Corona & Kado Toleransi Dari Fikih

Islam itu mudah dan memudahkan.

Kenapa saya sebut mudah?. Karena untuk masuk dan menjadi bagian di dalamnya, kita tidak perlu membayar uang pendaftaran atau membuat acara seremonial segala. Cukup mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tulus maka kita sudah sah menjadi seorang muslim.

Kenapa saya sebut memudahkan?. Karena dalam berislam kita tidak dituntut dan dibebani untuk melakukan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan kita.

Selain itu, ajaran atau syariat Islam bisa dilakukan dengan mudah. Karena di dalamunya menyediakan berbagai toleransi yang sewaktu-waktu bisa kita ambil sesuai dengan tuntutan kondisi.

Masa iya, syariat semudah itu?. Untuk pertanyaan ini, mari kita lihat dan baca beberapa ayat Al Qur’an berikut ini. Jangan lupa, baca basmalah dan niatkan juga untuk tadarusan.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Qs. Al Baqaroh : 185]

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Artinya :
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah” [Qs. An Nisa’ : 28]

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya :
“Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”[Qs. Al Haj : 78]

Setelah membaca beberapa ayat di atas, bagaimana menurut kalian?. Menurut saya pribadi dan tentu dengan disertai beberapa pengalaman bacaan dan kuliah dari beberapa dosen saya yang luar biasa, ayat tersebut hendak menyampaikan bahwa Islam tidak hanya menuntut para pemeluknya untuk bersyariat secara kaffah. Namun, disamping itu Islam juga menyediakan beberapa paket toleransi bagi siapa pun yang membutuhkan. Karena semangat dari ajaran Islam adalah untuk memudahkan, bukan menyulitkan.

Misalnya, seseorang yang pada mulanya wajib berdiri dalam melaksanakan sholat fardhu, akan tetapi dalam situasi dan kondisi tertentu ia ditoleransi untuk menunaikannya dalam keadaan duduk, berbaring, dan bahkan terlentang, tapi tetap dalam kondisi terjaga, bukan tidur.

Jika anda tidak puas dengan satu contoh di atas, mari kita ambil satu contoh lagi. Misalnya, seseorang yang sudah wajib dan siap pergi haji, namun jika ada ancaman yang akan menimpa dirinya selama di perjalanan maka kewajibannya menjadi gugur seketika itu.

Karena hifdun nafs (keberlangsungan hidup) itu adalah prioritas utama dalam agama Islam. Bagaimana mungkin anda bisa thawaf, sa’I dan sebagainya jika nyawa sudah tak dikandung badan, alias is death!.

Namun perlu digaris bawahi, Paket toleransi yang disediakan Islam hanya bisa diambil dalam kondisi tertentu saja.

Kondisi tertentu?. Iya kondisi tertentu. Kondisi apa saja itu?. Berikut jawabannya.

1. Al Safar Al Masyru’ (Sedang menempuh perjalanan).
2. Maridh (Sedang Sakit).
3. Al Ikroh (Dalam kondisi terpaksa).
4. Al Nisyan (Karena Lupa).
5. Al Jahlu (Tidak tahu).
6. Al Usru Wa Umum Al Balwa ( Ketika terjebak dalam kondisi yang sangat sulit).[Al Madkhol fi Al Qawaid Al Fiqhiyah, Hal. 100-101].

Untuk kasus corona, barangkali bisa kita masukkan ke dalam poin yang ketiga atau poin yang ke enam.

Penyebaran corona yang sangat sederhana membuat kita sulit untuk melakukan aktivitas sebagaimana mestinya, termasuk dalam soal ibadah.

Dalam kondisi yang demikian, maka Saya rasa sudah wajar Untuk mengambil Paket toleransi dalam menjalankan agama. Jika sebelumnya salat jumat wajib bagi kita, maka boleh jadi saat ini sudah tidak wajib lagi. Sebagaimana kasus haji yang Saya contohkan di atas.

Dalam Fikih, pengambilan paket toleransi seperti ini disebut rukhsokh bil isqoth.

Oleh : Syarifuddin (Mahasantri Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *