Musafir Takut Corona, Bagaimana Shalatnya?

Oleh: Khalil Abdul Jalil, Asror Cha Jrey dan Badrut Tamam

Alumni Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo

Ada rombongan 1 bus santri Situbondo pulang liburan ke rumahnya di Lombok. Mereka berangkat jam 5 pagi  dan sampai tujuan jam 6 sore. Saat sampai waktu Duhur-Asar mereka bingung mau menghentikan bus untuk salat di masjid-masjid dengan cara jamak-qashar namun takut terpapar Virus Corona (Covid 19), sedangkan untuk  tidak salat mereka takut dosa. Bagaimana seharusnya?

Pada dasarnya setiap orang yang sedang melakukan perjalanan tetap wajib melakukan salat fardu, hanya saja bagi mereka yang perjalanannya melampaui Masafatul Qosri (+- 84 KM) mendapatkan dispensasi untuk mengumpulkan (jamak) dan meringkas (qashar) salat yang asalnya 4 rakaat menjadi 2 rakaat.

Nah, bagaimana dengan rombongan santri tersebut? kasus ini memiliki situasi khusus sehingga bisa diberlakukan hukum berbeda, yaitu adanya kekhawatiran terpapar Covid-19. Mereka boleh tidak melakukan salat sebagaimana mestinya, yakni dengan cara jamak-qashar, meskipun tidak berwudu dan tidak menghadap kiblat. Akan tetapi melaksanakan salat Duhur dan Asar-nya hanya sebatas lihurmat al-wakti (menghormati waktu salat).

Salat lihurmat al-wakti dilaksanakan sebisanya dengan duduk di kursi bus saat sedang perjalanan tanpa mengubah jumlah rakaat. Akan tetapi ketika sampai di rumah, mereka wajib mengulang salat (iadah salat) yang dilakukan selama perjalanan tadi.

Referensi:

  • Al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, Juz 3, halaman 242.

قال النووي في المجموع: ولو حضرت الصلاة المكتوبة، وخاف لو نزل ليصليها على الأرض إلى القبلة انقطاعاً عن رفقته أو خاف على نفسه أو ماله لم يجز ترك الصلاة وإخراجها عن وقتها، بل يصليها على الدابة لحرمة الوقت، وتجب الإعادة لأنه عذر نادر. انتهى.

  • Al-Iqna’ li Sya’rani, Juz 1, halaman 88.

الإقناع للشربيني، الحزأ الاول، صحيفة ٨٨
«تتمة» على فاقد الطهورين هما الماء والتراب كمحبوس بمحل ليس فيه واحد منهما أن يصلي الفرض لحرمة الوقت ويعيد إذا وجد أحدهما

  • Bulghah al-Thalib, halaman 144.

بلغة الطالب صحيفة ١٤٤
فعلى راكب الطياراة أن يصلي الفرائض فيها كيف أمكنه ولو جالسا في الكرسي بالإيماء وتكون لحرمة الوقت لاغير، فإذا أنزل إلى الارض قضى تلك الصلوات

  • Al-Mausuah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah, Juz 14, halaman 273.

الموسوعة الفقهية الكويتية، الجزأ؛ ١٤، صحيفة؛ ٢٧
فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتهاعند الحنفية والشافعية.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *