Perempuan Haid Boleh Membaca al-Quran

Kesucian al Qur’an tidak akan ternodai hanya karena dibaca oleh perempuan yang haidh, justru sebaliknya, al Qur’an akan memberikan syafa’at pada setiap pembacanya. Pandangan bahwa al Qur’an tidak boleh dibaca oleh perempuan haid berangkat dari cara pandang yg keliru terhadap dalil dan cara pandang yang salah terhadap perempuan haidh.

Sebagian umat islam memandang perempuan haidh sebagai perempuan yg kotor. Pemahaman ini dipengaruhi oleh terjemahan yang salah terhadap penggalan firman Allah “قل هو اذي “, yang seringkali diterjemahkan “haidh adalah kotor”, akibatnya perempuan yang haid adalah kotor. Sungguh pandangan ini adalah cara pandang Jahiliyah. Padahal kata “adza” tidak bermakna kotoron, melainkan setiap sesuatu yang bisa mengganggu. (baca status sebelumnya).

Kedua, sebagian muslim memahami ayat “لا يمسه الا المطهرون ” sebagai larangan orang yg tidak suci untuk membaca al Qur’an. Padahal dalil ini bukan “kalam Nahi” yg bermakna “melarang”, melainkan “kalam khobar” yg memberi informasi bahwa al Qur’an hanya disentuh oleh “المطهرون-al muthahharun”. Siapa al muthahharun? Apa beda dengan “الطاهر” dan “المتطهر”, yang ketiganya berasal dari satu kata “طهر”. Tentu untuk memahami ketiga kata itu membutuhkan ilmu sharraf. Dan antiknya ketiga kata itu disebut di dalam al Qur’an.

At thahir artinya “orang yang suci”, al mutathahhir artinya “orang yg bersesuci”, dan al muthohhar artinya “orang yang disucikan”. Kata Orang yg suci hanya memiliki satu unsur yaitu “orang yg suci itu sendiri”, sedang kata orang yang bersesuci memiliki dua unsur yaitu orang yg bersesuci dan perbuatan bersesuci, sementara kata orang yg disucikan memiliki tiga unsur, yaitu orang yg disucikan, perbuatan mensucikan dan orang yg mensucikan. Inilah rumitnya ilmu bahasa arab.

Jadi al muthahharun itu, bukan orang suci dan bukan orang yang besesuci, melainkan orang yg disucikan. Siapa itu? Tidak lain adalah para MALAIKAT yang memang disucikan oleh Allah. Jadi ayat di atas artinya ” al Qur’an yg di lauh mahfud sana hanya disentuh oleh malaikat malaikat yg disucikan oleh Allah. Dengan demikian ayat ini sama sekali tidak melarang perempuan haid, atau orang junub untuk membaca al Qur’an.
Lo kan ada hadist hadist Nabi? Iya benar ada hadist nabi yg melarang perempuan haidh dan junub membaca al Qur’an. Akan tetapi hadist hadist itu adalah adalah hadist “dha’if-lemah” yang tidak dapat dijadikan sumber hukum. Kalaupun hadist itu shahih (dan sepertinya tidak ada yg bilang shahih), maka apakah larangan itu li at tahrim, li al karahah atau li al irsyad. (nah disini perlu belajar usul fiqih).
Ketidakadaan hadis shahih itulah yg menjadi akar perdebatan ulama “apakah perempuan haid boleh baca al Qur’an”. Sebagaimana dalam teks berikut :

ما روي من حديث ابن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن ” رواه الترمذي (131) وابن ماجه (595) والدارقطني (1/117) والبيهقي (1/89) وهو حديث ضعيف لأنه من رواية إسماعيل بن عياش عن الحجازيين وروايته عنهم ضعيفة ، قال شيخ الإسلام ابن تيمية (21/460) : وهو حديث ضعيف باتفاق أهل المعرفة بالحديث أ.هـ . وينظر : نصب الراية 1/195 والتلخيص الحبير 1/183 .

وذهب بعض أهل العلم إلى جواز قراءة الحائض للقرآن وهو مذهب مالك ، ورواية عن أحمد اختارها شيخ الإسلام ابن تيمية ورجحه الشوكاني

Sebab itu, sebagian Ahli ilmu, Madzhab imam malik, riwayat imam ahmad, ibnu taimiyyah dan imam asy syaukani, menyatakan boleh perempuan haidh membaca al Qur’an. Saya lebih sreg pada pendapat ini “min haisu ad dalil”. Yang tidak boleh dan dilarang keras adalah “menghinakan” al Qur’an, mungkin seperti menaruhnya di atas lemari bertahun tahun dan sama sekali tidak disentuhnya apalagi dibacanya.

Wallahu ‘alam.

Selamat Hari SANTRI.

Surabaya 23 10 19

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *