Khitan Perempuan Masih Perlukah?

Khitan perempuan, terus menjadi perdebatan. Bukan hanya dikalangan Medis, tapi juga dikalangan Ulama. Perdebatan dikalangan Ulama terjadi karena memang tidak ditemukan “teks ” al-Qur’an yang menjelaskan khitan, apalagi khitan perempuan. Pun tidak ditemukan hadist Nabi  yang “shahih”, yang dapat dijadikan pijakan untuk khitan perempuan. Ibnu Mundir sebagaimana dikutip “Fiqhus Sunnah”, menyatakan “laisa fi al khitan khabarun yurja’ wa laa sunnatu tuttaba” – tidak ada khabar yang dapat dijadikan pijakan, dan tidak ada Sunnah yang layak diikuti dalam khitan perempuan. Sayyid Sabiq menyimpulkan hal yang sama, “Ahaditsul amri bi khitanil mar’ati dha’ifatun lam yashihhu minha syai’un”– Hadist-hadist tentang khitan perempuan tidak ada satupun yang shahih.

Kesimpulan senada disampikan oleh Grend al-Azhar; Mahmut Saltut, dalam kitabnya “Fatawa as-Saltut” hlm. 234, beliau menyatakan: “Bahwa tidak ada alasan apapun baik medis, moral maupun syar’iy yang menganjurkan apalagi mewajibkan khitan perempuan…”

Maka, apakah yang dijadikan “alasan” khitan perempuan jika tidak ada dalil satupun yang shahih?

Sebagian ulama memijakkan pada mitos “syahwat” perempuan. Saya sebut mitos karena belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa tinggi dan rendahnya syahwat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Bahkan ulama sendiri berbeda mungkin karena kepentingan berbeda. Sebagian mereka menyatakan “bahwa syahwat perempuan” 9 kali, ada yg bilang 99 kali lebih tinggi dari syahwat laki laki. Oleh karena itu ia harus diturunkan. Caranya, dengan khitan.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa syahwat laki laki lebih tinggi dari syahwat perempuan, sebab itu harus diberi saluran, yaitu dengn boleh poligami (baca; Fatawa al Islam)

Jadi jelas kepentingan dibalik alasan itu. Seharusnya putusan rendah tingginya syahwat bukan domain ulama teks, melainkan domain ulama Medis.

Akhir-akhir ini banyak perempuan mengadukan “kematian seksualitas mereka” akibat pelukaan dan pemotongan genital mereka. Dimana klitoris sama fungsinya dengan penis, yang bilamana dipotong, maka sama dengan memotong penis. Dalam pelatihan-pelatihan yang saya ikuti, saya sering bertanya pada sekelompok ibu-ibu “Apakah ketika melakukan hubungan, selalu berahir dengan ejakulasi/kepuasan?” Umumnya ibu-ibu menjawab tidak. Sangat mungkin mereka ini dikhitan d iwaktu kecil.

Kesimpulan: tidak ada dalil yang shahih, tentang khitan perempuan. Khitan perempuan yang seringkali dipraktekkan dengan pelukaan dan pemotongan alat genital perempuan, sangat berbahaya bagi kesehatan reproduksi dan seksualitas perempuan. Khitan perempuan harus dihentikan.

Sumber tulisan:
https://www.facebook.com/imam.nakhai1?epa=SEARCH_BOX

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *