Masyaallah dan Subhanallah

MENJADI petugas haji, 2001-2002.  Saya menyempatkan diri berkunjung ke seorang TKI kenalan saya di rumah majikannya di Makkah. Si majikan ternyata dari keluarga habaib asal Yaman. Orangnya baik dan mudah akrab. Saat mengenalkan profil keluarganya, ia antara lain berkata bahwa anaknya yang pertama telah meninggal kira-kira enam bulan yang lalu. Saya segera menimpali: “Masyaallah!”, tetapi buru-buru teman saya itu mencolek saya dan saya lihat dia salah tingkah. Rupanya, tanpa sadar saya telah salah ucap. Begini pasalnya

Kata “masyaallah” (ما شَاءَ اللّه) itu sejatinya bukan ungkapan keprihatinan atas sesuatu yang tidak menyenangkan seperti kebiasaan kita, tetapi sebaliknya justru ungkapan kekaguman terhadap sesuatu. Coba simak ayat berikut:

«وَلَوۡلَاۤ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَاۤءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ»
“Mengapa ketika engkau masuk ke kebunmu engkau tidak mengucapkan “Masyaallah, la haula wala quwwata illa billah?” (QS. Al-Kahfi:39).

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam karya tafsirnya meriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang merasa kagum pada sesuatu, misalnya keadaan dirinya sendiri, hartanya atau anaknya, maka hendaklah ia berkata: “Masyaallah, la haula wala quwwata illa billah“. Hal ini, menurut Ibn Katsir, mengacu kepada ayat di atas.

Jadi, pantaslah teman saya tadi salah tingkah. Sebab, dengan mengucap “masyaallah” itu berarti saya kagum dan salut atas kematian putera si majikan, duh phalanx!

Mengenai untuk apa ungkapan tersebut diucapkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan:

«ما أَنْعَم اللهُ تعالى على عَبدٍ نعمةً مِن أهلٍ ومالٍ وولدٍ فيقول: “ما شاء اللّهُ لا قُوَّةَ إلَّا بالله” فيرى فيه آفةً دُونَ المَوتِ».
“Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba, baik berupa keluarga, harta atau pun anak, lalu ia mengucap: “Masyaallah, la quwwata illa billah” melainkan orang tersebut tidak akan mendapatkan musibah apa pun kecuali kematian”, (HR. Abu Ya’la dalam musnadnya dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Anas ibn Malik radhiyallahu anhu).

Hadits ini dha’if, memang, tetapi tingkat kedha’ifannya tidak parah. Kalau pun hadits ini mesti ditolak, toh, ayat di atas dan pengamalan ulama salaf itu cukup sebagai sandaran.

Sebagian orang Arab mengganti “la quwwata illa billah” dengan “tabarakallah” sehingga menjadi “masyaallah tabarakallah”. Biasanya ini diucapkan sebagai ungkapan simpati/kagum sekaligus ucapan selamat pada seseorang yang menuturkan tentang nikmat yang Allah berikan pada dirinya atau keluarganya semisal akan berangkat haji, lulus ujian, diterima bekerja di perusahaan bergengsi dan seterusnya dalam kerangka “tahadduts bin-ni’mah”. Tetapi, menurut para ulama, “masyaallah tabarakallah” ini tidak ada dasarnya. Mereka menyarankan sebaiknya doakan saja orang tersebut, misalnya dengan “masyaallah barakallahu fik atau barakallahu lak atau barakallahu alaik”. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

«إذا رأى أحدُكم من نفسه وأخيه ما يُعجِبُه فليَدْعُ بالبركة، فإنَّ العَينَ حَقٌ».
“Bila kalian melihat sesuatu yang menakjubkan pada dirinya atau pada kawannya maka hendaklah ia memohon/memohonkan berkah untuknya, sebab penyakit ain itu benar adanya”, (HR. Al-Hakim)

Penyakit ain yang dimaksudkan Rasulullah di sini adalah petaka yang bisa timbul dari pandangan takjub seseorang kepada orang lain, lebih-lebih jika disertai rasa iri. Ini bisa ditangkal dengan “tabrik” (doa barakah) tadi. Rasulullah pernah bersabda kepada ‘Amir ibn Rabi’ah radhiyallahu anhu:

عَلامَ يَقتُلُ أحدُكم أخاه؟ هَلاَّ إذا رأيتَ ما يُعجبك بَرَّكتَ.
“Kenapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya? Coba ketika engkau melihat sesuatu yang menakjubkanmu engkau tabrik dia” (HR. Ahmad dari Abu Umamah radhiyallahu anhu).

Adapun rasa takjub kepada salah satu ciptaan Allah, misalnya pemandangan alam yang indah, burung yang cantik atau seekor binatang yang menggemaskan, maka yang layak diungkapkan di sini adalah “subhanallah”. Perhatikan ayat berikut:

«… وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً، سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ» [آل عمران:١٩١].
“Dan mereka memikir-mikir tentang penciptaan langit dan bumi, lalu berkata: “Wahai Tuhan kami, Engkau tidak ciptakan ini dengan batil (tanpa makna), Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari api neraka”, (QS. Ali Imran:191).

Kesimpulan dari uraian di atas:
1. Ucapan “masyaallah la quwwata illa billah” untuk sesuatu yang menakjubkan pada diri, anak dan harta kita sendiri.
2. Ucapan “masyaallah” + tabrik untuk ketakjuban pada orang lain.
3. Ucapan“subhanallah” untuk ketakjuban pada salah satu makhluk, binatang dan lainnya,

Wallahu a’lam. []

K.H. Zainul Muin Husni, Lc., M.H. (Dosen Senior Mahad Aly Situbondo)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *