Langkah Awal Memahami Ushul Fikih

Judul kitab: Al-Luma’ fī Uṣūl al-Fiqh

Penulis: Syaikh Abū Isḥāq Jamāl al-dīn Ibrāhīm ibn Alī ibn Yūsuf al-Syairāzī al-Syāfi‘ī

Tebal: 176 halaman

Cetakan: Dar al-Kutub al-Islamiy

Peresensi: Abdul Kholiq

 

Agama islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt melalui Nabi Muhammad saw yang bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia di dunia. Aturan-aturan tersebut terbungkus dalam empat sumber hukum yaitu Alquran, Sunah, Ijmak, dan Qiyās. Dalam kehidupan yang terus mengalami perubahan dan perkembangan, sudah dapat dipastikan bahwa tidak semua hukum dapat diperoleh dari nas Alquran maupun Sunah jika hanya dipahami secara tekstual karena sebagian besar masih bersifat global. Oleh karena itu, diperlukan ilmu yang dapat menghasilkan sebuah hukum dari nas-nas yang masih bersifat global agar hukum yang dihasilkan tetap sesuai dengan perubahan dan perkembangan kehidupan manusia.

Ilmu uṣūl al-fiqh merupakan ilmu yang menerangkan metode-metode yang ditempuh para imam mujtahid dalam menggali hukum-hukum syar‘ī dari Alquran dan hadis. Keterkaitan ilmu uṣūl al-fiqh dengan fiqh seperti keterkaitan antara ilmu mantik dengan ilmu filsafat yaitu sebagai tolok ukur yang membatasi akal dan mencegah akal dari kekeliruan berpikir. Dan juga seperti keterkaitan antara ilmu nahwu dengan perkataan dan tulisan orang Arab yaitu mencegah perkataan dan tulisan dari kekeliruan.

Kitab al-Luma’ fī Uṣūl al-Fiqh termasuk salah satu kitab uṣūl al-fiqh yang menguraikan secara singkat tentang metode-metode penggalian hukum dari nas Alquran dan Sunah dalam rangka melahirkan hukum Islam yang searah dengan perkembangan kehidupan manusia. Pembahasannya yang tidak terlalalu rumit dan sangat singkat khususnya bagi pemula sebagai mutafaqqih fī al-Dīn, akan sangat mudah dalam belajar dan memahami ilmu uṣūl al-fiqh.

Kitab ini tergolong kitab uṣūl al-fiqh yang sangat singkat dan sederhana karena hanya terbagi dalam sebelas judul besar yaitu bab aqsām al-kalām (pembagian kalimat-kalimat), dalam bab ini dijelaskan tentang pengertian kalimat yang bersifat hakikat dan majas serta aspek-aspek pengambilan nama dan bahasa.

Al-Kalām fī al-amri wa al-nahyi (pembahasan tentang perintah dan larangan), bab ini menguraikan bentuk dan tujuan dari kalimat perintah dan kalimat larangan serta penjelasan mengenai fardu, wajib, sunah dan nadb.

Al-Qaul fī al-Umūm wa al-Khuṣūṣ (pembahasan kalimat yang bersifat umum dan khusus), bab ini membahas definisi, bentuk syarat, dan macam-macam kalimat umum dan khusus.

Al-Kalām fī al-Mujmal wa al-Mubayyan (kalimat-kalimat yang masih membutuhkan penjelasan agar maknanya bisa dipahami serta menjelaskan lafal yang maknaya masih rancu), bab ini menjelaskan aspek-aspek mujmal dan mubayyan.

Al-Kalām fī al-Naskh (kalimat-kalimat yang menjelaskan tentang pembatalan sebuah hukum dengan dalil yang datang kemudian). Bab ini menjelaskan boleh tidaknya sebuah kalimat di-naskh, tata cara naskh, perbuatan, ikrar, dan diamnya nabi Muhammad saw.

Al-Qaul fī al-Akhbār (pembahasan tentang hadis-hadis), menjelaskan macam-macam hadis dari berbagai tinjauan, kategori hadis yang bisa diterima dan tidak serta cara mengunggulkan salah satu dari dua hadis.

Al-Qaul fī al-Ijmā’ (konsensus ulama tentang sebuah hukum) menguraikan definisi, dasar dan macam-macam ijmak serta silang pendapat antar sahabat dan cara mengunggulkan salah satunya.

Al-Kalām fī al-Qiyās (analogi hukum yang tidak ada nasnya dengan hukum yang ada nas hukumnya karena adanya kesamaan dalam illah hukumnya) menjelaskan definisi, dasar, dan macam-macam qiyās serta ketegori-kategori qiyās yang boleh dan tidak.

Al-Qaul fī al-Istiḥsān (mengunggulkan analogi yang samar dengan mengalahkan analogi yang jelas), bab ini menguraikan bagaimana menetapkan sebuah hukum tanpa ada dasar nasnya dengan mempertimbangkan kebaikan bagi kehidupan manusia dan menjelaskan urutan penggunaan dalil-dalil serta proses pencariannya.

Al-Qaul fī al-Taqlīd (menerima/mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui dasarnya) menjelaskan hal-hal yang boleh dilakukan berdasarkan taqlīd dan ciri-ciri orang yang boleh ber-taqlīd dan yang tidak.

Al-Qaul fī al-Ijtihād (mencurahkan segenap kemampuan berpikir dengan keras untuk mendapatkan hukum syariat yang bersifat praktis dengan cara menggali hukum dari nas Alquran dan Sunah), bab ini menguraikan perkataan para mujtahid, proses ijtihad yang dilakukan Nabi Muhammad saw dan proses ijtihad yang dilakukan pada saat Nabi Muhammad saw masih hidup.

Namun, kitab ini tidak menguraikan secara lengkap dan mendalam pada pembahasan di masing-masing sub babnya sehinngga untuk memahami ilmu uṣūl al-fiqh secara intens dan komplet tidak cukup hanya dengan membaca kitab ini tapi harus membaca kitab-kitab yang pembahasannya lebih mendalam  seperti kitab Ghāyah al-Wuṣūl, Jam‘u al-Jawāmi’, Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī Wahbah Zuḥailī dan kitab-kitab uṣūl al-fiqh yang lain karena kitab ini hanya lebih diutamakan bagi pemula sebagai pengenalan dan injeksi (suntikan semangat) agar para pemula dapat mengetahui konsep dasar ilmu uṣūl al-fiqh untuk dijadikan sebagai tangga menuju pengetahuan yang lebih mendalam.

Meskipun dalam kitab ini masih terdapat kekurangan karena pembahasannya yang terlalu singkat, semoga kitab ini dapat membantu para pembaca dalam memahami proses istinbāṭ (penggalian hukum) berdasarkan Alquran dan Sunah yang dilakukan oleh para ulama dan mujtahid di masa lalu.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *