Hamil Tanpa Senggama, Mungkin kah?

Oleh: Imam Nakhei

Komnas Perempuan dan Dosen Mahad Aly Situbondo

Di dalam kitab-kitab fikih, banyak ditemukan masalah-masalah fikih yang diandaikan oleh ulama, kemudian dijawab sendiri oleh pengandainya. Pengandaian itu ada yang benar-benar terjadi, tetapi juga ada yang sangat tidak mungkin terjadi, karena pengandaian itu tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan, melainkan didasarkan pada imajinasi Sang Faqih. Produk fikih yang didasarkan pada pengandaian itu disebut “Fiqih Iftiradhy“. Biasanya pertayaannya selalu dimulai dengan kata “law/لو”  (seandainya).

Contoh yang agak liar misalnya, jika ada vagina sebesar pintu stadion, kemudian ada beberapa orang laki-laki memasuki vagina yang sebesar pintu stadion itu, maka pertanyaannya apakah mereka dihukumi berzina? apakah wajib mandi karena junub? apakah puasanya batal? dll. Pengandaian ini bukan hanya tidak mungkin, tetapi juga imajinasi yang diskriminatif terhadap perempuan. Tapi ya memang ada di dalam kitab fikih.

Nah, termasuk Fikih Iftiradhiy itu, antara lain, bisakah perempuan hamil tanpa senggama? Bagaimana seandainya jika ada laki-laki “ber istinja” menggunakan batu, lalu keluar sperma karena gosokannya terlalu kuat, kemudian sepermanya diambil seorang perempuan dan dimasukkan ke dalam vaginanya sehingga dia hamil. Pertayaannya bagaimana hukumnya? dan apakah anak yang dilahirkan bernasab kepada pemilik sperma?

Atau bagimana seandainya jika ada suami-istri senggama, kemudian spermanya “dimuntahkan” di luar namun tetap menempel di tubuh istri, lalu oleh istri “digesek-gesekkan” pada wanita lain, kemudian wanita lain itu hamil. Pertayaannya bernasab kepada siapakah anak yang dilahirkan itu?

Atau bagaimana seandainya jika ada laki-laki keluar sperma,  kemudia menikah dan sperma yang keluar sebelum menikah itu dimasukkan kepada perempuan yang sudah dinikahinya? Bagaimana hukumnya? anaknya bernasab kepada siapa?

Atau bagaimana sendainya jika ada laki-laki dan perempuan berzina, ejakulasi dan spermanya “dimuntahkan” di luar, lalu di ambil oleh istrinya dan dimasukkan dalam vagina, hingga akhirnya hamil dan melahirkan. Bagaimana hukumnya? dan anak siapa?

Atau bagaimana seandainya jika ada laki-laki onani, kemudian spermanya berhamburan, lalu diambil oleh perempuan lain atau istrinya, lalu dimasukkan dalam vaginanya. Bagaimana hukumnya dan apa dampaknya?

Atau bagaimana seandainya jika ada perempuan memasukkan sperma yang diduga milik suaminya -padahal bukan, kedalam vaginanya. Bagaimana hukum dan konsekuensinya?

Atau bagaimana jika seandainya Istri yang dicerai tiga, lalu menikah dengan laki-laki yang punya penis “tak berhelem”,  atau penisnya “lumpuh”, lalu penis itu dimasukkan apa adanya. Apakah cukup sebagai tahlil atau muhallil?

Dan masih banyak “seandainya” yang lain dalam persoalan ini. Dalam fikih dikenal dengan teori “idkhal dan istidkhal“.

Jawaban dari pertayaan-pertayaan itu semua telah disediakan oleh “Sang Faqih Pengandai”. Apakah itu benar-benar terjadi atau tidak? Itu tidak penting. Yang penting adalah kepuasan ilmiah karena telah menjawab masalah yang dianggap antik dan rumit.

Bagi yang ingin mengetahui jawabannya, saya silahkan baca kitab Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhah al-Thalib Raudhah al-Thalibin wa Umdatu al-Muftin, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, dan kitab mazhab Syafi’iyah lainnya.

Saya hanya ingin mengatakan, jika ada kawan-kawan hari ini yang berpendapat bahwa perempuan harus hati-hati mandi di kolam renang, di sungai, di banjir,  karena bisa hamil akibat sperma yang berkeliaran, maka kemungkinan ia terinspirasi oleh pandangan kitab-kitab fikih itu.

Maka sebaiknya membaca fikih atau mendengar ceramah fikih janganlah ditangkap dan dimaknai hitam-putih. Sebab fikih zaman dulu dirumuskan dalam situasi yang serba terbatas (walaupun ulamanya hebat-hebat), antara lain keterbatasan informasi ilmu pengetahuan, dan bahkan ilmu pengetahuan sendiri saat itu belum hebat seperti sekarang.

Membaca fikih, penting memperhatikan konteks kelahirannya, di mana dan kapan akan diterapkan, serta membaca kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu humaniora yang telah berkembang sangat maju. Jika tidak, maka fikih is Dead.

Jakarta, 24-02-2020

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *