Kehendak Bebas dan Pengalaman Perempuan

Mungkin sebagian penafsir akan bertanya, mengapa Allah mengurusi Perempuan yang sedang menyusui, nafkah khusus saat menyusui dan saat menyapihnya? Bukankah menyusui itu hal kecil yang tidak perlu ada di dalam al-Qur’an yang agung dan suci itu?

Mungkin saja pertanyaan itu lahir dari laki-laki seperti saya yang tidak pernah mengalami bagaimana perempuan menyusui.

Sekalipun kita laki laki membahasakan bagaimana beratnya perempuan menyusui dengan bahasa sehebat apapun, tetap saja kita tidak mengalaminya. Dan tentu tidak merasakannya.

Namun, tidak bagi Allah. Pastilah Allah mengetahui bagaimana beratnya beban perempuan ketika menyusui. Sebab itulah Allah mengapresiasi dan mengabadikannya dalam al-Qur’an.

Bagi Allah Perempuan yang menyusui berhak untuk mendaptkan “rizki dan busana” tambahan yang layak selain “nafkah” sehari-hari lainnya. Allah berfirman:

وَٱلۡوَ ٰ⁠لِدَ ٰ⁠تُ یُرۡضِعۡنَ أَوۡلَـٰدَهُنَّ حَوۡلَیۡنِ كَامِلَیۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن یُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ

Perempuan yang memiliki putra putri wajib menyusuinya dua tahun sempurna, bagi yang ingin menyempurnakan susuan. Dan bagi ayah wajib memberikan “rizki dan busana” dengan kelayakan.

Rizki dan busana di sini berbeda dengan “nafkah” yang harus diberikan sekalipun tidak dalam kondisi menyusui. Banyak suami tidak menyadari bahwa ia diwajibkan oleh Allah untuk memberi Rizki dan busana tambahan saat istri sedang menyusui. Mungkin membaca ayat ini, lewat begitu saja. Sebab umumnya laki laki, jika tidak seluruhnya, tidak mengalami proses menyusui sebagaimana perempuan. Berbeda ketika membaca ayat poligami, pasti ia merenungkannya sekalipun sejenak.

Sebab itu, memahami, menafsirkan dan merasakan makna al-Qur’an, wajib mendengarkan “suara dan pengalaman perempuan”. Sebab “makna menyusui” sebagaimana disebut al-Qur’an itu berada di dalam pengalaman perempuan.

Bahkan al-Qur’an, juga menegaskan bahwa keputusan apakah ingin “menyapih” atau tidak haruslah didasarkan atas “kehendak”, bukan sembarang kehendak, tapi kehendak yang berangkat dari “kerelaan hati” dan pertimbangan musyawarah.

Kehendak saja tidak cukup, tapi kehendak yang “’an tarādhin wa tasyāwurin”. Allah berfirman:

فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضࣲ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرࣲ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡهِمَاۗ

Jika keduanya (suami istri) berkehendak atas dasar kerelan dan musyawarah maka tiada dosa atau beban bagi keduanya.

Menarik membaca ayat ini, mengapa urusan menyapih aja kok perlu didasarkan atas kehendak yang kehendak itu didasarkan pada saling rela hati dan permusyawaratan? Kayak bahas Undang undang aja? Wong undang undang aja ada yang tiba tiba diputuskan tanpa musyawarah.

Lagi-lagi ini mungkin pertanyaan laki-laki. Namun jika mendengar suara dan pengalaman perempuan bisa jadi menyusui dan menyapih adalah soal kehidupan. Kehidupan perempuan.

Mengapa kehendak harus didasarkan pada “tarādhin” dan “tasyāwur”? Sangat mungkin, karena bisa jadi salah satu suami istri berkehendak tetapi kehendak itu lahir dari tekanan keadaan dan keterpaksaan, apalagi kehendak istri yang umumnya didasarkan pada kehendak suami.

Jadi, pesan al-Qur’an sangat luar bisa, yaitu bahwa persoalan kerumahtanggaan harusnya diputuskan atas dasar kehendak yang didasarkan pada “saling rela” dan “saling musyawarah”.

Pengalaman perempuan juga penting menjadi konteks pemaknaan ayat, karena Allah sendiri mendengar suara perempuan dan mengapresiasi pengalaman perempuan. Wallahu A’lam.

Oleh :
Ustaz. Dr. Imam Nakha’i, M.HI.
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo)

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *