Perempuan Salat Jenazah; Menuntut Penafsiran Alqur’an yang lebih Adil

Salat jenazah berbeda dengan shalat yang lain. Disebut berbeda, karena tidak ada ruku’ dan sujudnya. Salat jenazah hanya terdiri atas beberapa rukun saja, yaitu niat, berdiri, empat takbir disertai bacaan- bacaan tertentu di tiap-tiap takbir, dan salam. Oleh karena tidak ada ruku’ dan sujud-padahal keduanya merupakan bagian paling inti dari shalat- sebagian ulama tidak menyebut shalat janazah sebagai shalat, melainkan lebih mirip do’a. Akibatnya, sebagian ulama tidak menyaratkan harus berwudu untuk salat janazah. Penulis sering menyarankan ini, ketika tidak punya wudu dijadikan alasan enggan shalat janazah.

Menariknya, ada aturan yang berbeda dengan salat pada umumnya, yaitu  menurut jumhur ulama Syafi’iyyah, salat jenazah tidak cukup menggugurkan kewajiban kifayah jika dilakukan oleh perempuan sementara masih ada laki laki yang bisa menyalati. Sekali lagi, menurut jumhur lo ya!!!

Lebih menarik lagi adalah alasannya mengapa salat jenazah yang dilakukan perempuan tidak menggugurkan fardhu kifayah? Artinya tetap harus dishalati oleh laki laki. Dalam kitab Mugni al Muhtaj disebutkan  ada 2 alasan:

1. Doa laki-laki lebih mustajabah, lebih diterima dari pada doa perempuan.

2. Si mayyit merasa terhina jika disalati perempuan.

Tentu saja kedua alasan itu tidak ada di dalam hadis, apalagi di dalam alqur’an. Kedua alasan itu lahir lebih sebagai “bias patriarkhi” di dalam penafsiran.

Ada teori yang menyatakan “semakin jauh penafsiran dari alqur’an semakin kentara bias patriarkhi di dalamnya”. Oleh karena itu, untuk mengembalikan ke dalam penafsiran yang adil dan setara,  harus segera dikembalikan ke dalam prinsip-prinsip Alqur’an.

Dalam konteks ini, pandangan di atas harus dikembalikan kedalam cahaya ayat “inna akramakum indallahi atqakum“, orang yang paling muliaa “di hadapan Allah” adalah yang paling bertaqwa kepada -Nya. Ayat ini menegaskan bahwa yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling taqwa dan karenanya sangat mungkin lebih diterima doanya. Kemuliaan tidak didasarkan pada jenis kelamin, laki laki dan perempuan, melainkan didasarkan pada ketaqwaannya. Jika perempuan lebih taqwa, pastilah lebih mulia dihadapan Allah, begitupun sebaliknya.

Dengan mengembalikan penafsiran kepada prinsip dan nilai alqur’an, maka bias patriarkhi bisa dihindarkan.

IMAM NAKHO’I

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *