Konstruksi Bangunan Islam

Oleh: KHR. Ach. Azaim Ibrahimy

Pengasuh sekaligus Mudir Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi‘iyah Sukorejo

 

Konstruksi secara ringkas didefinisikan sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur.

Agama dengan segala konstruksi ajarannya merupakan sebuah bangunan. Islam sebagai ajaran, didesain atas beberangka rangka konstruksi ajaran sebagaimana telah disabdakan oleh baginda Nabi Muhammad saw.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.

“dari Abū ‘Abdurraḥmān, ‘Abdullāh ibn ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhumā, dia berkata: saya mendengan Rasulullah saw. bersabda: Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwa tiada Ilāh yang berhak disembah selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadan.” [HR. Al-Tirmīżī dan Muslim].

Dua kalimat syahadat sebagai pondasi (asas) ajaran

Berikrar dan meyakini bahwa tidak ada Ilāh yang berhak disembah selain Allah (syahadat tauhid), dan bahwa baginda Nabi Muhammad saw. utusan Allah (syahadat rasul), adalah pondasi yang merupakan landasan utama keislaman seseorang dan sebagai pangkal diterimanya semua ibadah dan amal saleh. Oleh karenanya sebanyak apapun ibadah atau perbuatan yang diniatkan untuk ibadah apabila tanpa dilandasi dengan pengikraran dua kalimat syahadat, maka dalam penilaian Allah swt tidak ada pengaruhnya dan tidak akan menolongnya untuk mendapatkan kebahagiaan di surga kelak. Sebagaimana firman Allah swt.:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan”. [QS. At-Taubah: 54]

Demikian pentingnya dua kalimat syahadat ini sebagai pondasi diterimanya iman, islam dan seluruh amal saleh seseorang.

Salat sebagai pilar utama

Agama Islam sebagai sebuah bangunan akan berdiri dengan baik setelah adanya pondasi syahadat, maka kebutuhan penting selanjutnya adalah tiang penyangga, pilar, soko guru yang akan menguatkan bangunan tersebut. Pilar atau soko guru yang dimaksud adalah salat. Salat merupakan cerminan syariat Islam sebagai pilar penyangganya. Bila kaum muslimin rajin mendirikan sholat lima waktu, maka berarti mereka telah mengokohkan pilar-pilar Islam. Sebaliknya, apabila kaum muslimin malas, dan enggan mendirikan sholat fardhu, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan “merobohkan” pilar-pilarnya. Sabda baginda Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Mu‘āż Ibn Jabal:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ …

Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiang (penopangnya) adalah salat…” [HR. Al-Tirmīżī no. 2616 dan Ibnu Mājah no. 3973].

اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنِ, فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدِّيْنِ وَمَنْ هَدَمَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ

Salat itu adalah tiang agama (Islam), maka barang siapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam).”

Salat merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Rabb-nya, yang dilakukan minimal lima waktu sehari semalam, salat juga sebagai bentuk ingatnya seorang hamba akan tuhannya (zikir). Manifestasi dari seorang hamba yang selalu mengingat Allah swt kapan dan dimanapun ia berada akan menjadikan hamba tersebut untuk selalu berhati-hati dalam berbicara, bersikap atau bertindak, karena merasa selalu dalam pengawasan Allah swt, sehingga jadilah ia tercegah dari perbuatan keji dan Munkar.

… إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ …

“ … Sesungguhnya salat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…” [Q.S. Al-‘Ankabūt (29): 45].

Pemilihan kata aqāma-yuqīmu di atas adalah penegasan bahwa solat memang benar-benar sebagai pilar penyokong Islam. Demikian pentingnya salat dalam bangunan islam, orang yang lalai dalam salatnya tergolang sebagai pendusta agama dan orang yang malas dalam salatnya termasuk orang munafik.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [Q.S. An-Nisā’ (4):142].

Adapun yang dimaksud dengan tipuan balasan dari Allah adalah: Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani layaknya para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.

Puasa sebagai benteng perisai atau dinding

Puasa dibulan Ramadan adalah komponen bangunan Islam ketiga yang diibaratkan sebagai dinding perisai yang akan melakukan proteksi (melindungi dan menjaga) penghuninya dari berbagai gangguan yang datang dari luar, sebagaimana hadis baginda Nabi Muhammad saw.:

حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلاَ يَرْفثْ وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائمٌ، مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Abū Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Puasa itu bagaikan perisai (dinding), maka jangan berkata keji (rayuan) atau berlaku masa bodoh (menjerit-jerit) dsb. Dan jika ada orang mengajak berkelahi atau memaki hendaknya berkata: Aku puasa, aku puasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau kasturi (misik). Dia meninggalkan makan dan minumnya dan syahwatnya karena-Ku, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi pahalanya, dan biasa tiap hasanat sepuluh kali lipat gandanya.” [HR. Bukhārī Muslim]

Zakat sebagai pintu dan jendela tempat sirkulasi

Ibarat sebuah bangunan, agar bangunan itu dapat ditempati dengan sehat, nyaman dan aman oleh penghuninya, maka bangunan tersebut haruslah memiliki sirkulasi udara yang baik. Demikian pula bangunan agama islam dalam jiwa dan kehidupan seorang muslim, membutuhkan sarana sirkulasi yang baik, sehingga akan semakin sehat dan subur tanaman keimanan dan keislaman dalam jiwanya serta mengantarkan seorang muslim memperoleh keberkahan yang berlipat dari Allah swt.

Zakat merupakan media sarana bersih-bersih, keseimbangan serta menyuburkan dan mengembangkan harta dengan baik. Allah swt berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”. [QS. Al-Baqarah (2) : 261]

Selain itu, zakat juga bermanfaat untuk menjaga harta, menambah harta dan mencicipi nikmatnya rasa keimanan sebagaimana hadis Rasulullah:

حَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ …

“Bentengilah harta-harta kalian dengan zakat…” [H.R. Abū Dāwūd]

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ …

“Sedekah tidak mengurangi harta …” [HR. Muslim]

Haji sebagai atapnya

Akan sempurna keislaman seseorang apabila ia mampu menunaikan ibadah haji ke baitullah. Bagi mereka yang memiliki kemampuan secara fisik dan finansial namun tidak menunaikan ibadah haji hingga akhir hayatnya, maka Allah swt. akan memamatikannya dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.

Nabi Muhammad saw. bersabda: “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitillāh al-Ḥaram namun tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani”. [HR. Al-Tirmīżī dan Aḥmad]

Sedangkan balasan haji mabrur adalah:

حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Abū Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw. bersabda: Dan umrah pertama hingga umrah kedua menjadi penebus dosa yang terjadi di antara keduanya, sedang hajji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali sorga. [HR. Bukhārī, Muslim].

Sedangkan bagi orang-orang yang tidak mampu melakukan ibadah haji maka tentu akan mengalami kesulitan untuk dapat menyempurnakan ibadah ini. Solusinya mari kita simak hadis berikut:

“Pokok segala urusan ialah Islam dan tiangnya adalah salat, dan puncaknya (atapnya) adalah berjihad.” [HR. Al-Tirmīżī]

Menunaikan haji sendiri bagi seorang muslim merupakan bentuk jihad, sebagai hadis Nabi Muhammad saw.:

 حديث أبي أمامة أن رجـلاً  قال : يَا رَسُوْلَ اللهِ ائْذِنْ لِى فِي السِّيَاحَةِ  فقال: إنَّ سِيَاحَةَ أُمَّتِى الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَالْحَجُّ جـِهَادٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ

 Abū Umāmah r.a. berkata: ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah: wahai Rasulullah saw! izinkanlah aku untuk bepergian. Rasulullah saw. menjawab: sesungguhnya perjalanan bagi umatku adalah jihad di jalan Allah swt. Sedangkan haji adalah jihad di jalan Allah swt. [HR. Abū Dāwūd]

Sebuah bangunan akan menjadi sempurna jika orang yang berasa di dalamnya terhindar dari panas dan hujan serta kedinginan. Atap berfungsi untuk melindungi bangunan dari sengatan terik matahari dan dinginnya hujan. Atap dapat disebut sebagai penyempurna sebuah bangunan. Ibadah haji dalam agama Islam adalah ibarat atap pada sebuah bangunan yang disebut Islam, karena memiliki fungsi yang sama yaitu untuk menyempurnakan islam seorang hamba.

Dengan demikian bagi mereka yang tidak mampu untuk menunaikan ibadah haji maka solusinya tidak lain adalah dengan berjihad yaitu bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah swt dengan hati yang ikhlas dan cara yang benar.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *