Haram Melukai Alat Genital Perempuan Dengan Cara Khitan (Khifad)

Oleh: Imam Nakhai

Dosen Ma’had Aly Salafiyah Syafiiyah Situbondo sekaligus Komnas Perempuan dan Anak

 

Hingga saat ini masih ada yang meragukan keharaman khitan perempuan. Tapi tidak mengapa karena mitos khitan perempuan telah berlangsung sangat lama, sepanjang diskriminasi terhadap perempuan itu sendiri. Jadi, membutuhkan proses yang tidak sebentar untuk membaliknya.

Sesungguhnya dengan argumen bahwa Rasulullah tidak melakukan khitan kepada putri-putrinya, itu sudah terlalu cukup sebagai teladan dan dalil yang kokoh tidak di syaratkannya khitan perempuan. Apalagi bagi kelompok yang dikit-dikit harus ada hadisnya. Dengan Rasul tidak melakukan, berarti khitan perempuan adalah bid’ah wa kullu bid’ah dhalalah.

Bagi yang mempelajari kitab-kitab kaidah fikih akan sangat mudah menemukan argumen keharaman melukai dan memotong organ tubuh, apalagi organ vital. Di dalam kaidah fikih dinyatakan al-ashlu fi al-jarhi wa al-tajrih al-tahrim. Artinya, pada dasarnya melukai anggota tubuh adalah haram, kecuali ada alasan syar’i yang mengharuskan pelukaan, seperti oprasi cesar dan pelukaan lain yang didasarkan pada indikasi (kebutuhan) medis.

Dalam kaidah fikih yang lain dinyatakan al-wajib la yutraku illa li wajibin. Artinya, kewajiban tidak boleh ditinggalkan kecuali karena kewajiban yang lain. Melukai perut ibu misalnya, adalah haram dan wajib ditinggalkan. Tetapi kewajiban meninggalkan melukai perut ibu boleh ditinggalkan (diabaikan) karena ada kewajiban lain yaitu meyelamatkan nyawa ibu dan janin.

Nah, melukai apalagi memotong alat genital perempuan adalah haram dan wajib ditinggalkan. Ia menjadi boleh kalau karena kewajiban lain yang maslahatnya lebih besar. Rasul sendiri tidak menkghitan putri-putrinya. Itu artinya tidak ada kemaslahatan dalam khitan perempuan, sehingga tidak cukup kuat untuk membolehkan yang diharamkam.

Saya masih berkeyakinan bahwa pelukaan dan pemotongan alat genital perempuan (P2GP) adalah HARAM, kecuali ada indikasi medis.

Wallahu A’lam.

Jember, 19 09 19

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *