KHR. Ach Fawaid As’ad Dilarang Mondok di Luar, Ini Alasannya!.

Terlahir sebagai seorang anak kiai yang disegani dan dihormati oleh banyak umat membuat Kiai Fawaid muda tertuntut dan berhasrat untuk berkelana menimba ilmu sedalam-dalamnya ke berbagai pondok pesantren, sabagaimana yang dilakukan oleh abahnya dahulu ketika masih muda.

Tapi sayang, takdir berkehendak lain. Orang tua yang sangat diseganinya itu tidak memberi restu atas hasrat besar Kiai Fawaid muda untuk mondok di luar. Sebagai orang pesantren yang memegang erat tradisi leluhurnya, Kiai Fawaid muda hanya bisa menganggukkan kepala dan manut pada keputusan sang abah.

Dan perlu diketahui, sebelum Kiai Fawaid muda mengutarakan keinginannya untuk mondok di luar, pada hari sebelumnya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani sudah meminta kerelaan Kiai As’ad untuk memondokkan salah seorang keluarganya -termsauk Kiai Fawaid- di Rushaifah, Mekkah. Namun, Kiai As’ad keberatan dengan keinginan Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki Al Hasani tersebut dan sebagai gantinya Kiai Azaim-lah yang berangkat ke Rushaifah.

Kenapa Kiai As’ad sangat berat melepas Kiai Fawaid muda untuk mondok ke luar?. Keputusan Kiai As’ad mencegah putra kesayangannya untuk mondok di luar bukan tanpa alasan. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang membuat Kiai As’ad enggan memberi izin kepada Kiai Fawaid muda untuk mondok di luar.

Pertama, Kiai As’ad hendak menjaga akhlaq Kiai Fawaid muda dalam berinteraksi dengan kiai-kiai yang ada di pesantren luar sana. Kiai As’ad khawatir, ketika Kiai Fawaid muda mondok di luar dan lepas dari pantauan dirinya, ia melakukan su’ul adab kepada kiai atau gurunya di luar. Kegelisahan Kiai As’ad tersebut bisa kita pahami dari ungkapan beliau “Sengkok ajege akhlakka tang anak takok sampek cangkolang ka guru”, terjemahnya, “Saya menjaga akhlak anak saya khawatir ia su’ul adab kepada gurunya”.

Kedua, Kiai As’ad khawatir Kiai Fawaid muda terpengaruh oleh paham-paham tidak benar yang berkembang di pondok luar pada saat itu.

Ketiga, Kiai As’ad hendak mengajarkan secara langsung kepada Kiai Fawaid tentang bagaimana menjadi tokoh masyarakat dan pimpinan pesantren. Dalam hal ini, Kiai As’ad sering melibatkan Kiai Fawaid secara langsung dalam pertemuan yang dilakukan oleh Kiai As’ad dengan berbagai macam tokoh, mulai dari tokoh agamawan hingga tokoh negarawan.

Meskipun dilarang untuk melanjutkan pendidikan di pondok luar, Kiai Fawaid muda tidak patah semangat untuk terus belajar. Secara formal, beliau melanjutkan semua jenjang pendidikannya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, mulai dari Madrasah Diniyah hingga lulus Madrasah Aliyah [srf].

Bersambung…

 

Dikutip dari : Majalah Tanwirul Afkar Edisi Khusus HAUL.

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *