Pelajaran di Bulan Rajab; Janganlah Saling Hina di Bulan Harom (Rajab)!

Oleh: Asror Baisuki

Alumni Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo Angkatan VIII

Pada waktu itu tepat di penghujung bulan Rajab, Rasulullah memerintahkan Abdullah Bin Jahsy dan membawa serta beberapa pasukan pilihan untuk menemaninya. Beliau memberi sepucuk surat kepada Abdullah Bin Jahsy seraya berkata “jangan kau buka surat ini sebelum kau menempuh perjalanan selama dua hari dua malam”. Ia menjalankan perintah itu, dan setelah dua hari berselang Abdullah Bin Jahsy membuka surat tersebut, yang berbunyi “jika surat ini telah kau baca, maka lanjutkanlah perjalanan sampai ke daerah Nikhlah (antara Makkah dan Thaif), awasi gerak gerik mereka, lalu laporkan kepada kami”.

Lalu ia ceritakan isi surat itu kepada pasukan yang lain dan ia tidak memaksa mereka untuk ikut, mereka semua ikut serta bersama Abdullah Bin Jahsy kecuali Said Bin Abi Waqash dan Utbah Bin Ghazwan. Sesampainya di Nikhlah mereka bertemu dengan sebuah kafilah dagang Qurays yang dipimpin Amr Al Hadrami, Abdullah Bin Jahsy bermaksud untuk menyerang kafilah tersebut dan merampas seluruh barang bawaan mereka, akan tetapi diantara mereka ada yang menegur “demi Allah janganlah menyerang mereka karena sekarang adalah bulan Rajab, salah satu bulan harom, Rasulullah melarang kita untuk melakukan peperangan di bulan-bulan harom”, akan tetapi Abdullah Bin Jahsy tetap kekeh untuk menyerang dan merampas barang bawaan mereka.

Ketika mereka bertolak dari Nikhlah ke Madinah, sesampainya di Madinah mereka memberikan beberapa hasil rampasan dan beberapa tawanan kepada Rasulullah, sontak Rosullah kaget melihat kejadian tersebut, kenapa mereka berani melakukan peperangan di bulan harom padahal beliau sudah melarangnya, semua sahabat yang hadir ketika itu ikut menyalahkan Abdullah Bin Jahsy dan pasukannya, Rasulullah enggan untuk menerima hasil rampasan perang yang dibawa Abdullah Bin Jahsy ini.

Kejadian ini dimanfaatkan oleh beberapa orang munafik dan orang-orang Yahudi untuk menfitnah Nabi dengan mengatakan bahwa Nabi telah melanggar ketentuan bulan suci, menumpahkan darah, merampas harta, dan menawan orang. Kegaduhan ini sengaja dimanfaatkan oleh orang-orang yang membenci Islam untuk terus menyerang umat Islam dan Nabi Muhammad, agama yang membawa visi mulia, kedamain dan kesetaraan. Di tengah kegaduhan seperti itu turunlah ayat 217 QS. Al-Baqaroh yang menjelaskan, bahwa ada dosa yang lebih besar ketimbang melakukan peperangan di bulan-bulan harom, yaitu orang-orang yang enggan dan memusuhi agama Allah, turunnya ayat ini membuat Abdullah Bin Jahsy menjadi tenang.

Kawan-kawan medsos, marilah di bulan Rajab ini -salah satu dari bulan-bulan harom- hentikan saling hujat satu kelompok dengan kelompok lain, yang satu menghujat karena tidak setuju dengan rumusan kata kafir dengan non muslim, sementara kelompok yang satu menghujat karena mereka salah tashrif, kalau begitu apa bedanya kita dengan mereka? Mari hentikan saling hujat ini untuk memuliakan bulan Rajab, perbanyaklah ibadah, istighfar, selawat, hancurkanlah hawa nafsu menghujat itu dari diri kalian, sesungguhnya ada masalah yang lebih penting untuk diurusi ketimbang mengurusi kata kafir dan tashrifan, yaitu keutuhan ukhuwah islamiah dan NKRI. Bravo!!! Awali bulan Rajab ini dengan senyum dan indahnya persaudaraan.

Terakhir, patut kiranya kita merenungkan syair dari sang bijak bestari:

اِنَّ الْهَوَى لَهُوَ الْهَوَانُ بِعَيْنِهِ # صَرِيْعُ كُلِّ هَوًى صَرِيْعُ هَوَان

Hawa nafsu adalah kehinaan itu sendiri, akhir dari segala hawa nafsu adalah kehinaan.”

 

Jumat, 8 Maret 2019

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *