Gus Baha’ dan Pentingnya Sikap Husnuzzan kepada Ulama

Oleh: Ahmad Husen al-Absi

Sekitar dua hari yang lalu, salah seorang teman berbisik dengan lirih kepada saya. Ia mendekatkan kepalanya dan memulai pembicaraan dengan volume suara yang amat kecil, pertanda bahwa apa yang ia akan bicarakan adalah  hal yang sangat rahasia.  Dia memulai, “Eh, Gus Baha’ kok agak-agak sombong ya?”, mendengar bisikan itu, seketika bayangan saya terbang ke alam di bawah sadar dan berusaha mengingat-mengingat ceramah Gus yang cukup merajai dalam ruang virtual keagamaan kita hari-hari ini.

Saya merasa terpanggil untuk memberi argumen tandingan dan menolak pertanyaan yang sebenarnya adalah pernyataan sahabat saya itu. Secara DNA keilmuan-pendidikan dan ke-NU-an, saya dan beliau memiliki banyak persamaan. Saya belajar di Pesantren, beliau juga, Cuma bedanya beliau alim-allamah, saya baca kitab saja ugal-ugalan. Saya adalah warga Nahdlatul Ulama, beliau juga. Cuma bedanya, saya warga NU beliau adalah petinggi NU. Berdasarkan dua alasan itulah, saya merasa perlu “membela” beliau atau setidaknya menolak tudingan teman saya. Belum berhasil “membela” Gus Baha’, sahabat saya itu melanjutkan, “Yang saya rasakan gitu, ketika menyimak banyak vidionya”. Saya bingung alang kepalang, bagaimana merespons teman saya itu.

Diakui atau tidak, dalam beberapa kesempatan Gus Baha’ memang sering melontarkan joke-joke yang bisa disebut sedang melambungkan dirinya. Misalnya, ia sering menyebut, “Saya ini setengah hafal kitab Ianah al-Thalibin, “Saya ini hafal al-Quran dan orang hafal al-Quran dimuliakan oleh Allah Swt, maka jika sampean tak menghormati saya, gak apa-apa!, kalau melihat wajah sampean, saya kok curiga sampean orang bodoh”, dan beberapa pernyataan beliau yang serupa.

Nah, selang berapa hari, kampus tempat saya belajar, Ma’had Aly Situbondo, kedatangan beliau untuk memberikan kuliah umum. Sedari awal, info kedatangan beliau menjadi obroalan teman-teman santri, saya sendiri termasuk orang yang pesimis atas kesediaan beliau hadir, bukan hanya karena kemarin beliau baru saja mengikuti Majma’ Buhuts Nahdlatul Ulama di Kajen dan seabrek padatnya jadwal beliau, akan tetapi tanda-tanda kedatangan beliau juga tidak ada. Biasanya, narasumber atau tokoh yang akan memberikan kuliah umum, satu hari atau beberapa jam sebelum acara sudah hadir. tapi tidak demikian dengan Gus Baha’.

Benar saja, beliau hadir secara tiba-tiba. Komplek Ma’had Aly Situbondo riuh, seluruh pandangan menuju ke santri kinasih Mbah Moen ini. Tanpa menunggu lama, beliau sudah duduk untuk memberikan kuliah umum. Ustaz Wahid, ustaz muda di Ma’had Aly Situbondo yang kesohor sebagai orang pintar ilmu mantiq dan usul fikih itu memandu acara. Ustaz Wahid, begitu ia saya sebut selalu menjadi primadona dalam urusan memoderatori narasumber-narasumber beken. ia sangat pintar menghidupkan forum-forum ilmiah, dengan permainan logika dan lincah memossisikan kata-kata.

Langsung saja, Gus Baha’ memulai memberikan orasi ilmiah. Saya duduk di barisan paling depan, bukan hanya untuk menimba ilmu akan tetapi juga ingin untuk mengonfirmasi “keluhan” sahabat saya beberapa hari ini. Belum lama memulai pembicaraan, beliau menyebut dengan sangat sarih, “Saya ini setengah hafal kitab Ianah al-Thalibin, kalau kalian kan Taqrib saja”. Mendengar pernyataan itu secara langsung, saya kok ngeri-ngeri sedap dan teringat obrolan teman saya dua hari yang lalu itu.

Hati saya berkecamuk, saya terus meredam agar hati saya tak menaruh sikap su’u zan kepada beliau, saya terus berusaha menakwil pernyataan beliau agar tak terkategori pernyataan sombong. Selang berapa lama, kegelisahan saya agak reda. Beliau kemudian berkata:“Jadi saya mengatakan goblok itu maknanya adalah sampean goblok dalam hal maksiat, itu kan keren”.

Pernyataan Gus Baha’ ini adalah komentar lanjutan ketika beliau menjelaskan kisah Ibrahim dan Sarah. Al-Kisah, Sarah, istri Ibrahim adalah perempuan cantik. Suatu ketika, ada seorang raja terpana dengan Sarah dan hendak menikahinya. Dalam sebuah perjalanan, Ibrahim diintrogasi tentara kerajaan ihwal perempuan yang ada di dekatnya. Nabi Ibrahim menjawab, “ia adalah saudaraku”.

Jawaban Nabi Ibrahim agak musykil, sebab Sarah adalah istrinya. Tetapi kenapa ketika ditanya, ia malah menyebut bahwa perempuan itu adalah saudarinya. Tetapi bukan nabi jika ia salah dalam bersikap. Benar saja, ternyata jawaban nabi Ibrahim itu justru menyelamatkan beliau dari kejahatan raja. Karena ketika Nabi Ibrahim menyebut Sarah sebagai istrinya, maka ia akan dibunuh dan menganggap Ibrahim sebagai problem dan masalah. Tetapi karena ia menyebut saudari, pihak kerajaan justru akan menghormati, karena punya kepentingan dengan Sarah.

Jawaban nabi Ibrahim—sambung Gus Baha’—dalam ilmu balagah disebut dengan tauriyah. Secara leksikal-kebahasaan, tauriyah bermakna tertutup atau terseumbunyi. Sementara dalam terminologi ia didefinisikan dengan, mutakallim, pihak pembicara menyampaikan satu kata dalam bentuk tunggal, yang mempunyai dua makna; makna dekat dan jelas dan tidak dimaksudkan; kedua, makna jauh dan samar yang dimaksudkan.

Dalam kasus Ibrahim dan Sarah di atas adalah kalimat “ia adalah saudariku” memiliki makna dekat yang mudah dipahami, yaitu saudariku dalam hal nasab (ukhti fi al-Nasab), makna kedua yaitu saudariku seagama (ukht fi al-Din) yang masuk kategori makna jauh dan samar yang dimaksudkan.

Dalam penjelasan Gus Baha’ ini, ada dua kesimpulan yang bisa dipetik. Pertama, bahwa nabi-nabi Allah Swt. Itu pasti cerdik-cendikia, karena dalam tradisi Ahlussunnah waljamaah, sifat yang wajib bagi nabi adalah ia harus cerdas (fathanah). Begitu banyak kisah-kisah para nabi yang sangat cerdas, termasuk dalam menghadapi para penentangnya, ingat kasus nabi Ibrahim dan Raja Namrud soal berhala.

Kedua, tidak benar mengategorikan Gus Baha’ itu sebagai orang sombong dengan pernyataan-pernyataannya. Karena ketika beliau menyebut goblok, mungkin maksudnya gomblok dalam hal kemaksiatan dan korupsi. “Ketika saya mengatakan santri Ma’had Aly Situbondo goblok, maksudnya adalah santri sini goblok dalam urusan kemaksiatan dan kejahatan lain,”, ujar beliau diikuti gelak tawa peserta.

Tawa belum reda beliau melanjutkan, “Saya guyon begini ada ilmunya, nanti kalau ditanya sama Allah Swt. Kenapa kok bilang santri sini goblok, saya punya alasan”, tawa makin pecah. Ketika sela-sela tertawa saya teringat pepatah arab, “Guyon seorang ulama lebih baik dari pada kata hikmah orang bodoh”.

Dengan keilmuan yang dimiliki, penulis yakin sedari awal, sekaliber Gus Baha’  tak mungkin terjebak dengan sikap jelek (al-Akhlaq al-Radi’ah) seperti sombong. Karena ilmu yang dimiliki adalah cahaya dan kompas dalam menuntun perjalanan di dunia dan akhirat. Saya ingat sikap Kiai Afifuddin Muhajir ketika ada salah seorang santrinya yang dalam benak banyak orang dianggap nyeleneh. Kiai Afif berkata, “Biar saja, suatu ketika ia akan sadar dengan tuntunan ilmu yang dimiliki”. Seorang yang berilmu akan memiliki sikap keilmuan, mauqif ilmi/scientific attidude dalam berfikir dan bersikap.

Sikap husnuzzan, lebih-lebih kepada seorang ulama adalah sangat penting. Betapapun, seorang yang memiliki praduga yang baik tak akan merugi. Jika disuruh milih, saya akan memilih lebih baik husnuzzan meskipun salah daripada suuzan walau benar.  Tentu ulama di sini adalah ulama yang benar-benar ulama, bukan ulama yang sedang menjadi juru kampanye. []

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *