Dari Lukisan Hingga Avatar Ikut Haram

Prediksi saya akurat. Sejak awal saya menduga kuat bahwa kemunculan avatar di FB pasti akan ditolak oleh tetangga sebelah.

Kalau saya sih tidak kaget karena sikapnya memang selalu begitu. Dengan sangat PD, mereka ambil posisi paling kanan seraya menyikut orang di sampingnya.

Tapi tidak mengapa karena nyatanya memang ada rujukannya.

Namun kemudian merasa diri paling benar sendiri tentu telah mencederai akal sehat.

Fikih identik dengan perbedaan pendapat maka sudah selayaknya perbedaan itu menjadi rahmat.

Perdebatan ulama tentang hukum menggambar makhluk yang bernyawa sudah purna sejak dahulu kala. Tugas kita saat ini hanya membacanya kembali, namun bahan bacaannya harus kaya dan utuh.

Jika merujuk beberapa literatur yang ada, setidaknya ada empat alasan menggambar itu diharamkan.

Pertama, menggambar berarti menandingi Allah Swt. sebagai pencipta.

Alasan ini didasarkan pada hadis Nabi,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ خَلَقَ خَلْقًا كَخَلْقِي

Artinya : “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang sengaja menciptakan (sesuatu) seperti ciptaan-Ku,…”

Kalau merujuk pada tekstualitas hadis ini, seharusnya yang dilarang tidak hanya menggambar makhluk yang bernyawa tetapi menggambar gunung dan pepohonan juga dilarang sementara ulama sepakat bahwa boleh menggambar sesuatu yang tidak bernyawa.

Hadis tersebut di atas lebih akurat diarahkan pada kasus orang yang sengaja menggambar dengan tujuan menyaingi Allah Swt. dan kemudian merasa sepadan dengan-Nya. Tentu ini adalah sikap yang salah dan sesat.

Kedua, pelukis Mendapat azab yang sangat pedih

Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Artinya : “Pelukis akan mendapat siksa yang teramat pedih kelak di akhirat”

Problem pemahaman hadis ini terletak pada teramat pedihnya siksa yang akan ditimpakan kepada pelukis. Segitu beratkah? Padahal tidak ada perbuatan maksiat yang lebih dahsyat siksaannya kelak melainkan dosa syirik, menghilangkan nyawa manusia, dan berbuat zina. Tidak mungkin pelukis akan disejajarkan dengan mereka semua.

Hadis ini lebih tepat diarahkan kepada pelukis atau pemahat patung yang dari hasil kreasinya kemudian dijadikan sebagai sesembahan. Kalau konteksnya demikian, wajar kalau mereka berdua diazab dengan sangat pedih sebagaimana siksa untuk orang yang syirik.

Ketiga, lukisan atau Gambar menjadi pesakitan malaikat masuk rumah

Argumentasi ini didasarkan pada hadis nabi:

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

Artinya : “Malaikat enggan masuk rumah atau ruangan yang di dalamnya terdapat gambar”

Betul memang malaikat enggan hilir mudik di rumah yang ada gambar di dalamnya. Namun redaksi hadis lainnya mengatakan bahwa gambar yang dimaksud adalah gambar anjing atau babi.

Sebaliknya, ulama malah menganjurkan kita untuk memajang foto atau gambar orang shalih.

Sikap ini sebagai bentuk “tabarrukan” atas pristiwa syaitan yang lari bilamana melihat bayangan Sayyidina Umar. Kalau bayangan saja ditakuti syaitan apalagi gambarnya.

Dahsyatkan???

Kempat, menggambar merupakan Tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan orang kafir

Alasan trakhir adalah melukis merupakan kebiasaan orang kafir. Kebiasaan seperti ini tidak layak diikuti oleh orang Islam.

Dahulu kala, melukis memang menjadi rutinitas orang jahiliyah. Mereka rutin karena masa depan Tuhan ditentukan oleh tangannya sendiri. Tuhan mereka ciptakan sendiri, kemudian disembah sendiri.

Mereka sangat terampil mengimajinasikan bentuk Tuhannya dalam bentuk lukisan dan patung.

Bisa saja dahulu Nabi melarang rutinitas ini karena kondisi iman para sahabat masih sangat lemah. Nabi kemudian melarangnnya sebagai bentuk tindakan preventif.

Nabi khawatir kebiasaan lama para sahabat akan menjerumuskan ke lubang kekufuran untuk yang kedua kalinya.

Untuk konteks milenial kini, kekhawatiran Nabi ini tidak akan pernah terjadi, yakin deh.

Alasan tasyabbuh dalam kajian hukum Islam sangat dominan.

Salah satunya bisa ditemukan dalam kasus shalat ketika matahari terbit. Nabi melarang kita untuk salat saat itu karena menyerupai ibadahnya para penyembah matahari.

Oleh sebagian ulama, larangan ini diarahkan kepada makruh saja tidak sampai haram.

Oleh sebab itu, Ibnu Hajar kemudian berkata, “Kalau tasyabbuh menjadi alasan melukis dilarang maka tidak wajar kalau hukumnya lebih berat dari makruh sebagaimana hukum salat dikala matahari terbit”

Saya kira tulisan singkat ini udah cukup jelas. Intinya, ada banyak pendapat dalam persoalan ini.

Jika anda mau pendapat ekstream, silahkan ikuti Syekh bin Baz, ulama panutan tetangga sebelah yang mengatakan menggambar objek yang bernyawa dengan kamera dan lainnya adalah haram.

Beratkan?????

Oleh :
Ustaz. Dony Ekasaputra.
(Dosen sekaligus Kasubag Penelitian dan Publikasi di Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *