KESEHATAN REPRODUKSI DALAM PERSPEKTIF FIKIH

Reproduksi atau kemampuan berkembang biak adalah salah satu potensi yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia, sebagaimana dianugerahkan pula kepada makhluk hidup yang lain. Al-Qur`an, surah an-Nisa’ ayat pertama:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [QS. AN-Nisā’: 1]

Allah swt menegaskan potensi manusia tersebut dalam ayat tersebut di atas. Dengan kemampuan berkembang biak manusia dapat menjaga eksistensinya di muka bumi ini untuk melanjutkan tugas sebagai khaīifatullahi fi al-ardli.

Dari ayat di atas dapat diambil setidaknya dua ajaran tentang reproduksi manusia. Pertama, ajaran bahwa reproduksi manusia merupakan satu dari tiga cara Allah dalam menciptakan manusia. Kedua, bahwa reproduksi dalam konteks ini merupakan tugas kemanusiaan yang melibatkan tiga “elemen”, yaitu Allah, suami, dan istri. Keterlibtan Allah tidak hanya berarti bahwa berhasil tidaknya proses reproduksi tergantung pada kehendak mutlak Allah, tetapi juga berarti bahwa sepanjang proses reproduksi harus mengikuti ajaran dan tuntunan-Nya. Sedangkan keterlibatan suami-istri mengimplikasikan adanya hak dan kewajiban yang sama di antara keduanya dalam proses reproduksi. Sebagai pengantar dialog, tulisan ini akan mencoba mendiskusikan hak dan kewajiban masing-masing suami-istri serta ajaran dan tuntunan Allah tentang proses reproduksi tersebut dalam perspektif fikih.

Antara Perspektif Medis dan Perspektif Fikih
Ada pandangan menarik yang dikemukakan oleh seorang pakar fikih abad XIII Masehi, Sultan al-Ulama ‘Izzuddin Ibn ‘Abd as-Salam tentang melihat sesuatu dengan menggunakan kaca mata medis dan fikih. Dia mengatakan:

… فَاِنَّ الطِّبَّ كَالشَّرْعِ وُضِعَ لِجَلْبِ مَصَالِحِ السَّلَامَةِ اْلعَافِيَةِ وَلِدَرْءِ مَفَاسِدِ اْلمَعَاطِبِ وَاْلاِسْقَامِ وَلِدَرْءِ مَا أَمْكَنَ دَرْؤُهُ مِنْ ذَلِكَ وَلِجَلْبِ مَا أَمْكَنَ جَلْبُهُ مِنْ ذَلِكَ فَاِنْ تَعَذَّرَ دَرْءُ اْلجَمِيْعِ أَوْ جَلْبُ اْلجَمِيْعِ فَإِنْ تَسَاوَتْ الرُّتَبُ تَخَيَّرَ وَاِنْ تَفَاوَتَ اُسْتُعْمِلَ التَّرْجِيْحُ عِنْدَ عِرْفَانِهِ وَالتَّوَقُّفُ عِنْدَ اْلجَهْلِ بِهِ وَاَّلذِى وُضِعَ الشَّرْعُ هُوَ اَّلذِى وُضِعَ الطِّبُّ فَإِنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مَوْضُوْعٌ لِجَلْبِ مَصَالِحِ اْلعِبَادِ دُوْنَ دَرْءِ مَفَاسِدِهِمْ…

Medis, sesungguhnya serupa dengan syariat. Diletakkan untuk mendatangkan kemaslahatan keselamatan dan kesehatan, menolak kerusakan kebinasaan dan penyakit, menolak apa yang mungkin ditolak, dan mendatangkan apa yang mungkin didatangkan darinya. Jika menolak keseluruhan atau mendatangkan keseluruhan tidak memungkinkan, maka apabila tingkat kemaslahatan dan kerusakannya sama, dia bisa memilih. Akan tetapi jika berbeda, maka digunakan yang lebih besar maslahahnya atau yang lebih kecil kerusakannya apabila diketahui, dan ditangguhkan apabila tidak diketahui. Apa yang diperuntukkan oleh syariat itulah yang diperuntukkan oleh ilmu kedokteran, karena keduanya dibuat untuk mendatang kemaslahatan manusia dan menolak kerusakannya. [‘Izz ‘Izzuddin ‘Abd al-‘Aziz, Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, hlm. 4]

Dengan mengutip pandangan ‘Izzuddin Ibn ‘Abd as-Salam tersebut, sesungguhnya, penulis ingin mengatakan bahwa lewat kaca mata fikih penulis ingin menggunakan pendekatan mashlahah-nya ‘Izzuddin Ibn ‘Abd as-Salam dalam melihat persoalan kesehatan reproduksi. Menurutnya:

وَالشَّرِيْعَةُ كُلُّهَا مَصَالِحُ إِمَّا تَدْرَأُ مَفَاسِدَ أَوْ تَجْلِبُ مَصَالِحَ

Kemaslahatan dan kerusakan akhirat hanya bisa diketahui dengan naql.

وَمُعْظَمُ مَصَالِحِ الدُّنْيَا وَمَفَاسِدِهَا مَعْرُوْفٌ بِاْلعَقْلِ وَذَلِكَ مُعْظَمُ الشَّرَائِعِ إِذْ لَا يَخْفَي عَلَى عَاقِلٍ قَبْلَ وُرُوْدِ الشَّرْعِ اَنَّ تَحْصِيْلَ الْمَصَالِحِ الْمَحْضَةِ وَدَرْءَ الْمَفَاسِدِ الْمَحْضَةِ عَنْ نَفْسِ اْلاِنْسَانِ وَعَنْ غَيْرِهِ مَحْمُوْدٌ حَسَنٌ وَاَنَّ تَقْدِيْمَ اَرْجَحِ الْمَصَالِحِ فَأَرْجَحِهَا مَحْمُوْدٌ حَسَنٌ وَاَنَّ دَرْءَ اَفْسَدِ الْمَفَاسِدِ فَأَفْسَدِهَا مَحْمُوْدٌ حَسَنٌ وَاَنَّ تَقْدِيْمَ اْلمَصَالِحِ الرَّاجِحَةِ عَلَى اْلمَفَاسِدِ الْمَرْجُوْحَةِ مَحْمُوْدٌ حَسَنٌ وَاَنَّ دَرْءَ الْمَفَاسِدِ الرَّاجِحَةِ عَلَى الْمَصَالِحِ الْمَرْجُوْحَةِ مَحْمُوْدٌ حَسَنٌ وَاتَّفَقَ الْحُكَمَاءُ عَلَى ذَلِكَ… وَأَمَّا مَصَالِحُ اْلآخِرَةِ وَمَفَاسِدُهَا فَلَا تُعْرَفُ إِلَّا بِالنَّقْلِ

Sebagian besar kemaslahatan dan mafsadat dunia bisa diketahui dengan akal. Demikian itu sebagian besar syariat, karena jelas, bagi orang yang berakal, sebelum datangnya syariat, bahwa mencapai kemaslahatan murni dan menolak kerusakan murni dari diri manusia dan yang lainnya merupakan sesuatu yang terpuji dan bagus, bahwa mendahulukian kemaslahatan yang lebih maslahah, kemudian yang maslahah unggul adalah terpuji dan bagus, bahwa menolak kerusakan yang lebih merusak, kemudian yang paling merusak adalan terpuji dan bagus, bahwa mendahulukan kemaslahatan yang lebih maslahah atas kerusakan yang kurang merusak adalah terpuji dan bagus, dan bahwa menolak kerusakan yang lebih merusak atas kemaslahatan yang kurang maslahah adalah terpuji dan bagus. Orang-orang bijak sepakat dengan hal itu. Secara kodrati perempuan mengemban fungsi reproduksi umat manusia yang utamanya meliputi mangandung, melahirkan dan menyusui.

Perempuan: Pengemban Utama Tugas Kemanusiaan Reproduksi

Meskipun proses reproduksi umat manusia tidak bisa terlaksana tanpa keterlibatan suami istri secara bersama, tetapi istrilah yang yang memikul fungsi utama, karena kenyataannya sebagian besar organ-organ reproduksi berada pada kaum hawa ini. Al-Qur`an menggambarkan bagaimana beratnya tugas kemanusiaan ini dalan surah al-Ahqaf, ayat 14, sebagai berikut:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. [QS. Al-Ahqāf: 14]

Dalam ayat lain bahkan tugas ini merupakan tugas berat di atas berat:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [QS. Luqmān: 14]

Karena tugas yang sangat amat berat itulah, Rasulullah di banyak sabdanya mengangkat derajat ibu (istri). Kalau kemudian kenyataannya posisi ibu (istri) menjadi terpuruk di hadapan suami, itu bukan kesalahan ajaran, melainkan kesalahan memahami ajaran dan yang merasa paling punya otoritas terhadap ajaran. Akhirnya, demi kemaslahatan umat manusia perempuan sebagai pengemban utama tugas reproduksi harus mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan, jaminan kesejahtraan, dan jaminan ikut mengambil bagian dalam menentukan proses-proses reproduksi.

Jaminan Keselamatan dan Kesehatan
Memang benar bahwa proses reproduksi yang paling utama adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui, sebagaimana tercantum dalam kedua ayat di atas. Namun bila dicemati, sesungguhnya, proses reproduksi bagi perempuan yang perlu mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan adalah mulai dari menstruasi, memilih dan menentukan pasangan, hubungan seks, mengandung, melahirkan, nifas, menyusui, dan merawat anak. Jaminan ini sebenarnya telah diberikan oleh fikih Islam, Ketika perempuan sedang menstruasi dan nifas, misalnya, mereka diberi cuti reproduksi –meminjam istilah Masdar-, seperti cuti salat, cuti puasa, dan lain-lain demi menjaga kondisi kesehatan mereka, baik fisik maupun mental. Di samping itu mereka juga dilarang melakukan hubungan seks. Kalau larangan ini dilanggar, suami diharuskan membayar denda (fidyah). [as-Syarbini al-Khatib, al-Iqna`, vol. I, hlm. 87]

Memilih dan menentukan pasangan juga memiliki implikasi terhadap jaminan keselamatan dan kesehatan reproduksi, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Paling tidak persoalan ini bisa dilihat dari dua sisi, yaitu siapa pasangan yang akan menjadi pendampingnya dan menentukan usia berapa ia akan menikah. Kedua-duanya bisa berpengaruh pada kesehatan baik fisik maupun mental. Hal ini harus mendapat perhatian serius dari para orang tua agar tidak semena-mena menggunakan hak prerogatifnya sebagai wali mujbir, walaupun dalam perspektif fikih tentang wali mujbir, bahkan penggunaan wali dalam nikah sendiri, masih diperselisihkan.

Dr. Abdul Djalal, M.Ag.
Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo dan Ketua Asosiasi Mahad Aly Indonesia (AMALI)

Sumber Tulisan: Majalah Tanwirul Afkar Edisi 520, Desember 2015

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *