi-lagi, forum menganalogikan persoalan ini dengan konsep ta’addudul Jum’ah (mendirikan shalat jum’at lebih dari satu dalam satu kawasan) yang penjelasannya terhampar dalam kitab-kitab fikih. Berikut kesimpulannya:

“Secara manhajiy, dengan mengkaji dalil-dalil dan dasar-dasar yang ada, khususnya yang menyangkut larangan ta’addudul jum’at, bisa dikatakan “tampaknya tidak ada perbedaan (فارق) antara ta’addud al-jum’ah di beberapa tempat dengan ta’addud al-jum’ah di satu tempat.” Karena keduanya sama-sama dapat mewujudkan tujuan syari’at, yakni selain untuk menunaikan kewajiban ritual juga dapat menjadi media syi’ar agama dan persatuan umat Islam.

“Maka hal-hal yang menjadi alasan bolehnya ta’addudul jum’at di beberapa tempat juga menjadi alasan bolehnya ta’addudul jum’at di satu tempat secara bergelombang.”

Inisiatif mengadakan Bahtsul Masail secara online ini penting setelah Ramadan lalu pengajian khas pesantren ramai di medsos. Milenial perlu melihat bagaimana agama diposisikan sebagai ilmu di pesantren, bukan sebagai emosi.

Netizen perlu melihat bagaimana insan-insan pesantren tidak sembarangan ngomong halal haram. Semua ada dasarnya dan beda pendapat tidak tercela. Semua dapat dibicarakan baik-baik tanpa harus saling mencela.

E, tapi semoga pandemi segera berlalu. Biar nggak semuanya serba online, serba nge-zoom. Sudah nge-zoom, zoomblo lagi.

Sumber: https://www.facebook.com/Rizqil/posts/3286769764700994

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *