KH. Moh. Romzi Al-Amiri Mannan: Profil kiai Pesantren dan Santri Produktif

Oleh : Khairuddin Habziz

Katib Ma’had Aly Situbondo

Ramah, akrab dan bersahaja. Itulah kesan yang saya tangkap dari sosok Mudir Ma’had Ali Nurul Jadid Paiton Probolinggo saat beberapa kali bertemu beliau, KH. Moh Romsi al-Amiri Mannan menantu seorang kiai kharismatik al-Maghfurlah KH. Abdul Wafi Paiton pengarang salawat al-Nahdhiyyah yang viral sejak dilantunkan oleh Veve Zulvikar, seorang gadis muda penyanyi lagu kasidah-kasidah arab itu.

Subhanallah, Namun siapa sangka di balik kebersahajaan dan kesederhanaannya, beliau adalah bak mutiara tersembunyi di antara celah-celah batu karang lautan, intan permata di antara hamparan bebatuan, kayu gaharu di antara deretan pepohonan di tengah lebatnya hutan belantara.

Beliaulah sosok kiai muda yang al-alim (cerdik-cendikia) al-fadil (utama), seorang penulis yang sangat produktif.

Pada saat saya diminta beliau untuk sharing metode dan strategi pembelajaran kaidah fikih dan ushul fikih melalui acara bedah buku kembar kaidah fikih dan ushul fikih di lembaga Ma’had Aly yang beliau pimpin, tanpa diduga sebelumnya saya diberi hadiah berharga berupa sejumlah kitab karangan beliau. Tidak kurang dari 40 judul telah beliau susun di dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu fikih, ushul fikih, faraid, ilmu arudh, nahwu-sharaf, balaghah, akidah, hingga tawassuf.

Sungguh, andai saat ini karangan beliau ini tidak sepopuler kitab Fathul Qorib misalnya, tapi saya yakin generasi akan datang akan mengapresiasi karya-karya beliau. Suatu saat, ketika beliau menghadap Sang Pencipta, generasi demi generasi akan mengenal beliau sebagai salah satu kiai pesantren produktif yang karya-karyanya akan tercatat di deretan koleksi kitab-kitab Ulama Nusantara.

Jika disimak sebagian kecil karangan beliau disusun dengan menggunakan Bahasa Indonesia, namun sebagian besar justru menggunakan bahasa arab yang sebenarnya bukan merupakan bahasa asli beliau.
Porsi ini mengisyarahkan tingkat kematangan beliau di bidang tata bahasa arab yang merupakan bahasa pengantar kitab-kitab turats di dunia Islam.

Salah satu sampel yang menunjukkan kematangan beliau di bidang bahasa sekaligus kitab-kitab turats adalah kitab yang berjudul As-Tsamrah Al-Yani’ah mengulas tentang akidah Ahlu sunah wal Jamaah yang disusun dalam bentuk nadham dan syarah. Ternyata Nadhim (penggubah bait-bait syair) dan sekaligus syarih (pemberi penjelasan) adalah beliau sendiri.

Bagi saya, keistemewaan ini tidaklah mengejutkan. Mengapa? karena saya yakin keistemewaan ini tidak beliau dapatkan secara gratis semudah membalikkan telapak tangan. Dari profil singkat yang tertera pada karangan beliau, saya membaca setidaknya ada dua “mahar” yang beliau persembahkan untuk mendapatkan keistemewaan itu.

Pertama, adanya kesungguhan, keseriusan, dan kegigihan beliau di dalam menuntut ilmu. Kesungguhan Ini sangat nampak dari rihlah dan tabarrukan beliau dari pesantren ke pesantren. Mulai dari Pondok Pesantren Hidayatut Talibin asuhan kedua orang tua beliau di Sumenep Madura, kemudian melanjutkan ke PP. Annuqayah Guluk-Guluk, PP. Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta asuhan KH. Ali Maksum dan PP. al-Anwar Sarang asuhan KH. Maimun Zubair

Kedua, keseriusan beliau untuk terus berproses menuju kematangan ilmiah dan amaliah. Beliau berprinsip bahwa tidak santri yang lulus dari pesantren langsung menjadi orang alim, tetapi pengalaman terus belajar tanpa henti itulah peluang terbesar untuk menjadikan seorang santri menjadi rasikh fil ilmi, setidaknya lebih baik dari hari kemaren.
Maka, “Jangan pernah berhenti mengaji dan mengkaji karena itu adalah watak santri yang sesungguhnya”.

“Jujurlah pada diri sendiri karena itu kunci kesuksesan seorang santri”.

Santri sukses, Indonesia Maju

#SelamatmemperingatiHSN2019#

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *