Kiai Afifuddin Muhajir Dan Bahstul Masail Yang Merevisi Alquran

Oleh: Ahmad Husain Fahasbu (Mahasantri Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah Angkatan X)

Guru saya, Kiai Afifuddin Muhajir, beberapa hari ini sedang menjadi pembicaraan publik. Penyebabnya, ia menjadi salah satu pembicara (di samping banyak Kiai sepuh yang keilmuannya bukan kaleng-kaleng seperti Kiai Miftachul Akhyar, Kiai Said Aqil Siradj, Kiai Masdar Farid Mas’udi, Prof. Kiai Machasin dan beberapa Kiai lain yang juga sedari awal sampai akhir mengikuti dengan seksama) pada Bahstul Masail Maudhuiyah Munas NU di Jawa Barat tahun 2019. Bahkan beliau juga ikut “turun gunung” memberikan klarifisikasi, meluruskan opini publik tentang hasil Bahstul Masail yang dituduh telah merevisi Alquran itu.

Pertama-tama, bagi saya dan mungkin banyak orang, hasil Bahstul Masail (selanjutnya disebut BM) soal keabsahan negara Indonesia menurut Islam dan pertanyaan turunannya yaitu tentang status non Muslim sebagai warga negara “yang heboh” itu, tak ada yang perlu dikagetkan. Meminjam bahasa Via Vallen, slow, slow dan slow alias santai saja.

Namun demikian, saya akan mencoba mendudukkan persoalan. Kiai Afifuddin Muhajir dalam sebuah klarifikasi menyebut, “Dan perlu diketahui pula bahwa Bahtsul Masail di Munas itu tidak membahas tentang apakah non-Muslim di Indonesia ini kafir atau bukan. Akan tetapi yang dibahas adalah kategori mereka. Apakah mereka itu harbi, mu’ahad, musta’man, dan dzimmi?

Jawabannya, mereka (non-Muslim dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia) itu bukan harbi, bukan mu’ahad, bukan musta’man, bukan pula dzimmi.

Karena memang definisi-definisi tersebut tidak bisa diterapkan kepada non-Muslim di Indonesia. Oleh karena itu, istilah yang tepat, katakan saja mereka non-Muslim.

Harus dibedakan pula antara keyakinan dan pernyataan, apa yang boleh atau bahkan wajib menjadi keyakinan belum tentu bisa dinyatakan. Misalnya, suatu kelompok yang dinyatakan dalam Al-Quran dinyatakan kafir, kita wajib meyakini mereka kafir.

Akan tetapi mengatakan, “kamu kafir”, “dia kafir”, “mereka kafir”, itu bisa menciptakan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat plural, yang sudah damai dan sudah diusahakan dan diciptakan dengan susah payah oleh pendahulu-pendahulu kita.

Oleh karena itu, perlu dicari kalimat lain yang lebih santun, misalnya  non-Muslim. Ini tanpa harus mengubah “Qul yaa ayyuhal kaafirun” menjadi “Qul yaa ayyuhal non-Muslim”. Itu tidak boleh.

Paragraf klarifikasi di atas sebenarnya sudah memberi gambaran tentang persoalan yang dihebohkan. Hanya saja, bola sudah menggelinding ke tengah, belum lagi dibumbui dengan banyaknya berita hoax dan diisnformasi. Maka pembahasan ini tidak diketahui juntrungnya. (saya sarankan untuk bacaan tambahan yang cukup bergizi, simak tulisan senior saya, Ustaz Muhammad Rizkil Azizi dalam http://mahadaly-situbondo.ac.id/rumusan-kesetaraan-tantangan-konsistensi )

Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan banyak mengulas hasil BM. Karena sudah jelas. Tulisan ini mungkin bisa dianggap sebagai refleksi saya sebagai seorang santri yang alhamdulillah menjadi notulis pada acara BM di pesantren tempat saya belajar, Pesantren Sukorejo, dimana Kiai Afifuddin Muhajir selalu menjadi perumus dan narasumber utama.

Saya masuk Pesantren Sukorejo pada tahun 2009, tepatnya ketika baru saja menyelesaikan sekolah dasar. Masuk Pesantren di usia sedini itu, saya perlu banyak beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi tak butuh waktu lama untuk beradaptasi, saya cepat kerasan dan bisa beraktivitas sebagaimana santri pada umumnya.

Seingat saya dan ini terus berlangsung sampai saat ini, acara Bahstul Masail Nasional di Pesantren Sukorejo dilaksanakan setiap tahun, yaitu ketika acara Haul Majemuk para masyayikh. Ini pengecualian dari acara BM yang diselenggarakan secara tematik misalnya antar sesama ketua kamar, para santri dengan jenjang pendidikan tertentu dan berbagai elemen organisasi di Pesantren.

Meski usia kanak-kanak, saya sangat senang mengikuti BM. Walau pada waktu itu, banyak bahasan yang tidak saya pahami, tetapi saya tetap merasa harus mengikuti momen ini. Alasannya adalah, saya begitu terkesima menyimak pemaparan Kiai Afifuddin Muhajir ketika mencoba menjelaskan permasalahan-permasalahan, mengurai perdebatan dan memberikan rumusan. Kiai Afif, begitu ia akrab disapa, walau dengan pembawaan yang datar dan tidak teriak-teriak (memangnya demo apa teriak-teriak?) ketika menjelaskan penjelasannya mengalir renyah, bahasa yang digunakan indah, tak rumit, ekspresinya tenang dan santai. Singkat, padat dan jelas. Dan sulit dicari celah untuk dibantah.

Dalam berbagai forum, Kiai Afifuddin Muhajir memang tampil memukau dan begitu power full. Ketika menjelaskan ia langsung masuk jantung pembahasan. Tidak muter-muter! Bahkan ia mampu menyederhanakan pembasan-pembahasan yang rumit menjadi sesederhana sehingga  bisa dipahami oleh audiens secara umum.

Pada tahun 2014, babak baru dalam kehidupan saya. Saya diterima di lembaga ahli fikih & usul fikih Ma’had Aly Situbondo. Masuk di lembaga ini memungkin saya untuk terus mengeksplorasi diri. Lewat Ma’had Aly saya sering mengikuti BM yang dilaksanakan di luar pesantren. Lewat Ma’had Aly pula, perjumpaan saya dengan Kiai Afifuddin Muhajir makin intens. Baik melalui forum pengajian, acara-acara resmi seperti Sarasehan, Seminar, Lokakarya, Bahstul Masail dan acara tidak resmi seperti wawancara pribadi.

Kesan saya, sumber bacaan Kiai Afifuddin Muhajir terutama tentang keisalaman begitu luas. Sampai saat ini, beliau tetap tekun membaca, menulis dan berfikir. Nilai keulamaan beliau makin paripurna dengan perpaduan keiluman yang mendalam dan akhlak yang terpuji. Kiai Afif adalah sosok yang terbuka kepada siapapun, ramah tidak suka marah dan begitu menghargai lawan bicaranya.

Sejak tahun 2016, saya diamanati menjadi bagian notulis setiap perhelatan BM Nasional yang diadakan setiap tahun. Sudah maklum, notulis adalah bagian yang cukup krusial, utamanya ketika mendokumentasikan perjalanan hingga hasil pembahasan BM.

Ketika hendak memulai diskusi BM Kiai Afif selalu menegaskan agar dalam menjawab pertanyaan (as’ilah), tidak seperti menjawab ujian bagi anak Sekolah Dasar. Misalnya apa hukumnya kasus ini? Jawabannya Haram!, jawaban ini, menurut Kiai penulis Kitab Fath al-Mujib al-Qarib tersebut seperti jawaban anak Sekolah Dasar.

Kiai Afif ingin agar pembahasan dan pemberian jawaban dalam BM tidak hitam putih, tidak terlalu legal formal dan yang penting asal vonis hukum. Lebih dari itu, ia ingin agar setiap permasalahan dibahas begitu elaboratif, mendalam, dan yang penting bagaimana efek dari jawaban tersebut, memberi maslahat ataukah memberi mafsadat atau bahkan keputusan itu dianggap tidak ada (wujuduhu ka’adamihi) karena tidak menyentuh langsung kehidupan riil masyarakat secara umum.

Banyak orang yang memandang bahwa acara BM dianggap sekadar forum untuk menunjukkan keahliaan membaca kitab sehingga ia lupa apa tawaran forum kepada masyarakat yang benar-benar menghadapi sebuah persoalan. Lebih-lebih, jika kita masih diributkan dengan istilah kitab muktabar (bisa dijadikan rujukan) atau kitab tidak muktabar (tidak bisa dijadikan rujukan). Saya kira ini sebuah kemunduran dan dalam konteks ini, BM hanya dianggap sebagai sebuah forum ilusi intelektual saja.

Kiai Afif tidak demikian, ia terus berupaya agar acara diskusi khas Pesantren tersebut terus hidup, berdenyut sesuai perkembangan zaman. Apa yang dilakukan Kiai Afif ini sebenarnya bukan hal baru, pendahulunya, Kiai Sahal telah melakukan hal yang sama. Dalam sebuah kesempatan Kiai Sahal pernah berkata, “Karena produk ijtihad maka keputusan fikih bukan barang sakral yang tidak boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang. Pemahaman yang mengsyakralkan fikih jelas keliru. Rumusan Fikih yang dikonstruksikan ratusan tahun lalu jelas tidak memadai untuk menjawab semua persoalan yang terjadi saat ini. Situasi sosial, politik dan kebudayaanya sudah berbeda”.

Kiai Afif juga menambahkan agar rumusan BM disertai dengan motodologi pengambilan hukumnya (istinbath al-Ahkam). Oleh karena itu, acara BM di pesantren tempat saya belajar tidak selesai dengan selesainya forum. Kiai Afif, beberapa perumus yang lain dan saya sebagai notulis kadang masih memerulukan forum tersendiri untuk memvalidasi rumusan. Misalnya forum rampung di waktu asar, bakda salat asar kami perlu berkumpul kembali. Malam hari setelah itu, kami berkumpul kembali secara terbatas untuk melanjutkan dan menyelesaikan naskah rumusan. Kadang-kadang sampai jam 01 dini hari bahkan lebih.

Tidak selesai di situ, keesokan harinya, rumusan masih ditashih kembali oleh Kiai Afifuddin Muhajir. Beliau cukup teliti dalam mengedit berkas rumusan. Tidak hanya menyangkut konten dan isi, kadang beliau juga mengoreksi soal titik dan koma. Tugas saya sebagai notulis benar-benar selesai ketika rumusan BM ini dibaca secara terbuka pada acara puncak Haul Majemuk pendiri dan Pengasuh PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang biasanya dilaksanakan bakda salat zuhur.

Waktu yang dibutuhkan sekitar tiga hari untuk menghasilkan sebuah rumusan yang secara kuantitas sedikit. Praktis, seluruh aktivitas ini bukan hanya menguras energi fisik tetapi juga menguras energi intelektual. Jadi forum BM Ini tidak sesederhana yang engkau kira ferguso! (di akhir pragraf akan saya sertakan model rumusan Kiai Afifuddin Muhajir pada BM di Pesantren Sukorejo)

Menemani dan mengamati beliau secara dekat ketika forum-forum BM, membuat saya makin yakin, bahwa ia tidak sederhana (sesederhana tuduhan orang yang berfikir sederhana) dalam menjawab sebuah persoalan yang bermunculan. Argumen yang beliau bangun sangat kukuh. Perpaduan antara penguasaan teks klasik (nushus al-Syariah) dan teori usul fikih lengkap dengan maqasid al-Syariah yang mendalam, makin membuat rumusan fikih yang ditangani oleh beliau tidak hanya kuat secara teologis-normatif, tetapi juga punya agenda praksis.

Ala kulli hal, Kiai Afifuddin Muhajir telah mengispirasi kita untuk terus membaca, merenung, berfikir dan tidak berhenti belajar. Dalam terminologi ilmu Mantiq disebutkan bahwa manusia adalah al-Hayawan al-Nathiq, hewan yang bisa berfikir (bukan yang suka nyinyir!, tambahasan red). Jadi sudahkah anda nyinyir, eh berfikir hari ini? []

Link: hasil Bahstul Masail di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo:

http://mahadaly-situbondo.ac.id/wp-content/uploads/2019/01/rumusanBM-putra.pdf

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *