Ketua Amali Himbau Agar Ma’had Aly Terus Disosialisasikan

Tasikmalaya-Dr. KH. Abdul Djalal, M. Ag., ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia, dalam sambutannya pada pembukaan Kongres Dema Amali II (25/02) mengimbau agar segenap civitas Ma’had Aly terus melukakan sosialisai terkait ‘apa’ dan ‘bagaimana’ Ma’had Aly. Sasarannya adalah internal pesantren serta masyarakat luas.

Menurut beliau, hal utama yang penting untuk disosialisasikan adalah tentang jati diri Ma’had Aly. Beliau lalu menegaskan, “Ma’had adalah lembaga kaderisasi ulama.” Jati diri ini tak bisa dilepaskan dari latar historis bahwa Ma’had Aly lahir untuk merespon fenomena kelangkaan ulama. Sebagai implikasinya, fokus kajian Mahasantri Ma’had Aly adalah khazanah pemikiran ulama yang termaktub dalam turats.

Kendati demikian, hal tersebut tidak serta-merta menghalangi atau bahkan menggugurkan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi bagi Ma’had Aly. Itulah kenapa Ma’had Aly tidak membatasi pola kegiatannya pada sistem pendidikan dan pengajaran sebagaimana di pesantren tradisional pada umumnya. Lebih dari itu, Ma’had Aly juga mewajibkan diri untuk terlibat dalam penelitian dan pengembangan (research and development), serta pengabdian kepada masyarakat.

Hal-hal tersebut sudah dilakukan, bahkan, sejak awal mula berdirinya Ma’had Aly. Terbukti dengan adanya beberapa kegiatan seperti bahtsul masail, kajian isu-isu kontmporer yang hasilnya terdokumentasi dalam bentuk mading, buletin atau majalah, apresiasi karya-karya masyayikh, penulisan risalah (skripsi/tesis), penelitian baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (PPM), dan semacamnya.

Walhasil, Ma’had Aly dapat disebut sebagai hibridasi antara institusi pendidikan pesantren dan perguruan tinggi. Dengan kalimat lain, Ma’had Aly bukan hanya pesantren, juga bukan sekadar perguruan tinggi.

Kontributor: Saifir Rohman

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *