Kisah Kiai As’ad: Kiai As’ad Berdakwah Untuk Kaum Pinggiran

Oleh: Ahmad Husein al-Absi

Santri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo

 

Ketika masa-masa penjajahan, Pesantren Sukorejo di samping dikenal sebagai lembaga pendidikan agama (tafaqquh fi al-Din), juga dikenal dengan markas perjuangan. Di sana diajarkan ilmu bela diri, kekebalan dan hal lain yang dibutuhkan ketika masa revolusi itu. Martin Van Breinessen, salah seorang peneliti luar negeri yang cukup serius mengikuti perkembangan Nahdlatul Ulama dalam sebuah tulisannya menulis tentang Kiai As’ad, pimpinan Pesantren Sukorejo pada waktu itu:

“Kiai As’ad terkenal dengan guru pancak silat dan terutama, ilmu kesaktian. Pesantrennya berkembang pesat, dan pada tahun 1980-an merupakan salah satu terbesar di Jawa, yang menawarkan bukan hanya pendidikan tingkat menengah tetapi bahkan pendidikan tinggi Islam”.

Kiai As’ad memang juga dikenal memiliki ilmu kanuragan, silat dan ilmu kekebalan. Itu semua makin disempurnakan dengan beberapa wirid, hizb dan amalan yang beliau lazimkan selama hidupnya. Inspirator Kiai As’ad dalam ilmu “kalake’an”—dalam bahasa Madura, ilmu kanuragan dan kekebalan itu disebut dengan ilmu kalake’an yang berarti ilmu untuk orang laki-laki; kiasan atas sosok laki-laki yang berani—bukan orang lain, melainkan ayahanda beliau sendiri, yaitu Kiai Syamsul Arifin. Dalam buku “Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf, Wejangan di Balik Mimbar”, terekam dawuh Kiai Syamsul, “Lah, kamu ini mau jadi kiai kok tidak bisa pencak! Mengetahui pencak itu sunnah! Tidak ada sahabat nabi yang loyo! Mereka itu gagah”.

Secara khusus, Kiai As’ad berguru kepada Kiai Abdul Majid, salah satu kerabat Kiai As’ad yang dikenal memiliki ilmu kanuragan. Hal ini, sebagaimana penuturan Kiai Abdus Shomad, bahwa di antara putra Kiai Ruham, Kiai Abdul Majid adalah yang paling menonjol ilmu kanuragannya. Kiai Ruham adalah ayahanda Kiai Syamsul Arifin.

Buat apa Kiai As’ad belajar ilmu kanuragan? Tak ada jawaban lain kecuali sebagai media perjuangan dan dakwah. Berjuang untuk mengusir penjajah dan berdakwah untuk kalangan “hitam”. Yang dimaksud kalangan hitam di sini adalah kaum bajingan, bromocorah dan kaum pinggiran yang lain. Memang spektrum dakwah Kiai As’ad tidak hanya terbatas di musalla, mesjid, dan pengajian umum akan tetapi turun langsung menemui orang-orang hitam di masyarakat.

Metode Kiai As’ad untuk merekrut kalangan pinggiran ini adalah dengan mengirim orang kepercayaannya untuk mendata para bajingan yang dikenal paling kesohor di masyarakat. Setelah itu, Kiai As’ad meminta untuk dipertemukan dengan mereka. Yang menarik adalah ketika dipertemukan dengan Kiai As’ad, para preman itu seperti menemukan keakraban, ketenangan dan kenyaman pada diri Kiai As’ad. Kiai As’ad sangat bisa mengatur tema obrolan, bahkan sesekali terdengar suara guyon yang menunjukkan suasana penuh keakraban. Itulah yang membuat para preman itu jatuh hati pada Kiai As’ad.

Lalu mereka pulang dan mengabarkan pada koleganya sesama bajingan perihal sosok Kiai As’ad yang penuh keakraban. Tak lupa, mereka juga menceritakan bacaan-bacaan yang diberikan oleh Kiai As’ad. Sontak saja, banyak bajingan yang tertarik dan ingin sowan kepada Kiai As’ad. Karena bagi mereka Kiai As’ad benar-benar seperti pohon yang rindang; sejuk dan memberi keteduhan.

Setelah berhasil menaklukkan para bajingan itu, Kiai As’ad mengorganisir betul energi mereka untuk perjuangan. Mulai dari masa perlawanan penjajah, para bajingan itu selalu dalam komando Kiai As’ad. Atau mereka selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan di Pesantren Sukorejo, seperti mengumpulkan kebutuhan logistik dan menjaga keamanan dalam even Munas & Muktamar 1983-1984, pembangunan pesantren dan lain sebagainya. Kiai As’ad menjadi panglima tertinggi dalam komando mereka.

Dalam sebuah kesempatan, Kiai As’ad memberikan alasan kenapa selalu melibatkan anggota Pelopor dalam pembangunan gedung-gedung di Pesantren Sukorejo, misal untuk mengumpulkan bambu. Kiai As’ad berujar, “Saya meminta bantuan Pelopor dalam membangun Pesantren Sukorejo, mengapa? Mungkin yang masih seneng maen (main judi, red) lantaran ikut mencari bambu akan berhenti maen, yang masih senang mencuri berhenti jadi maling berkat membantu pesantren”.

Pelopor adalah nama paguyuban “santri” Kiai As’ad yang terdiri dari mantan orang hitam ini. Anggotanya terdiri dari mantan bajingan kelas berat, penjudi, perampok, pembunuh dan orang-orang yang memiliki catatan hitam di masyarakat. Nah, oleh Kiai As’ad orang-orang yang terpinggirkan itu diayomi. Bahkan mereka diberi jaminan sampai ke akhirat. Kiai As’ad dengan nada meyakinkan dan cukup berani mengatakan.

“Sapa bhei bajingan se ngalakone dusa paleng hebat tape norok tang parenta, bung tabung sabbu’ pagik neng akhirat montade e soarge, engkok se nyareah”, bahasa Madura terjemahnya, “Siapa saja bajingan yang bahkan melakukan dosa paling berat pun tetapi ikut perintah dan arahan saya, kelak di akhirat bergabung dengan, kalau tidak ada di surga saya akan mencarinya”

Pernyataan yang cukup berani itu benar-benar menjadi setrum bagi mereka yang ada dalam kubangan hitam dosa. Memang tak menutup kemungkinan akan ada sebagian orang akan menganggap pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang cenderung pernyataan bombastis. Akan tetapi, Kiai As’ad sadar betul siapa yang sedang beliau hadapi pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya keras, penuh onak duri dan dosa masa lalu. Tentu tindakan tidak bijak jika orang yang seperti mereka ditodong dengan dalil ancaman, siksaan. Alih-alih ikut, yang paling tampak adalah mereka akan memberontak. Dan justru hal itu semakin membuat mereka menjauh dari nilai-nilai agama.

Jaminan Kiai As’ad dengan bahasa yang cukup berani karuan saja menarik hati terdalam para mantan bajingan. Lambat laun hati mereka mulai tersentuh dengan prilaku dan ucapan Kiai As’ad. Batin mereka yang kering, sedikit-demi sedikit terbasuk dengan akhlak beliau yang begitu meneduhkan. Mereka yang awalnya suka bermain judi, mencuri sapi, membuat keonaran, suka sabung ayam, lambat laun mulai mengurangi aktivitasnya dan ujungnya mereka berhenti secara total.

Dari sinilah menjadi jelas bahwa maksud taat kepada perintah Kiai As’ad adalah mereka harus melakukan apa yang dilakukan kiai As’ad, seperti mengerjakan salat, menjadi orang baik kepada keluarga dan tetangganya. Singkat kata, taat perintah Kiai As’ad adalah taat ajaran agama. []

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *