Ilmu-Ilmu Baru dari KH. Afifuddin Muhajir.

Jika salah satu sahabat saya akan menulis 6 esai serius tentang Almukarram Kiai Afifuddin Muhajir dalam rangka memeriahkan penganugerahan Doktor HCnya, maka saya sendiri tertarik untuk mengungkapkan ilmu-ilmu baru yang diperoleh dari Kiai Afif saat nyantri di Ma`had Aly PP. Salafiyah Syafi`iyyah Sukorejo Situbondo.

PERTAMA, SIAPAKAH ULAMA? DAN APA PERBEDAAN ULAMA DAN KIAI?

العلماء من جامع بين العلم والخشية

Ulama adalah orang-orang yang mampu memadukan antara ilmu dan rasa takut kepada Allah. Syarat ulama menurut beliau ada dua yaitu `alim dan punya khasyah. Sedangkan kiai adalah orang-orang yang mana orang lain mau memanggilnya kiai. Jadi syarat menjadi kiai, cukup dengan ada orang yang bersedia memanggilnya kiai.

KEDUA, BAGAIMANA HUKUM MEROKOK DAN MENIKAH SIRRI (TANPA DICATAT DI KUA)?

Dalam persoalan ini beliau pernah menjawab dengan sebuah kaidah menarik yang kadang juga menjadi jawaban untuk permasalahan yang lain, yaitu

إذا أمر بواجب تأكد وجوبه وإذا أمر بمندوب وجب وإن أمر بمباح فإن كان فيه مصلحة عامة كترك شرب الدخان وجب ………………………..

Jika (seorang pemimpin) memerintahkan sesuatu kewajiban (menurut syariat), maka kewajiban itu semakin kuat. Jika ia memerintahkan sesuatu yang sunnah, maka hal itu menjadi wajib. Dan jika ia memerintahkan sesuatu yang mubah, selama mendatangkan kemslahatan umum, seperti larangan merokok, maka menjadi wajib……..

KETIGA, BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BID`AH YANG DIPERBOLEHKAN DAN YANG DILARANG?

Adapun yang saya pahami dari pemikiran beliau dalam persoalan ini adalah bedakanlah antara urusan agama dan yang bukan serta bedakanlah antara hakikat dan perantara/media. Bid`ah dalam urusan agama itu dilarang, seperti membuat sholat model baru, dan seterusnya. Jika yang bid`ah hanya medianya, wasailnya, formatnya, maka no problem. Tahlil, maulid, haul, imtihan, yang baru hanyalah format acaranya, sedangkan inti acaranya (membaca Al-Quran, Dzikir, sholawat, Manaqib, ceramah agama, dsb) telah ada dasarnya dalam Al-Quran maupun Hadits).

KEEMPAT, BAGAIMANA PANDANGAN BELIAU TERKAIT PANCASILA?

Kiai Afif membagi Pancasila ke dalam tiga kategori. Pertama, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Kedua, Pancasila selaras dengan syariat Islam. Ketiga, Pancasila adalah syariat Islam itu sendiri.

KELIMA, PEMIKIRAN KIAI AFIF TENTANG PEMIMPIN PEREMPUAN

Dalam persolan ini beliau mengulasnya secara lengkap di buku beliau yang berjudul “Fiqh Menggugat Pemilihan Langsung”.

Oleh : Ahmad Muzakki.
(Alumni Ma’had Aly Situbondo dan Saat ini Menjadi Pimpinan di Ma’had Aly Zainol Hasan, Genggong)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *