Ketajaman Mata Hati Habib Abdullah ibn Alwi al-Haddad.

Dalam usia tiga tahun, Abdullah kecil terpapar penyakit cacar. Celakanya, cacar merambah ke matanya sehingga membuatnya buta secara permanen. Namun demikian, semangat belajarnya luar biasa tinggi dan kebutaan tak menghalanginya untuk terus menimba ilmu dan mengaji pada banyak masyāyikh yang hidup di zamannya hingga akhirnya menjadi ulama besar yang bukan saja sangat berpengaruh di negeri Yaman, tetapi juga di seantero Dunia Islam. Itulah Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad yang dikenal sebagai shahibur ratib dan digelari Qutb al-Da’wah wa al-Irsyad.

Luar biasanya, dalam kondisi kebutaan yang dideritanya itu ia sangat produktif dalam bidang karya ilmiah dan mewariskan ratusan kitab besar-kecil yang dikenal di seluruh Dunia Islam, khususnya Indonesia, utamanya di kalangan pesantren. Yang paling dikenal di antaranya dan dikaji secara luas adalah kitabnya yang berjudul al-Nashāih al-Diniyyah, kitab yang dinilai sebagai saripati kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddin karya Imam Al-Ghazali.

Kondisi fisik yang tidak sempurna tetapi dengan tingkat produktivitas yang tinggi itu membuat beberapa orang di zamannya ragu apa benar dia mengarang sendiri kitab-kitab itu. Apa tidak mungkin orang lain yang menulisnya lalu diatasnamakan dia?

Konon, dengan rasa penasaran, salah seorang dari mereka datang bertamu ke rumahnya untuk mengecek kebenaran berita itu. Tentu saja, si tuan rumah menyambutnya dengan baik dan menyuguhinya minuman dan makanan seadanya. Saat si tamu hendak meminum teh yang disuguhkan kepadanya, Habib Abdullah menegurnya : “Tunggu, tunggu, jangan diminum dulu, ada bangkai lalat di minuman itu. Buang dulu, baru diminum,” ujarnya.

Subhanallah, agaknya Habib Abdullah meski buta mata kepalanya tetapi melek mata hatinya, sementara si tamu meski mata kepalanya melek tetapi bangkai lalat di depannya tak kelihatan.

Oleh :
KH. Zainul Mu’ien Husni, Lc.
(Dosen Senior Ma’had Aly Situbondo)

*Tulisan ini disarikan dari pemaparan biografi Habib Abdullah ibn Alwi Al-Haddad oleh Habib Hasan al-Muhdhar, Pengasuh PP. Ahbabul Mustafa, Kraksaan.

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *