Kisah Kiai. As’ad Membaca Kitab Ihyā’ Ulūmiddīn di Hadapan Imam al-Ghazali

Ketika masih muda Kiai As’ad adalah sosok yang tekun dan gigih dalam menuntut ilmu. Ketekunan dan kegigihan ini bisa kita lihat dari guru tempat beliau menimba ilmu. Beliau tidak hanya mencukupkan menimba ilmu kepada ulama yang bermukim di Indonesia. Namun, lebih dari itu beliau juga belajar dan menimba ilmu kepada ulama-ulama yang bermukim di Mekkah al-Mukarromah. Salah satunya adalah Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi.

Kiai. As’ad memiliki kisah menarik dan tak terlupakan ketika berguru kepada Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi. Kisah tersebut beliau sampaikan kepada khadam beliau, almarhum KH. Zahrowi Musa.

Almarhum KH. Zahrowi Musa menuturkan bahwa suatu ketika Kiai. As’ad berkunjung ke rumahnya di Jalan Cempaka, Kota Situbondo. Sesampainya di kediaman almarhum KH. Zahrowi Musa, Kiai As’ad mengamati gambar imajinatif Imam al-Ghazali dengan rambut gondrong dan botak yang terpajang di dinding. Lalu Kiai As’ad berkomentar “ini bukan foto Imam Ghazali, yang saya tahu tidak demikian”. Kemudian beliau bercerita tentang kisah pertemuannya dengan Imam al-Ghazali.

Pada suatu hari, Kiai. As’ad mendatangi Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi di Makkah al-Mukarromah (1327-1406 H). Sesampainya di kediaman Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi, Kiai. As’ad mengutarakan maksud dan tujuannya bahwa beliau hendak istifādah kitab Ihyā’ Ulūmiddīn. Mendengar maksud dan tujuan yang disampaikan Kiai. As’ad tersebut, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi langsung berujar “Silahkan langsung istifādah kepada Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, beliau Sudah nunggu di kamar”. Tanpa menunggu waktu lama, arahan dari Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Quthbi langsung Kiai. As’ad ikuti.

Akhirnya, Kiai. As’ad pun masuk ke kamar dan melakukan istifādah kitab Ihyā’ Ulūmiddīn kepada muallifnya (pengarang) langsung selama kurang lebih lima belas menit.

Alhasil, riwayat ini saya kisahkan bukan untuk membuat pembaca berdecak kagum akan keistiwaan Kiai As’ad yang bisa bertemu dan melakukan talaqqi kitab Ihya Ulumiddin secara langsung dengan Imam Ghazali. Tidak, sama sekali tidak!.

Penyebab yang membuat saya tergugah untuk meriwayatkan kisah ini adalah banyaknya akhi-akhi dan ukhty-ukhty yang gandrung belajar otodidak, yaitu menyerap ilmu dari Youtube atau banyak membaca buku namun abai untuk bersusah payah mencari guru. Fenomena semacam ini adalah akibat dari kemudahan yang disediakan oleh tekhnologi.

Sampai di sini, saya tidak bermaksud untuk menilai buruk tekhnologi. Saya hanya hendak mengingatkan melalui kisah Kiai As’ad ini, bahwa kecanggihan tekhnologi yang memudahkan kita mengakses banyak buku jangan sampai membuat kita abai untuk mencari guru.

Sebagai penutup, berikut ini akan saya kutip maqolah yang sudah populer kita dengar, al-muhafadzah ‘ala al-qodim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (Rawatlah sesuatu yang lama yang masih baik (tradisi berguru), dan ambillah manfaat dari sesuatu yang baru yang lebih baik (kecanggihan tekhnologi)).

Sumber riwayat ini berasal dari Dr. K.H. Muhyiddin Khatib. Beliau adalah santri senior KHR. As’ad Syamsul Arifin, saat ini beliau sibuk menjadi dosen di Ma’had Aly Situbondo.

Dr. K.H. Muhyiddin Khatib mendapat riwayat ini dari K.H. Zahrawi Musa, yang merupakan sekretaris pribadi sekaligus menantu dari Kiai As’ad Syamsul Arifin. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.[srf]

Pernah dimuat di BincangSyariah.Com 

Facebook Comments

syarifuddin

Santri aktif Ma'had Aly Situbondo asal Pulau Raas. Saat ini, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengaji dan mengkaji kitab-kitab Fikih dan Ushul Fikih. Selain itu, ia juga aktif mengabdi sebagai Redaktur Kepenulisan di Majalah Tanwirul Afkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *