Pesan Cinta dari Kiai Tercinta

  • Sumber: Pidato sambutan KHR Ach. Azaim Ibrahimy pada Mubes IKSASS Alumni th. 2018
  • Editor: Ahmad Rijalul Fikri (arfikrintb@gmail.com)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله ماشآء الله لايسوق الخير إلا الله

بسم الله ماشآء الله لا يصرف السوء إلا الله

بسم الله ما شآء الله ما كان من نعمة فمن الله

بسم الله ما شآء الله لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

الحمد لله الشكر باللسان الشكر بالجنان الشكر بالأركان

اللهم صل على سيدنا محمدنالفاتح لما أغلق و الخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادى الى صراطك المستقيم

وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم ~ أما بعد

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada paling utamanya para nabi dan para utusan. Yaitu, baginda Nabi Muhammad saw. dan atas keluarganya, serta para sahabatnya.
Amma badu:
Kami memuji kepada Allah Yang Maha Suci dan Maha Luhur atas segala nikmat-Nya. Bersyukur dengan lisan, bersyukur dengan perasaan, serta bersyukur dengan perbuatan atas nikmat-Nya dapat meneladani dan mengikuti baginda Nabi Muhammad saw. dan atas nikmat-Nya terbuka pintu taufik dan hidayah, pertolongan, serta perlindungan.
Sahabat-sahabat para alumni…
Pada masa ini, masa-masa di mana terdapat berbagai macam fitnah, musibah yang sedemikian besar, serta keadaan yang berat yang menimpa umat Islam dengan adanya ancaman perpecahan dan perselisihan. Juga, adanya gambaran penyimpangan untuk menodai Islam dengan praktik yang keluar dari jiwa Islam itu sendiri dan dari sisi kemanusiaan. Fitnah-fitnah yang terus dikembangkan guna memperjuangkan ambisi kelompok-kelompok tertentu. Untuk itu, dalam kesempatan Musyawarah Besar Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Mubes IKSASS, Ed) kali ini, saya mengimbau kepada keluarga besar alumni untuk:

  1. Senantiasa Menjaga Kebersamaan

Perbedaan dalam kehidupan umat manusia adalah sunatullah yang tidak bisa dihindari. Perbedaan itu adalah rahmat. Allah sengaja menciptakan manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Sebagaimana Allah berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud: 118)

Tentu perbedaan yang Allah kehendaki bukanlah untuk saling membenci dan memaki, serta bukan untuk saling melemahkan dan memengaruhi. Namun, jadikan perbedaan itu untuk saling melengkapi dan mengasihi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Demikian pula, Allah ciptakan manusia dengan keahlian dan kepandaian yang berbeda-beda pula. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Sebagaimana firman Allah:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan, rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. al-Zukhruf: 32).

Kepada para alumni; pertama, saya berharap perbedaan status sosial jangan dijadikan alasan untuk memutus tali silaturahim antarsesama alumni. Kiai As’ad pernah ber-dawuh di hadapan para santri dan pengurus pesantren, bahwa santri saya adalah anak saya. Jika memahami konteks kalimat tersebut, maka secara umum siapa pun yang merasa santri Kiai As’ad, siapa pun yang merasa santri Salafiyah Syafi’iyah, mereka semua adalah bersaudara. Maka, sewajarnya para alumni berada dalam satu barisan dan bersatu dalam persaudaraan. Hal penting yang selalu dititipkan kepada para alumni oleh almarhum Kiai Fawaid adalah alumni harus solid dan kompak. Jangan sampai terjadi perpecahan, apalagi permusuhan. Bila perlu, para alumni yang sudah lebih dahulu diberkahi kemapanan dapat memberdayakan saudara sesama alumni lainnya yang masih memerlukan rangkulan tangan, baik dalam hal keagamaan, perekonomian, maupun dalam hal-hal lainnya.
Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ اْلجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ اْلجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَ اْلحُمَّى

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling belas kasih, dan saling cinta itu bagaikan satu jasad (tubuh). Apabila salah satu anggota tubuh ada yang mengeluh, maka seluruh anggota (tubuh) yang lain gelisah dan demam panas.” (HR. Bukhari).

Kedua, jangan jadikan background pesantren sebagai pembenaran fanatisme yang cenderung menyalahkan ataupun menyerang kelompok lain, utamanya bagi saudara sesama muslim. Sikap toleran menjadi sangat penting dalam kehidupan yang sarat dengan perbedaan. Toleransi dalam bermasyarakat tidak hanya berdimensi sosiologis, melainkan toleran juga merupakan manifestasi teologis sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah. Sebagai bangsa yang majemuk, mustahil Indonesia akan berdiri tegak, damai, adil, dan makmur tanpa sikap toleran yang harus dicerminkan oleh semua pihak.
Rasulullah saw. bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ

Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah saw. ‘agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?, maka beliau bersabda: yang lurus lagi toleran.” (HR. Bukhori).

  1. Menyikapi Tahun Politik

Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahun politik, di mana terdapat 171 daerah akan melaksanakan pemilihan umum kepala daerah secara serentak, dan akan terus berkelanjutan hingga tahun 2019 (tahun ini, Ed) menghadapi pemilu legislatif dan pemilu pemilihan presiden. Momentum ini tentu sangat berpotensi untuk melahirkan konflik, baik vertikal maupun horizontal, besar ataupun kecil, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pilihan dan perbedaan kendaraan politik. Keterlibatan dalam konflik akibat pengaruh politik adalah wujud ketidakdewasaan dalam berpolitik. Untuk itu, Kiai As’ad pernah menyampaikan kepada para santri, pelajari ilmu politik. Ilmu politik bukan hanya menjadi bekal bagi mereka yang hendak menjadi politisi. Keinginan Kiai As’ad agar santrinya mempelajari ilmu politik supaya mereka melek politik, tidak mudah dibodohi dalam berpolitik, tidak mudah terhasut, dan tidak mudah diadu domba. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Kiai As’ad, Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani berpesan, jangan terlibat dalam politik, tetapi jangan bodoh tentang politik.
Terkait pemilihan kepala daerah, ajaran agama Islam cukup lengkap memberikan tuntunan menentukan kriteria calon pemimpin. Minimal memiliki sifat ketakwaan, kejujuran, amanah, fathanah, tabligh (aktif dan partisipatif), dan memperjuangkan kepentingan yang dilandasi oleh khidmah (pelayanan kepada masyarakat).
Rasulullah saw. bersabda:

سَيِّدُ اْلقَوْمِ خَادِمُهُمْ

Pemimpin suatu kaum adalah pelayannya.”

Islam tidak menghendaki adanya praktik politik yang menciptakan kerusakan dan permusuhan, serta dengan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi kekuasaan semata.
Allah swt. berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوآ أَرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22).
Tafsir Imam Abu al-‘Aliyyah, al-Kalby, dan Ka’ab al-Ahbar menjelaskan bahwa merebut kekuasaan dapat berdampak pada dua hal negatif, yakni berbuat kerusakan di bumi dan memecah belah antarsaudara muslim.
Sehingga, Tim Sukses harus memenangkan dengan segala cara, lebih-lebih dengan politik uang (money politic). Dari sini sangat mungkin dapat terlihat perbedaan yang sangat mencolok bagi calon pemimpin yang dalam kepemimpinannya disebut oleh Rasulullah saw. كلفت عليه atau أعنت عليه .
Fakta di lapangan cukup menjadi tolok ukur kita menilai:

مَا بَيْنَ كَانَتِ اْلإِمَارَةُ لِلْخِدْمَةِ أَوِ التَّوْلِيِّ

Karena itulah bagi para alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo cukuplah menjadi pemerhati politik kekuasaan, dan jangan menjadi bancakan politik kekuasaan lima tahunan hanya karena di balik kita terdapat umat yang diperebutkan suaranya. Sangat disayangkan jika kita menjadi korban hanya karena perbedaan dukungan, sehingga menjadi saling bermusuhan yang dapat menjadi hijab (penutup) pada hati kita.
Allah swt. berfirman:

وَاعْلَمُوآ أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 24).

Hal lain yang tidak kalah penting dalam memberikan dukungan politik adalah kita mendukung siapa sementara teman politiknya siapa. Dampak shuhbah (pertemanan, Ed) ini memberikan pengaruh yang sangat kuat.

عَنِ اْلمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ وَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالمُقَارَنِ يَقْتَدِى

Jangan bertanya tentang jati diri seseorang, bertanyalah tentang siapa temannya. Karena setiap teman mengikuti pada temannya.”

Tidak berlebihan kiranya jika praktik politik uang (money politic) bukan saja mencederai cita-cita demokrasi, lebih dari itu dalam pandangan Islam juga merusak tatanan akidah yang telah tertanam kuat. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin menulis bahwasanya agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar. Agama sebagai pondasinya dan kekuasaan sebagai penjaganya. Segala sesuatu yang tanpa pondasi akan runtuh dan segala sesuatu yang tanpa penjaga akan hilang. Prinsip berpolitik yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Fawaid As’ad, “jangan sampai menggadaikan, apalagi memperjualbelikan akidah dengan uang.  Jika ingin berjuang, berjuanglah sungguh-sungguh. Jangan terlintas pamrih sedikit pun.”
Tentukan pilihan berdasarkan tuntunan agama dan kehendak hati nurani. Jangan sampai golput (abstein), namun jangan pula asal memilih. Karena setiap pilihan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. kelak. Apakah membawa pada kebaikan atau justru membawa pada keburukan. Dalam sebuah hadis diriwayatkan:

عَنْ وَابِصَةَ ابْنِ مَعْبَدٍ الأَسَدِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِوَابِصَةَ: جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ اْلبِرِّ وَ اْلإِثْمِ؟ قَالَ: قُلْتُ نَعَمْ. فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ فَضَرَبَ بِهَا صَدْرَهُ وَقَالَ: اسْتَفْتِ نَفْسَكَ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ ثَلَاثًا. البِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَ اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ اْلقَلْبُ. وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَ إِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَ أَفْتَوْكَ.

Dari Wabishah ibn Ma’bad al-Asady, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepada Wabishah: Apakah engkau datang untuk menanyakan tentang kebaikan dan dosa? Wabishah berkata: Aku menjawab, iya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari jemarinya dan memukulkannya ke dada Wabishah sambil bersabda: Tanyakan kepada dirimu, tanyakan kepada hatimu, wahai Wabishah. Beliau mengatakannya hingga tiga kali. Kebaikan  adalah  apa  yang  membuat  jiwa  tenang  dan  membuat  hati tenang, sedangkan dosa adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa dan membuat hati ragu, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu.” (HR. Muslim).

Mintalah fatwa kepada nafsu muthma’innah yang telah mendapatkan anugerah cahaya Ilahi guna membedakan antara yang haq dan yang bathil, serta antara kejujuran dan kebohongan.
Sahabat-sahabat para alumni…
Pemilihan umum sejatinya hanyalah bagian kecil dari upaya mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya. Politik praktis hanyalah sarana penyampaian aspirasi masyarakat, sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara yang konsepnya masih khilafiyyah. Oleh karenanya, jangan menghabiskan segala energi hanya untuk kepentingan lima tahunan, terlebih yang masih dalam konteks khilafiyyah ini. Berikhtiar memilih pemimpin jangan sampai pahala ijtihadnya terkikis oleh fitnah (berita hoaks) dan namimah (provokasi). Jangan mengadu urat saraf hanya karena berbeda pilihan. Wujudkan kedewasaan dalam berpolitik yang lebih menitikberatkan pada politik kerakyatan dan politik kebangsaan. Menjaga persaudaraan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sebagai amanat yang Allah titipkan kepada kita, umat Islam di negeri ini. Negeri yang diberkahi oleh perjuangan para wali Allah. Negeri yang diimpikan sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk terbaik dalam kebersamaan kita. Membersihkan perkataaan dan perbuatan dari segala kesalahan kita. Menjauhkan segala anasir-anasir yang dapat merusak persaudaraan kita. Karena sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya dan Yang berhak mengabulkan segala doa hamba-Nya.

وفى الختام أوصيكم وأسأل الله لكم بما أوصى وأسأل به مشايخنا فى توصيتهم أوصيكم ونفسى بتقوى الله فى السر والعلن وأسأل الله سبحانه وتعالى أن يوفقنا وإياكم لمايحبه ويرضيه وأن يفتح علينا جميعا فتوح العارفين به وأن يحفظنا جميعا فى أنفسنا وأهلينا وإخواننا وأن يبارك عملكم هذا ويجعله خالصا لوجهه الكريم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *