Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Sunnah

Oleh : KH. Afifuddin Muhajir
(Rais Syuriyah PBNU dan Naib Mudir Ma’had Aly Situbondo)

 

Saya termasuk salah seorang yang mengapresiasi ajakan beberapa kalangan untuk kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah. Dan saya menganggap aneh bila ada sebagian umat muslim yang keberatan terhadap ajakan untuk menjadikan Al-Quran dan Al-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan dalam berbagai dimensinya. Mengapa aneh? Karena ajakan tersebut sesuai dengan pesan Nabi shallallahu alaihi wa sallam melalui sabdanya :

قَالَ: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي . رواه الحاكم.

Artinya :

“Aku wariskan kepadamu dua hal yang apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya maka kamu tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnahku”. (HR. al-Hakim).

Ajakan dan pesan tersebut bersifat umum, tidak hanya ditujukan kepada para ālim, tapi juga kepada para awam yang merupakan golongan mayoritas dari umat ini.

Pertanyaannya: Mungkinkah para awam selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Sunnah di dalam menjalani kehidupan mereka?

Pertanyaan ini muncul karena petunjuk-petunjuk Al-Quran dan Al-Sunnah tidak selalu ready for use (siap pakai), karena banyak teks-teks dari dua kitab ini yang masih memerlukan penafsiran dan penjabaran yang hanya bisa dilakukan oleh para ahlinya dengan bantuan beberapa disiplin ilmu.

Pertanyaan tersebut sesungguhnya sudah tersedia jawabannya di dalam Al-Quran, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنْتُم لاَ تَعْلَمُونَ.  النحل : 43

Artinya :

“Bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [Qs. An-Nahl : 43]

Orang-orang yang memiliki pengetahun adalah para ulama dari kalangan Sahabat, Tābi’īn, Tābi’it-tābi’īn, para Imam Mazhab dan lain-lain.

Dawuh-dawuh mereka (أَقْوَالُهُمْ) tertuang di dalam kitab-kitab yang berjumlah ratusan ribu kitab, bahkan mungkin jutaan kitab. Dan dawuh-dawuh itu tak lain adalah tafsiran dan penjabaran terhadap Al-Quran dan Al-Sunnah.

Maka, bermazhab dengan mengikuti salah satu dari para Imam Mazhab yang diyakini kedalaman ilmunya tidak menyimpang dari apa yang disebut dengan “kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah”.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *