PPWK 2019; Ngaji isu-isu Kontemporer hingga Media Online (Part 2-habis)

Setelah selesai pemaparan materi yang menjadi alat dasar dan merupakan tradisi pesantren, kegiatan PPWK ini dilanjutkan dengan membahas isu-isu kontemporer yang terjadi di tengah masyarakat. Tujuan pembahasan materi-materi ini adalah untuk menambah wawasan para peserta dan menyiapkan mereka dalam menghadapi masalah-masalah tersebut.

Materi pertama mengenai kesetaraan gender yang dipaparkan oleh bapak Marzuki Wahid. Sekretaris Lakpesdam ini menjelaskan bahwa gender menjadi suatu masalah apabila menimbulkan ketidakadilan, seperti terjadi kekerasan, stereotip (pelabelan negatif), beban ganda, subordinasi (penomor-duaan), dan marginalisasi (pemikiran). Ia menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan keadilan, kemudian apabila terdapat teks turats yang seolah-olah tidak adil, sebenarnya itu hanyalah kesalahan dari pemahaman kita. Setelah memaparkan materi dengan sangat menarik, beliau membentuk forum diskusi kelompok antar peserta dengan membahas contoh-contoh  nyata mengenai ketidakadilan gender.

Materi kedua mengenai Good Governer dan Pencegahan Korupsi dipaparkan oleh pihak KPK, Romi Imam Sulaiman dan M. Rofi Harianto. Keduanya mengenalkan KPK dan tugas-tugasnya. Pemateri mengatakan bahwa korupsi merupakan salah satu kejahatan yang paling kejam di dunia. Tindakan korupsi memanglah tindakan yang cerdas namun tidak integritas. Saking cerdasnya koruptor, para korban tidak menyadari bahwa mereka adalah korban dari tindakan korupsi. Di akhir materi, pemateri menyimpulkan bahwa sebenarnya ujung tombak yang paling berpengaruh untuk memberantas korupsi adalah sektor pendidikan.

Pada sesi selanjutnya, Bapak Roy Murtadlo memberikan materi mengenai Kerusakan Alam dan Krisis Ekonomi. Koordinator FNUKSA tersebut mengatakan bahwa pada saat ini, banyak terjadi disparitas (kesenjangan) antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Disparsitas tersebut melekat pada kasus lingkungan, seperti polusi udara yang terjadi di Jakarta. Alumni PP. Tebuireng Jombang ini mengatakan bahwa hanya manusialah yang bisa mereflesikan dirinya dan bisa mengubah bentang alam. Pengubahan ini akan merugikan apabila hidup pada lingkungan kapitalis. Dengan tegas, ia mengatakan bahwa selama sistem kapitalisme masih berjalan, Indonesia tidak akan pernah sejahtera.

Isu yang dibahas berikutnya adalah mengenai Biopolitik dan Radikalisme yang dipaparkan oleh Dr. Solahudin. Dengan semangat, beliau memaparkan kasus-kasus radikalisme yang terjadi di Indonesia. Proses radikalisasi ini berlangsung begitu pesat melalui media sosial. Puncak dari radikalisasi adalah teror. Ia menyimpulkan bahwa dari banyaknya teroris yang tertangkap, tidak ada satu-pun teroris yang merupakan lulusan Pondok Pesantren tradisionalis. Hal ini dikarenakan tradisi keagamaannya khas dan terbiasa dengan nalar fikih yang kritis. Daya terkuat yang bisa mencegah terorisme adalah dengan cara memperkuat nalar kritis dan menyebarkan tradisi keagaamaan NU. Dengan tegas ia mengatakan, “Sadarlah! Anak NU harus bisa menguasai media publik speaking! Jangan kalah dengan mereka yang radikal!”

Materi selanjutnya mengenai Literasi Digital yang disampaikan oleh Bapak Mahbib Khoiron. Redaktur pelaksanaan NU Online ini memperkenalkan peserta mengenai macam-macam ujaran kebencian dan strategi untuk menanggapinya. Di samping itu, ia juga membentuk forum diskusi kelompok untuk membuat konten yang singkat namun menarik. Selanjutnya, hasil karya yang dibuat masing-masing kelompok ditampilkan dan dikomentari bersama.

Materi berikutnya adalah keorganisasian yang diampu oleh Habib Iftah Siddiq. Berbeda dengan cara penyampaian materi-materi sebelumnya, materi ini dilaksanakan dengan pengelompokan peserta dalam beberapa forum diskusi. Masing-masing kelompok diberi tugas menggambar sesuatu yang mencerminkan mimpi dari setiap anggota kelompok. Tanpa disadari, peserta sebenarnya sudah belajar cara berorganisasi dengan menyatukan dan menyepakati semua pendapat ke dalam satu gambar. Selanjutnya, pemateri memberikan motivasi mengenai betapa pentingnya mempunyai mimpi, menuliskannya dan berusaha mewujudkannya. Ia juga mengatakan “Saat merasa lelah, tutuplah mata kalian agar kalian tidak melihatnya. Bayangkan saja mimpi-mimpi kalian! Tidakkah kalian ingin mewujudkannya?”

Setelah membahas semua isu-isu kontenporer yang terjadi, acara PPWK-pun ditutup. Penutupan acara ini diisi dengan pelantikan para peserta menjadi kader ulama muda NU. Semua peserta diberi kebebasan dalam mengikuti pelantikan ini, mereka boleh mengikutinya atau tidak. Setelah semua peserta bersedia, mereka dibimbing untuk mengucapkan baiat. Dengan berakhirnya pelantikan tersebut, acara PPWK yang dilaksanakan selama empat hari itu pun berakhir. Para panitia mengingatkan bahwa semua peserta harus menjaga komunikasi dan membangun relasi dengan peserta lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengeratkan ukhuwah antar peserta.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *