Menggeser Fikih Zakat dari Ibadah Menuju Muamalah

Zakat merupakan lumbung segar perekonomian Indonesia. Dengan potensi yang besar ini diharapkan mampu menjadi tonggak dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Namun ternyata, potensi ini masih belum tersentuh secara maksimal. Hal ini disebabkan pengelolaan zakat yang masih bersifat stagnan dan terkukung oleh aturan-aturan yang rigid dan ta’abbudi. Akibatnya pengelolaan atau manajemen zakat tidak bisa berkembang dan berinovasi seiring perkembangan masa.

 

Di era disrupsi ini, suatu hal yang niscaya melakukan inovasi dan kreatifitas pengelolaan zakat untuk dapat mencapai cita luhur atau tujuan disyariatkannya zakat. Menggeser paradigma zakat dari ranah ibadah menuju muamalah adalah point penting yang dijelaskan dalam buku yang berjudul Rekonstruksi Fikih Zakat . Zakat tidak lagi diposisikan sebagai rukun Islam, sejatinya ia merupakan bagian dari domain mabadi’ al-Islam. 

 

Status zakat sebagai bagian dari fikih muamalah akan membuka ruang kepada para juris Islam untuk berkreasi dalam merumuskan manajemen pengelolaan zakat yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks. Semisal harta-harta yang wajib dizakati tidak hanya terbatas pada harta-harta yang telah disebutkan oleh nas. Namun seluruh harta kekayaan bisa tercakup sebagai harta zakat. Tidak hanya itu, kadar yang wajib dikeluarkan juga bisa berubah sesuai kebutuhan.

 

Buku Rekonstruksi Fikih Zakat merupakan hasil penelitian disertasi Dr. K.H. A. Muhyiddin Khotib, M.H.I. di UINSA Surabaya. Penulis yang juga merupakan dosen senior Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo melakukan rekonstruksi fikih zakat dengan pendekatan teoritis dan metodologis sehingga pembaca benar-benar diajak untuk membuat bangunan baru tentang konsep zakat berbasis muamalah.

 

Info seputar buku ini silahkan hubungi admin :

http://bit.ly/adminPENERBITTanwirulAfkar

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *