Hierarki Jihad Dalam Islam

oleh: Syachirul A’dhom al-Fajri

Dari satu sisi, jihad merupakan salah satu ajaran yang terpenting untuk menjaga keutuhan agama Islam. Dengan jihad, agama Islam menjadi tegak berdiri dan tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Dengan jihad pula, Islam menjadi agama yang terjunjung tinggi tanpa tertandingi (al-islām ya’lū wa lā yu’lā ‘alaihi). Dalam beberapa ayat dan hadis, disebutkan betapa tingginya keutamaan jihad dan betapa mulianya orang yang ikhlas melakukan jihad. Semisal dalam surah At-Taubah ayat 111 Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah membeli dari kaum mukmin, baik dari diri maupun harta mereka dengan mmberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau mati terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang kalian lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang agung.

Namun demikian, di sisi lain, jihad merupakan hal yang menakutkan dan ajaran yang membuat Islam distigmakan sebagai agama intoleran, agama kekerasan dan agama teroris. Jihad juga merupakan ajaran yang bisa membuat orang takut untuk memeluk agama Islam. Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya:

 “Dan orang-orang beriman berkata mengapa tidak diturunkan suatu surat (tentang perintah jihad? Maka apabila ada suatu surat diturunkan yang jelas maksudnya dan di dalamnya terdapat (perintah) perang, engkau akan melihat orang-orang yang di hatinya terdapat penyakit akan memandangmu seperti pandangan orang pingsan karena takut mati. Tetapi itu lebih pantas bagi mereka”. [Q.S. Muḥammad: 20].

Dua ayat di atas sekilas bertentangan. Ayat pertama menghendaki Islam sebagai agama yang agung dengan konsep jihadnya. Namun di ayat kedua, Allah seakan memberitahukan bahwa jihad bukanlah solusi yang baik untuk mengajak orang lain untuk memeluk Islam. Jihad hanya akan membuat orang-orang menjadi takut. Selain pertentangan dua ayat di atas, terdapat beberapa hadis nabi terkait persoalan jihad yang juga sekilas bertentangan.

Dari kegelisahan inilah, tulisan ini dihadirkan. Tulisan ini akan mengompromikan dan menjelaskan ayat-ayat serta hadis-hadis jihad yang sekilas bertenangan dengan menjadikan asbāb al-nuzūl asbāb al-wurūd, tafsir Alquran-hadis serta beberpa hadis nabi sebagai kajian komparatifnya. Tak lupa, tulisan ini juga menyuguhkan komentar dan penjelasan ulama terkait pembahasan. Tidak hanya mengutip dari ulama mutaqadimīn. Tapi juga menampilkan dari ulama mutaakhirīn. Alā kulli ḥāl, selamat membaca dan semoga bermanfaat!

***

Definisi Jihad.

Term jihad memiliki dua dimensi makna. Pertama, makna etimologi dan yang kedua adalah makna terminologi. Jihad dilihat dari makna kebahasaannya (etimologi) berarti mengerahkan segala kemampuan, baik ucapan maupun tindakan. [Lisān al-‘Arab: 166/III]

Sedangkan mengenai makna jihad secara terminologi, ulama berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Ibnu al-kammāl, yakni penganut mazhab Ḥanāfiyah mendefinisikan jihad sebagai usaha untuk mengerahkan segala kemampuan untuk “berperang” dijalan Allah, baik dengan cara berperang langsung, membantu dengan harta, pemikiran dan semacamnya. [al-Durr al-Mukhtār: 141/IV]. Syekh Sulaimān al-Jamal yang termasuk penganut mazhab Syāfi’iyah menawarkan definisi yang lain, bahwasanya jihad adalah memerangi kaum kafir dengan tujuan menegakkan ajaran Islam. [Ḥāsyiyah al-Jamal ‘alā al-Manhaj: 177/X]

Syekh Ramaḍān al-Būṭī memberi definisi bahwa jihad adalah mengerahkan segala kemampuan untuk menegakkan ajaran Allah dan menjaga lingkungan yang islami. [Fiqh al-Sīrah: 131]. Dari beberapa definisi yang ditawarkan ulama, Syekh Wahbah Zuḥailī menambah keterangan, definisi jihad yang paling sesuai dengan syariat adalah mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi dan menolak kaum kafir, baik dengan tubuh, harta maupun perkataan. [Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū: 5846/VIII]

Dari definisi yang ditawarkan oleh Syekh Wahbah Zuḥailī, disimpulkan bahwa jihad tidak hanya tertentu dengan cara menghunus pedang dan semacamnya, melainkan jihad juga bisa diwujudkan dalam bentuk mempelajari, mengajarkan dan membumikan hukum-hukum Islam terhadap orang lain.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Perangilah kaum musyrik dengan jiwa, harta dan perkataan kalian” [HR. al-Baihaqī].

 

Fase-fase Pensyariatan Jihad.

Awal mula Rasulullah diutus untuk menyebarkan agama Islam, jihad pertama kali disyariatkan dalam bentuk dakwah yang ramah. [Fiqh al-Sīrah: 131]. Jihad semcam ini dilakukan karena khawatir terjadi perlawanan keras dari kaum kafir Quraisy yang mana pada saat itu mereka masih sangat fanatik terhadap agama yang mereka anut. Objek dakwah Rasulullah pada masa ini, hanya terbatas pada keluarga dan orang-orang terdekat  beliau, itu pun hanya sebatas orang-orang diyakini akan ikut dan mau menerima agama yang ditwarkan oleh Rasulullah. Allah berfirman:

 “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah kemudian berikan peringatan!” [Q.S. Al-Muddaṡṡir: 1-2]

Beberapa tahun setelah jihad dilakukan dengan cara yang ramah dan sembunyi-sembunyi, yakni saat-saat Rasulullah hijrah keluar dari Mekah, jihad kemudian disyariatkan dalam bentuk perang. Namun perang yang diperbolehkan saat itu hanya sebatas perang dengan tujuan bertahan dari serangan musuh (Jihad Difā’ī). [Fiqh al-Sīrah: 131].

Allah berfirman:

 “Diizinkan (berperang) bagi mereka yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sesungguhnya Allah maha kuasa dan menolong mereka itu”. (QS. Al-Hajj ayat 39).

Ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat di atas diturunkan untuk merespon kegelisahan kaum muslimin yang pada saat itu sering disakiti dan diganggu oleh kaum kafir Mekah. Kaum muslim yang sudah tidak sabar diperlakukan semena-mena oleh kaum kafir mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah. Beliau berkata: “Bersabarlah, karena aku belum diperintahkan untuk berperang”. Sebagai respon terhadap kegelisahan kaum muslim, Rasulullah pun mengajak mereka untuk hijrah keluar dari Mekah. Kemudian turunlah ayat di atas. [asbāb al-nuzūl li al-Naisābūrī: 189]

Setalah jihad dilakukan hanya sebatas pembelaan terhadap serangan musuh, jihad kemudian disyariatkan dengan cara memerangi setiap orang yang menghalangi kaum muslimin untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal ini dilakukan atas dasar tujuan, agar mereka hanya mau menerima Islam sebagai agama mereka. Meski demikian, cara tersebut hanya disyariatkan untuk memerangi kaum musyrikin dan penyembah berhala saja. Sedangkan untuk ahli kitab, cara yang dilakukan cukup dengan membuat mereka mau berdamai dan hidup berdampingan bersama Islam dengan cara membayar jizyah. [Fiqh al-Sīrah: 132].

Semenjak cara terakhir ini disyatiatkan, hukum Jihad menjadi wajib bagi kaum muslim. Dan di dalam alquran Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang disekitar kalian, dan hendaknya mereka merasakan sikap tegas dari kalian, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang bertakwa. [QS. At-Taubah: 123]

Selain ayat di atas, Rasulullah juga bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia (orang-orang kafir) hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, serta mau melaksanakan salat dan membayar zakat. Jika mereka melakukan itu semua, maka darah (nyawa) dan harta mereka menjadi terjaga. [HR. Bukhārī].

Hierarki Jihad.

Sebagaimana yang dijelaskan, bahwa jihad tidak tertentu dengan cara berperang saja, melainkan juga bisa dilakukan dengan cara membumikan ajaran Islam, dakwah dan semacamnya, ulama berbeda pendapat mengenai metode jihad yang pertama kali harus dilakukan. Mengenai pembahasan ini, setidaknya ada tiga kelompok ulama. [Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū: 5853/VIII]

Pendapat pertama, yakni pendapat yang dikemukakan oleh Imam Mālik, bahwa sebelum jihad dilakukan dengan cara berperang, jihad harus dilakukan pertama kali dengan cara dakwah yang Islami, baik objek dakwah (orang kafir) sudah pernah tersentuh oleh dakwah Islam sebelumnya atau tidak. Pendapat pertama ini berargumentasi dengan ayat alquran surat Al-Fatḥ ayat 16 yang artinya:

Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal, kalian akan diajak untuk (memerangi) kaum yang memiliki kekuatan besar, kalian harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah. Jika kalian patuhi (ajaran itu), maka Allah akan memberimu pahala yang baik. Tetapi jika kalian berpaling sebagaimana yang kalian perbuat sebelumnya, Dia akan mengazab kalian dengan azab yang pedih.”

Selain ayat di atas, mereka juga berargumen dengan hadis yang diriwayatkan dari Ibn ‘Abbās:

“Rasulullah sama sekali tidak memerangi suatu kaum (kafir), kecuali beliau sudah berdakwah kepada mereka” [HR Al-Baihaqī].

Dalam hadis lain dijelaskan bahwa ketika Rasulullah memerintahkan seorang pemimpin perang, Rasulullah selalu berpesan:

“Jika kamu bertemu dengan musuhmu, maka beri dia tiga pilihan, andaikan mereka memilih salah satunya maka terimalah pilihan mereka (1) Ajaklah mereka masuk Islam, jika mereka menerima maka terimalah. (2) Jika mereka tidak mau (mauk Islam), maka mintalah mereka untuk memebayar jizyah, jika mereka menerima maka terimalah pilihan mereka. (3) Jika mereka tidak mau (memebayar jizyah) maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” [HR. Muslim].

Pendapat kedua, dakwah Islami tidak wajib dilakukan sebelum jihad dengan cara berperang. Pendapat kedua ini adalah pendapat mazhab Ḥanabilah. Di antara hadis yang dijadikan argumentasi oleh pendapat kedua ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Rasulullah pernah menyerang bani Muṣṭaliq [Ṣaḥīḥ al-Bukhārī: 148/III].

Dari kedua hadis di atas pendapat kedua ini menafsirkan bahwa seranangan yang dilakukan nabi adalah serangan yang dilakukan tanpa berdakwah terlebih dahulu. Mereka juga berpendapat bahwa dakwah tidak wajib dilakukan sebelum memerangi kaum kafir karena sebelumnya mereka pasti pernah dimasuki oleh dakwah Islam.

Pendapat ketiga, adalah pendapat yang dikemukakan oleh jumhur ulama. Mereka berpendapat bahwa jihad wajib dilakukan dengan cara berdakwah terlebih dahulu jika objek jihad (orang kafir) belum pernah tersentuh oleh dakwah Islam. Sedangkan untuk kaum kafir yang pernah dimasuki dakwah Islam, hukum dakwah sebelum memerangi mereka tidak wajib, melinakan sunah.  Pendapat ketiga ini lebih memilih untuk mengompromikan hadis-hadis di atas yang sekilas bertentangan. Ibn Munżir berkata “pendapat ketiga ini didukung oleh beberapa hadis sahih. Dan pendapat ini merupakan solusi untuk mengompromikan beberapa hadis yang sekilas bertentangan.”

Berdasarkan pendapat ini, jihad dengan cara berperang boleh dilakukan jika memenuhi dua syarat. Pertama, kaum kafir yang akan diperangi bukan kafir musta’man, mu‘āhad dan ahl żimmah, karena harta dan darah (nyawa) merka wajib dilindungi. Selain itu, syariat mengharamkan untuk memerangi mereka. Kedua, terlebih dahulu menyampaikan dakwah Islami terhadap mereka, menyampaikan ajaran Islam dan memberitahu konsekuensi jika mereka tidak mau masuk Islam.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, Syekh Ramaḍān al-Būṭī memberikan sedikit komentar bahwa berdamai atau dakwah dengan cara halus hukumnya wajib didahulukan jika berdakwah dengan cara terang-terangan atau bahkan dengan cara berperang dapat membahayakan. Namun, jika jihad mungkin dilakukan dengan cara terang-terangan tanpa timbul bahaya dan memberikan efek yang baik maka dakwah dengan cara halus tidak diperbolehkan.

Selain itu, syekh Maimun Zubair, dalam kitab karangannya yang berjudul al-ulamā’ al-mujaddidūn menjelaskan bahwa ada beberapa hukum yang tertera di dalam Alquran yang tidak mungkin untuk dilakukan atau diamalakan oleh kaum muslimin saat ini. Beliau mencontohkan hal tersebut dengan kewajiban jihad di jalan Allah. Beliau berkata “jihad termasuk salah satu kewajiban di dalam agama Islam. Dan kewajiban itu akan terus berlaku hingga hari kiamat nanti. Namun, karena sulit dan tidak mungkin untuk berjihad di masa ini, maka hukum kewajiban jihad tersebut menjadi terhalang. Mengingat, saat ini tidak ada lagi pemimpin atau pemerintah yang memerintahkan pasukannya untuk berjihad di jalan Allah.” [al-‘ulamā’ al-mujaddidūn: 11]

Sebagai penutup, alangkah baiknya jika kita merenungkan friman Allah berikut:

“Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka menggunakan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. [Q.S. An-Naḥl: 125]. (Ahs)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *