Pilihlah Laki-Laki Karena Agama-nya

Oleh : Imam Nakha’i
(Komnas Perempuan dan Dosen Ma’had Aly Situbondo)

 

Masih saja terdengar beberapa ceramah di telivisi yg menurut hemat saya tidak tepat memahami sebagian hadist Nabi. Antara lain hadist:

(تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه مسلم

Hadist ini sering diartikan “kawinilah” perempuan karena empat hal: harta, keturunan, kecantikan dan agama, maka pilihlah yg beragama….(HR. Muslim)

Lalu disimpulkan bahwa perempuan itu dikawini karena empat hal, dan yang paling utama adalah pertimbangan agama.

Terjemahan dan kesimpulan ini kurang tepat, karena dua hal:

Pertama, lafad “Tunkahu” tidak bisa diterjemah “kawinilah”, karena ia bukan lafad perintah (fi’il amar), melainkan ia kata kerja (fi’il mudhari’) mabni majhul yang secara gramatikal bahasa arab berarti “dikawini”.

Apa bedanya kata kawinilah dan dikawini. Jika “kawinilah” berarti perintah untuk mengawini perempuan karena empat hal itu. Sedangkan “dikawini” berarti menginformasikan renomena yg terjadi, yaitu fakta perempuan dikawini karena empat hal itu.

Nabi tidak dalam konteks menyuruh mengawini perempuan karena empat hal itu, melainkan sedang melihat tradisi jahilayah yg memperlakukan perempuan seperti itu dan Nabi ingin merubah tradisi jahiliyah itu. Seakan akan Nabi ingin mengatakan “ee… kalian kalau menikah jangan begitu, mengawini karena harta, nasab, dan kecantikan, sementara agama diletakkan diurutan ke empat, tetapi pilihlah perempuan karena agamanya”.

Nabi berhenti di kata kata “pilihlah karena agamanya” bukan karena lainnya. Sebab, kalau Nabi melanjutkan dengan “baru setelah itu karena harta, keturunan dan cantik ” maka berarti Nabi melakukan sesuatu diskriminasi kepada perempuan yg miskin, rendahan, dan buruk rupa.

Saya yakin Nabi tidak akan melakukan itu. Sebab beliau Manusia Agung, manusia pilihan.

Kedua, disamping kesalahan terjemah yg mengakibatkan kesalahan menyimpulkan, hadist ini juga sering dipahami perspektif laki-laki. Sehingga perempuan selalu menjadi obyek yg dipilih bukan sebagai subyek yang memilih. Padahal dalam teori usul fiqih ada yg disebut dengan teori taglīb yang bisa berarti firman yang diperuntukkan kepada laki-laki juga berlaku bagi perempuan. Jika menggunakan teori ini, maka hadist itu bisa bermakna “pilihlah perempuan karena agamanya dan di saat yg sama pilihlah laki-laki karena agamanya”. Teori ini yg antara lain menginspirasi mas Faqih Abdul Kodir untuk melahirkan teori yang keren, yaitu Qira’ah Mubadalah yang menytakan: “Sesuatu yang maslahah bagi salah satu jenis kelamin harus dihadirkan untuk keduanya, dan sesuatu yg madharat bagi salah satunya harus dijauhkan pula dari keduanya”

Memang pembacaan yang tepat terhadap teks, apalagi teks yg lahir dari manusia agung, perlu memperhatikan ketelitian bahasa, disamping tentu saja “ruh dan spirit” teks untuk menangkap pesan utamanya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *