K. H. Muzakki Ridhwan, Kiai Tersembunyi

Ada banyak kiai yang perannya tak terbaca oleh sejarah. Yaitu, kiai yang berjuang di bawah. Jauh dari sorotan lampu kamera. Aktifitas kesehariannya adalah mendampingi para santri di desa.

Tipe kiai yang demikian itu jarang terlihat dalam acara-acara penting skala nasional. Kepergiannya ke kota-kota besar seperti Jakarta pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Ia tak betah terlalu lama di luar kota karena kerinduannya pada para santrinya di rumah–sebab ia selalu menjadi imam shalat berjemaah.

Di antara tipe kiai yang demikian itu adalah KH Muzakki Ridwan, Pemangku PP Ma’hadul Qur’an Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur, salah satu menantu KHR As’ad Syamsul Arifin (pahlawan nasional).

Kiai Muzakki adalah kiai tersembunyi. Bergerak di belakang layar. Membimbing dan mengedukasi santri setiap hari. Tidak sembarang santri, melainkan santri spesial; para penghafal al-Qur’an. Demikian intim hubungan Kiai Muzakki dengan para santrinya, maka hampir semua nama santri yang tinggal di Ma’hadul Qur’an beliau hafal

Sehari-hari beliau mengajarkan kitab-kitab dasar yang berguna untuk diamalkan bukan kitab-kitab besar yang lazim menjadi modal perdebatan akademik intelektual.

Tak muluk tapi penting, ia intens menekankan kepada para santrinya untuk selalu bertumpu pada ajaran Islam Ahlissunnah Waljamaah. Itu juga yang dikatakannya pada saya ketika tiga tahun lalu saya sowan ke beliau di rumah sederhananya di Sukorejo.

Saya berpendirin, para kiai dengan tipe Kiai Muzakki inilah yang sesungguhnya menjadi penyangga utama tegaknya ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah di Nusantra; ajaran keislaman yang lebih mendahulukan perdamaian ketimbang kekerasan.

Selamat jalan, Kiai Muzakki. Allah ghafara dzunubakum wa nawwara dharihakum. Wa inna insyaAllah bikum lahiqun.

Ahad, 1 Desember 2019
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *