Idul Adha 1441 H., Menyimak Desir Kerinduan Pada Ibrahim Khalilullah

Situbondo-Demi menekan penumpukan massa, hari ini, Jumat 31 Juli 2020, Ma’had Aly Situbondo gelar salat Idul Adha secara mandiri di musala asrama. Jemaahnya dibatasi hanya untuk segenap dosen, para staf, berikut seluruh mahasantri.

Sekitar pukul 06:30, nida’ salat id pun dikumandangkan. KH. Afifuddin Muhajir, wakil pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, yang kini juga Rais Suriyah PBNU, maju sebagai imam.

Adapun khutbahnya disampaikan oleh Ustaz Imam Nakha’i, dosen Ma’had Aly Situbondo yang juga aktif sebagai komisioner Komnas Perempuan RI.

Dalam khutbahnya, ustaz kelahiran Malang 12 Februari 1970 yang kini sedang merampungkan studi S3-nya di UIN Sunan Ampel, Surabaya ini mengambil tema umum seputar sejarah dan peristiwa yang berkaitan dengan Idul Idha.

Beliau mengulik keteladan dari kisah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam al-Quran dengan berbagai perspektif. Misalnya, bagaimana nabi yang berjuluk khalilullah ini tetap menjaga baktinya terhadap ayahnya dengan tutur kata yang lembut, kendatipun ia dan sang ayah berbeda keyakinan.

Bagaimana juga sang nabi yang disebut musliman hanifan itu menjauhi sikap sewenang-wenang kepada putranya sendiri dengan tetap mengajaknya bermusyawarah sebelum hendak melaksanakan perintah Allah yang kemudian menjadi cikal-bakal pensyariatan ibadah kurban.

Di akhir khutbahnya, dengan mata berkaca-kaca, khatib mengungkapkan kerinduannya kepada kedua sosok nabi itu, Ibrahim dan Ismail. Jemaah musala At-Takwa khidmat, turut menyimak desir-desir kerinduan itu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *