Dari Qaul Nyentrik, Psikologi Remaja hingga Pendidikan Pedagogi

Dalam kurun satu sampai dua bulan belakangan ini, penulis beberapa kali mendapat pengaduan dari netijen tentang prilaku “nakal” anak-anak di media sosial. Sebagai seniornya, unjung-ujungnya penulis pun mendapat duri dari “kenakalan” mereka.

Melihat tindak tanduk dan dan respon netijen, panulis hanya bisa “ngelus” dada seraya berdoa, semoga Allah lekas memberikan jalan terbaik-Nya. “Ini adalah ladang amal untuk kita agar tidak bosan-bosannya mengarahkan dan menasehati mereka untuk terus berkreasi mengasah kemampuan terpendam mereka, tetapi dalam koridor nalar keilmuan yang santun dan berkarakter,” Begitu Ustad Khairuddin memotivasi kami.

Penulis kadang tersenyum. Kejadian-kejadian tersebut mengingatkan pada masa lalu dimana itu semua pernah penulis alam, bahkan penulis dulu lebih exstream dari apa yang mereka lakukan saat ini. “Jangan-jangan ini karma buatku. Semoga semua ini menjadi kafarat atas dosa-dosaku kepada guru-guruku di masa lalu dan yang akan datang” guman dalam hati.

Mendidik mereka yang rata-rata memasuki usia remaja memang butuh pendekatan tersendiri. Apalagi mereka adalah santri-santri pilihan dengan kemampuan di atas rata-rata santri lainnya. Usia remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak yang ditandai dengan terjadinya perubahan-perubahan bersifat esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah.

Banyak faktor yang menjadikan mereka melakukan perilaku-perilaku “nakal” ataupun perilaku berisiko lainnya. Salah satunya adalah mencari sensasi. Usia remaja sangat identik dengan sensation seeking. Roberti (2004) menyebutkan bahwa pencarian sensasi (sensation seeking) adalah faktor yang kuat terhadap minat, sikap, perilaku dan aktivitas remaja.

Remaja memiliki keinginan untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan dan keinginan untuk mencoba segala pengalaman yang belum diketahui yang berasal dari lingkungannya.

Di sini titik rawannya, mereka yang bergelut dengan kajian-kajian fiqh dan usul fiqh akan dengan sangat mudah mengekspose qaul-qaul nyetrik yang bisa membakar ubun-ubun. Nyatanya, fiqh dan usul fiqh adalah ladang luas yang menyediakan beragam jenis rerumputan.

Sebuah makhod psikologi menyatakan, sikap eksploratif pada remaja cenderung sangat ambisius. Hal ini membuat remaja selalu bergolak dengan kehidupan dan lingkungannya. Tindakan-tindakan yang bersifat petualangan baru membuat remaja selalu ingin mencoba dan mencari pengalaman-pengalaman baru walaupun terkadang eksplorasi yang dilakukan bersifat negatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Arnett (1992) menyebutkan, remaja memiliki kebebasan yang lebih luas untuk mencari sesuatu menyangkut pengalaman baru dibandingkan pada tahap perkembangan lainnya.

Kebebasan remaja untuk bereksplosi menjadikanya rentan untuk melakukan hal-hal yang berbahaya atupun berisiko. Rasa ingin tahu dan sikap eskploratif tidak terlepas dari pencarian sensasi.

Zuckerman mendefinisikan pencarian sensasi sebagai sifat alamiah seseorang dalam mencari pengalaman yang bervariasi, baru, kompleks dan intens, serta kesediaan untuk menghadapi resiko fisik, sosial, legal dan keuangan demi mendapatkan pengalaman “baru”.

Kaitannya dengan pendidikan Pedagogi, tidak heran jika pendidikan pedagogi menjadikan masalah nyata mereka sebagai pusat pembelajaran. Pedagogi, menganggap peserta sebagai sumber daya utama untuk ide-ide dan contoh sehingga pembelajaran sangat fleksibel.

Belum lagi aku dihadapkan dengan situasi dimana mereka adalah remaja pilihan dengan intlektualitas di atas rata-rata. Biasanya, orang pintar secara intlektualitas cendrung egois. Merasa paling benar sendiri. Anti kritik dan semacamnya.

Namun jangan lupa, mereka adalah amunisi masa depan. Ibarat senjata, tinggal kau bidik sasarannya ke arah yang tepat maka akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Kini mereka baru sampai di separuh perjalanan atau bahkan baru seperempatnya, jalan mereka masih panjang untuk sampai di garis finish. Pemenang atau sebaliknya, baru bisa ditentukan manakala semua sudah sampai di garis finish.

Allahumma,

Kumpulkan kami di surga-Mu.
Doni Ekasaputra (Barista di kantor Mahad Aly Situbondo)

 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *